Site icon KABARIKA

Begini Tanggapan Wamendiktisaintek Stella Christie, Soal 13 Kampus Diragukan Integritas Penelitiannya

KABARIKA.ID, JAKARTA — Menanggapi laporan studi terkini soal integritas penelitian kampus-kampus di Indonesia yang meragukan, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menyatakan telah membaca mengakui masih banyak jurnal abal-abal di Indonesia akibat ekosistem penelitian yang belum ideal.

Seperti dilaporkan beberapa waktu lalu, bahwa sebuah metodologi pelacakan integritas penelitian terbaru memasukkan sebanyak 13 kampus di Indonesia ke dalam kategori diragukan.

Hasil itu dimuat dalam laporan Research Integrity Risk Index (RI2) yang dikembangkan Profesor Lokman Meho di American University of Beirut.

RI2 merupakan hasil riset yang mengukur proporsi jurnal yang telah ditarik dari publikasi ilmiah secara global. Indeks ini menjadi metrik gabungan pertama di dunia yang berbasis data empiris dan dirancang untuk memetakan tingkat risiko institusi terhadap integritas riset mereka.

Terkait hasil penelitian yang disebut abal-abal itu, Wamen Stella mengatakan itu bukan kesalahan individu.

“Tetapi yang ingin saya fokuskan, ini bukan kesalahan individu. Tidak ada orang-orang, tidak ada peneliti-peneliti atau dosen-dosen yang ingin memplagiat,” kata Stella di Jakarta, yang dikutip Jumat (22/08/2025).

Ia menambahkan, masih maraknya jurnal abal-abal di Indonesia adalah akibat ekosistem penelitian yang belum ideal.

Pasalnya, kampus-kampus umumnya masih mengejar kuantitas dalam penelitian, alih-alih kualitas.

Ia menegaskan, harus ada perubahan dalam ekosistem penelitian di Indonesia, yang tidak lagi mengejar kuantitas.

“Penelitian harus dilakukan berbasis kualitas. Perubahan paradigma itu akan sangat meminimalisasi potensi plagiat atau munculnya jurnal abal-abal dari institusi pendidikan,” kata Stella.

Wamen Stella menambahkan, saat ini pihaknya tengah merevisi Indikator Kinerja Utama (IKU) yang biasa diberikan kepada universitas.

Dalam revisi itu, Kemendikti bakal lebih menekankan soal kualitas penelitian dibanding kuantitas.

“Agar apa sih yang harus dimasukkan. Jadi bukan jumlahnya, tetapi kualitasnya,” tandas Stella.

Selain itu, pihaknya juga bakal mengurangi beban kerja dosen agar bisa menghasilkan penelitian yang berkualitas. Dukungan pendanaan untuk penelitian juga bakal ditambah.

“Ada tambahan dana riset Rp 1,8 triliun yang sudah kami dapatkan dari mitra kami LPDP, dan penting sekali kita juga memberikan insentif langsung bagi peneliti,” ujar Wamen Stella.

Stella berharap, berubahnya ekosistem itu dapat membuat kualitas penelitian yang dihasilkan makin baik.

Para peneliti juga bakal terdorong melakukan riset yang berkualitas karena bisa mendapatkan insentif langsung.

“Jadi, membuat ekosistem yang memberikan insentif bagi kualitas dan bukan kuantitas. Saya rasa itu ke depan akan mengurangi permasalahan tersebut,” ujar Wamen Kemendikti Stella.

Melalui berbagai upaya tersebut, Wamendiktisaintek berharap ekosistem riset di universitas Tanah Air dapat bertambah baik dan bisa membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. (*/mr)

Exit mobile version