Site icon KABARIKA

Para Ibu Tentara Israel yang Berperang di Gaza, Berjuang di Semua Lini untuk Menghentikan Perang

KABARIKA.ID, MAKASSAR — Bagi mereka yang punya akal sehat dan hati nurani, tentu merasa terusik dan muak melihat tindakan genosida Israel di Palestina, yang menjadikan Gaza sebagai ladang pembantaian selama 22 bulan atau hari ke-652 per hari ini.

Bukan hanya pemimpin pemerintahan atau diplomat yang telah berani menyuarakan penentangannya terhadap perang Israel di Gaza yang dinilai tanpa tujuan, ibu-ibu dari para tentara Israel pun yang dikirim berperang di Gaza menuntut agar perang segera diakhiri.

Para ibu tentara tersebut tergabung dalam gerakan bernama “Mothers on the Front” atau ‘Ibu-Ibu di Garis Depan’.

“Kami para ibu tentara tidak tidur selama dua tahun,” kata Ayelet-Hashakhar Saidof, seorang pengacara yang merupakan pendiri gerakan Ibu-Ibu di Garis Depan di Israel.

Saidof (48 tahun) dengan tiga anak, termasuk seorang prajurit yang bertugas di angkatan darat Israel dan dikirim ke Gaza berperang, mengatakan gerakannya menyatukan sekitar 70.000 ibu dari pasukan tugas aktif, wajib militer, dan cadangan untuk menuntut, antara lain, penghentian pertempuran di Gaza.

Kecemasan Saidof dialami pula oleh ibu-ibu tentara lainnya, sebagaimana dilansir AFP. Para ibu yang tergabung dalam gerakan Ibu-Ibu di Garis Depan telah memfokuskan kembali hidup mereka untuk menghentikan perang.

Ayelet-Hashakhar Saidof, seorang pengacara dan pendiri gerakan “Mothers on the Front” atau ‘Ibu-Ibu di Garis Depan’ di Israel. (Foto: instagram @ayelet_hashachar)

Banyak warga Israel merasakan bahwa perang di Gaza telah mencapai titik puncaknya, bahkan ketika kesepakatan gencatan senjata masih sulit dicapai.

Selain mendesak diakhirinya pertempuran di Gaza, tuntutan utama Mothers on the Front adalah agar semua orang Israel bertugas di militer tubuh, seperti yang diamanatkan oleh hukum Israel.

Permintaan itu sangat mendesak saat ini, karena pengecualian wajib militer bagi kaum Yahudi ultra-Ortodoks telah menjadi isu yang memecah belah masyarakat Israel, sementara militer menghadapi kekurangan tenaga kerja dalam pertempuran selama 22 bulan melawan kelompok militan Hamas.

Saat perang di Gaza berlarut-larut, Saidof dan para anggota ‘Ibu-Ibu di Garis Depan’ semakin khawatir bahwa Israel akan menghadapi konsekuensi jangka panjang dari konflik tersebut.

“Kita melihat anak-anak muda prajurit berusia 20 tahun benar-benar tersesat, hancur, kelelahan, kembali dengan luka psikologis yang masyarakat tidak tahu cara mengobatinya,” ujar Saidof.

“Mereka adalah bom waktu yang terus berdetak di jalanan kita, rentan terhadap kekerasan, dan mudah meledak-ledak dalam amarah,” tandas Saidof.

Tiga prajurit Israel memeluk peti mati rekannya yang tewas di Gaza sambil menangis. Kelompok ibu-ibu dari “Mothers on the Front” atau ‘Ibu-Ibu di Garis Depan’ mengatakan perang belum mencapai tujuannya dan anak-anak mereka meninggal dalam prosesnya, karenanya mereka menuntut perang di Gaza diakhiri. (Foto: npr)

Menurut militer IDF, sebanyak 23 tentara Israel telah tewas di Gaza selama sebulan terakhir, dan lebih dari 450 orang prajurit tewas sejak dimulainya serangan darat pada Oktober 2023.

Saidof dan anggota organisasinya menuduh IDF mengabaikan nyawa para prajurit yang dikirim ke Gaza. Tuduhan Saidof dan ibu-ibu prajurit lainnya, bukannya tanpa alasan.

Pertempuran di darat sebagian besar sudah berakhir, kata Saidof, dan tentara kini terbunuh oleh bahan peledak rakitan dan kesalahan operasional.

“Jadi, mereka mau dikirim ke mana? Cuma buat jadi sasaran tembak?” tanya Saidof dengan nada getir.

Selama beberapa bulan terakhir, Saidof dan anggota organisasinya telah menjalankan kampanyenya di gedung parlemen Israel, dan juga turun di jalan-jalan.

Sambil membuka bagasi mobilnya, ia dengan bangga memamerkan setumpuk poster, plakat, dan megafon untuk protes.

“Tentara gugur sementara pemerintah berdiri,” bunyi salah satu poster yang ia bawa.

Ia menegaskan, kampanyenya tidak memiliki muatan politik.

“Para ibu tahun 2025 itu kuat. Kami tidak takut pada siapa pun, baik para jenderal, para rabi, maupun politisi,” ujar Saidof dengan nada menantang.

Kelompok Saidof bukan satu-satunya gerakan ibu-ibu yang menyerukan diakhirinya perang.

Di luar rumah kepala staf militer Eyal Zamir, empat perempuan berkumpul pada suatu pagi untuk menuntut perlindungan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.

“Kami di sini memohon agar dia melindungi nyawa putra-putra kami yang telah kami percayakan kepadanya,” kata Rotem-Sivan Hoffman, seorang dokter dan ibu dari dua tentara.

Hoffman menuntut pemerintah dan politisi Israel untuk bertanggung jawab atas keputusan militer dan tidak membiarkan politisi menggunakan nyawa anak-anak mereka yang dikirim ke Gaza untuk tujuan politik yang membahayakan mereka.

Hoffman adalah salah satu pemimpin gerakan Ima Era atau “Ibu yang Terbangun” yang motonya adalah: “Kita tidak punya anak untuk perang tanpa tujuan.”

“Selama berbulan-bulan ini, kami merasa perang ini seharusnya berakhir,” tandas Hoffman.

Setelah berbulan-bulan pertempuran dan kemajuan yang tidak diterjemahkan ke dalam proses diplomatik, tidak ada yang dilakukan untuk menghentikan perang, membawa kembali para sandera, menarik tentara dari Gaza, atau mencapai kesepakatan apa pun.

Di sampingnya berdiri Orit Wolkin, juga ibu dari seorang prajurit yang ditugaskan di garis depan, yang kecemasannya terlihat jelas.

“Kapan pun dia kembali dari pertempuran, tentu saja itu adalah sesuatu yang sangat saya nanti-nantikan, sesuatu yang membuat saya bahagia, tetapi hati saya menahan diri untuk tidak merasakan kegembiraan penuh karena saya tahu dia akan kembali ke garis depan,” kata Wolkin.

Pada pemakaman Yuli Faktor, seorang prajurit berusia 19 tahun yang tewas di Gaza sehari sebelumnya bersama dua rekannya, ibunya berdiri terisak-isak di depan peti jenazah putranya yang dibungkus bendera Israel.

Dia berbicara kepadanya dalam bahasa Rusia untuk terakhir kalinya sebelum pemakamannya.

“Aku ingin memelukmu. Aku merindukanmu. Maafkan aku, kumohon. Jagalah kami, di mana pun kau berada,” ucap Faktor.

Kelompok ibu-ibu prajurit Israel lainnya yang sering turun ke jalan untuk menuntut diakhirinya perang di Gaza, bernama The Mothers’ Cry atau “Tangisan Ibu”.

Kelompok yang terdiri dari para ibu dari tentara yang dikirim ke Gaza dan warga Israel lainnya yang peduli dan menyerukan diakhirinya perang di Gaza, didirikan oleh Michal Brody-Bareket.

Exit mobile version