KABARIKA.ID, MAKASSAR — Berbagai reaksi positif dan pujian datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) atas penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian kepada Navanethem Navi Pillay.
Kantor HAM PBB: Juru bicara kantor Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, Shabia Mantoo, mengatakan kepada bahwa kantor mereka sangat gembira mendengar keputusan tersebut. Mantoo menyatakan bahwa Pillay adalah sosok yang gigih membela dan memperjuangkan HAM, dan penting untuk melihat penghargaan ini diberikan kepada mereka yang berani bersuara mengenai pelanggaran.
Kepala HAM PBB: Volker Türk, penerus Pillay dalam jabatan Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia, mengatakan bahwa penghargaan yang diterima Pillay merupakan kemenangan bersama bagi HAM, sekaligus bagi upaya penegakan keadilan dan akuntabilitas di dunia ini.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC): Presiden ICC, Hakim Tomoko Akane, mengatakan bahwa penghargaan perdamaian tahun 2026 ini merupakan pengakuan penting atas peran vital keadilan internasional sebagai landasan bagi perdamaian yang langgeng.
Peace Research Institute Oslo (PRIO): Direktur pelaksana PRIO, Haakon Gjerløw menyatakan bahwa penghargaan perdamaian bagi Pillay menyampaikan pesan yang jelas bahwa perdamaian tidak hanya bergantung pada kepemimpinan politik, tetapi juga pada institusi internasional yang kuat dan kredibel, serta individu-individu pemberani yang mendedikasikan hidup mereka untuk membelanya.
Amnesty International: Organisasi HAM ini menyebut Pillay sebagai pilihan yang luar biasa dan inspiratif untuk penghargaan perdamaian tersebut. Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnes Callamard, menulis di platfom X: “Di saat hukum internasional dan keadilan sedang diserang, serta banyak negara berupaya melumpuhkannya, penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian ini datang pada saat yang sangat tepat.
Komite Nobel Norwegia: Hukum Internasional Sedang Diserang
Hukum internasional sedang “diserang,” kata Ketua Komite Nobel Norwegia
Setiap Penghargaan Nobel Perdamaian selalu membawa pesan kuat yang dibawa oleh prestise penghargaan ini.
Melalui penghargaan tahun ini, Komite Nobel Norwegia mengingatkan dunia bahwa hukum internasional sedang diserang.
“Supremasi hukum, baik di tingkat nasional maupun internasional, menjadi landasan bagi sistem yang telah kita bangun untuk menciptakan perdamaian dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan,” ujar Jørgen Watne Frydnes, Ketua Komite Nobel Norwegia pada hari Jumat (9/10/2026) saat mengumumkan penerima Nobel Perdamaian 2026.
Frydnes menambahkan, sistem hukum internasional tersebut sedang mengalami tekanan hebat, dan lembaga-lembaganya sedang diserang.
“Kita melihat adanya pergeseran ke arah politik kekuasaan yang mengabaikan kerangka hukum serta penghormatan global terhadap hukum dan keadilan. Ketika kekuatan mengalahkan kebenaran, hal itu merusak stabilitas, kepercayaan, dan kehidupan berdampingan secara damai,” tegas Frydnes.
Sejarah telah menunjukkan, lanjut Frydnes, bahwa dunia yang berjalan tanpa supremasi hukum adalah dunia yang tidak adil, tidak bijaksana, dan tidak manusiawi.
Oleh karena itu, para hakim (mereka yang menjaga garis batas tipis antara ketertiban dan kekacauan) sangat layak mendapatkan apresiasi kita.
“Namun saat ini, ketika para hakim tersebut justru dijatuhi sanksi dan lembaga mereka diserang, kita membutuhkan sosok-sosok yang memiliki keberanian, visi, dan tekad, kualitas-kualitas itu yang ditunjukkan oleh Navi Pillay dalam kiprahnya di kursi pengadilan,” tandas Frydnes. (rus)

