KABARIKA.ID, JAKARTA– Ketua Umum Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Andi Amran Sulaiman menyatakan Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) memiliki peran strategis dalam mengambil bagian dalam pembangunan bangsa. Sebagai wadah perempuan perantau Sulawesi Selatan, IWSS tidak hanya menjadi tempat berhimpun, tetapi juga ruang pengabdian untuk melahirkan perempuan yang mandiri, berdaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Ketua Umum KKSS menyampaikan pesan tersebut dalam Musyawarah Nasional (Munas) IWSS ke-9 sekaligus perayaan HUT ke-49 IWSS yang berlangsung di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Kegiatan ini dihadiri pengurus dan anggota IWSS dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk perwakilan dari luar negeri. Tampak Ketua PP IWSS Andi Nurhiyari, Sekjen Andi Sri Awan Asri Andi Aswan, Bendara Umum Mastuti Betta serta Wakil Ketua Eptati Kamaruddin. Tampak sejumlah mantan Ketua PP IWSS Salmah Gosse Rivai, dan Nurwasih Azis.
Ketua Umum KKSS, Andi Amran Sulaiman, yang membuka kegiatan tersebut, memberikan apresiasi terhadap perjalanan dan kiprah IWSS. Ia menilai IWSS telah berada di jalan yang benar dalam menjalankan peran organisasi dan pengabdiannya. Karena itu, semangat kebersamaan dan kontribusi nyata harus terus dipelihara.
Amran mengingatkan bahwa perubahan nasib tidak datang dengan sendirinya. Setiap orang harus memiliki kemauan untuk mengubah keadaan melalui kerja keras, keberanian, dan kemandirian. Pesan ini juga relevan bagi perempuan IWSS agar terus meningkatkan kapasitas diri, memperkuat organisasi, serta mengambil peran lebih luas dalam kehidupan sosial dan pembangunan.
Ia mengajak keluarga besar IWSS untuk mendukung cita-cita besar Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat dalam pangan dan energi.
Dalam sambutannya, Amran memaparkan berbagai capaian sektor pertanian, terutama peningkatan kesejahteraan petani melalui upaya mewujudkan swasembada pangan. Ia juga menyinggung penghargaan dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) sebagai pengakuan atas kemajuan Indonesia di bidang pertanian.
Menurutnya, perjuangan menuju kemandirian pangan tidak selalu mudah karena berhadapan dengan kepentingan para importir dan mafia pangan. Kebijakan menghentikan impor sejumlah komoditas telah mengubah peta kepentingan ekonomi yang selama ini menikmati keuntungan besar dari perdagangan impor.
Di bidang energi, Amran juga menyoroti potensi kelapa sawit sebagai sumber energi masa depan. Sawit yang selama ini dapat diolah menjadi solar, menurutnya, memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh menjadi bensin. Potensi tersebut menjadi bagian dari mimpi besar Indonesia untuk tidak bergantung pada negara lain dalam memenuhi kebutuhan energi.
Dalam konteks perjuangan itu, Amran mengajak perempuan IWSS untuk turut menanamkan semangat keberanian, integritas, dan keteguhan prinsip. Ia mengutip filosofi yang mencerminkan keteguhan orang Bugis dalam menjalankan kebenaran. Prinsipnya, ketika seseorang berada di jalan yang benar, jangan pernah takut atau mundur.
Ia juga menegaskan pentingnya keberanian melawan korupsi dan mafia yang menghambat kemajuan bangsa. “Takut pada Tuhan,” menjadi pesan moral yang disampaikannya kepada seluruh keluarga besar IWSS.
Amran menyampaikan terima kasih atas dukungan IWSS terhadap perjuangan mewujudkan Indonesia yang berdaulat. Dukungan perempuan, menurut semangat sambutannya, merupakan kekuatan penting dalam membangun keluarga, masyarakat, organisasi, dan bangsa.
Memasuki usia ke-49, IWSS diharapkan semakin memperkuat konsolidasi organisasi, memperluas jaringan hingga mancanegara, serta meningkatkan kontribusi sosial dan pemberdayaan perempuan. Kehadiran anggota dari berbagai wilayah Indonesia dan luar negeri dalam Munas kali ini menunjukkan bahwa ikatan persaudaraan perempuan Sulawesi Selatan tetap terpelihara melampaui batas geografis.
Dari jajaran BPP KKSS hadir Ketua Harian Andi Muhammad Syakir, Ketua Dewan Pakar Jafar Hafsah, dan Wakil Ketua Umum Andi Jamaro Dulung dan Chaerul Amir, Nurwayah, Andi Yuliani Paris dan Andi Nurpati.
Munas ke-9 menjadi momentum penting bagi IWSS untuk melakukan evaluasi, merumuskan arah organisasi, sekaligus mempertegas komitmen pengabdian ke depan.
“Munas IWSS ini penting untuk menakhodai IWSS dalam lima tahun ke depan,” pungkas Andi Nurhiyari. (Lif)

