KABARIKA.ID, DEPOK — Program penulisan ulang sejarah Indonesia yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) terus bergulir.
Editor Umum Penulisan Ulang Sejarah Nasional Indonesia, Singgih Tri Sulistiyono mengatakan penulisan ulang sejarah Indonesia yang progresnya sudah mencapai 80 persen, memuat pembaruan pengayaan fakta, metodologi, dan perspektif.
Ketiga pembaruan tersebut, kata Singgih, menjadikan penulisan ulang pada buku sejarah nasional Indonesia lebih inklusif dan kritis.
“Kita berharap ketiga hal ini menjadikan penulisan buku sejarah Indonesia sangat inklusif dan kritis dalam menghadapi disrupsi epistemik,” kata Singgih saat menjadi pembicara pada kegiatan “Diskusi Publik Draf Penulisan Buku Sejarah Indonesia”, Jumat (25/07/2025) yang diadakan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.
Menurut Singgih, riset-riset pada penulisan ulang sejarah nasional Indonesia menekankan pada tesis dan disertasi yang berakhir pada eskavasi arkeologis.
Salah satunya, pada temuan-temuan prasasti yang berlanjut kepada temuan studi ekografis.
Ia menambahkan, studi ekografis tersebut sangat membantu dalam penulisan ulang sejarah nasional Indonesia yang ditulis oleh para sejarawan.
Studi ini digunakan mengingat banyaknya disertasi dan tesis yang belum sempat terakomodasi dengan baik.
“Oleh sebab itu, dengan fakta-fakta baru ini dapat memperluas cakrawala historiografi secara tematis. Misalnya, sejarah perempuan dan lingkungan hidup,” ujar Singgih.
Ia menegaskan, penulisan ulang sejarah nasional Indonesia tidak hanya berpusat pada di wilayah Jawa dan Sumatera, namun juga di wilayah-wilayah lainnya di Indonesia.
Singgih menambahkan, pendekatan yang digunakan dalam penulisan ulang sejarah nasional Indonesia adalah konteks protologi yang mengacu pada studi protokol. Khususnya dalam konteks sejarah dan perkembangannya.
“Kita bisa menulis dari sejarah awal sampai kepada periode kontemporer yang terjadi dalam masyarakat Indonesia,” tandas Singgih.
Selain konteks protologi, lanjut Singgih, penulisan ulang sejarah nasional Indonesia juga menggunakan pendekatan yang bersifat sejarah sosial. Pendekatan ini mewakili suara-suara dari kelompok marginal.
Dalam mewujudkan hal itu, pihaknya mengupayakan agar kelompok marginal bisa diberikan ruang atau tempat pada penulisan ulang sejarah nasional Indonesia.
“Karena selama ini mungkin sumber-sumber sejarah mengenai Jawa, itu sangat banyak sehingga di luar itu, banyak perbedaan yang sumbernya kurang,” papar Singgih.
Terkait dengan penulisan sejarah nasional Indonesia secara tematik, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan, akan dimulai tahun depan.
Salah satu tema sejarah yang akan dibahas adalah perang mempertahankan kemerdekaan periode 1945-1949.
“Kami berencana pada tahun depan, akan melakukan penulisan sejarah yang lebih tematik. Misalnya, sejarah periode 1945-1949 dalam rangka perang mempertahankan kemerdekaan,” ujar Menbud Fadli Zon pada “Diskusi Publik Draf Penulisan Buku Sejarah Indonesia”, Jumat (25/07/2025) yang diadakan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.
Selain itu, lanjut Fadli Zon, sejarah tentang kerajaan yang pernah ada di Indonesia akan dibuat secara komprehensif. Di antaranya, Kerajaan Majapahit, Sriwijaya, dan Padjajaran. (*/mr)

