KABARIKA.ID, MAKASSAR — Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional I tahun 2025 akan dilaksanakan di Pondok Pesantren As’adiyah, Sengkang, Kabupaten Wajo, dari 1-7 Oktober 2024.
Pada saat dan tempat yang sama, juga berlangsung MQK Nasional ke-8. Jika MQK Internasional diikuti oleh perguruan tinggi Islam/Islamic center/Islamic community dari negara-negara Asia Tenggara, maka MQK Nasional diikuti oleh santri pondok pesantren dari seluruh Indonesia.
Lima hari menjelang pembukaan, data dari panitia di Pesantren As’adiyah Sengkang menyebutkan bahwa 10 negara Asia Tenggara telah mengonfirmasi untuk ikut dan mengirim utusan.
Negara-negara Asia Tenggara tersebut adalah:
1. Indonesia (sebagai tuan rumah)
2. Brunei Darussalam,
3. Filipina,
4. Kamboja,
5. Malaysia,
6. Myanmar,
7. Timor Leste,
8. Thailand,
9. Vietanam, dan
10. Singapura.
Para peserta internasional mengikuti cabang lomba, yaitu Fiqih dan Tafsir. Dari 10 negara Asia Tenggara tersebut, ada tiga negara yang tidak mengirim kafilah dan hanya mengirim peninjau (observer), yaitu Filipina, Thailand, dan Singapura.
MQK Internasional I tahun 2025 ini dimaksudkan sebagai ajang kompetisi/musabaqah kemampuan santri dari seluruh Indonesai dan negara di Asia Tenggara dalam hal membaca, memahami, dan mengungkapkan kandungan kitab kuning secara komprehensif.
Menteri Agama (Menag) Anregurutta Prof. Nasaruddin Umar mengatakan bahwa MQK Internasional I ini bukan sekadar perlombaan membaca kitab kuning, namun merupakan ruang penguatan nilai-nilai keilmuan pesantren yang menekankan kedalaman pemahaman, kontemplasi, dan spiritualitas.
Nasaruddin menegaskan, MQK Internasional bukan tentang siapa yang paling fasih berbahasa Arab, tetapi tentang kemampuan berdialog dan menjiwai isi teks-teks klasik keislaman.
Selain itu, kegiatan besar ini juga bertujuan untuk memotivasi dan meningkatkan kemampuan santri dalam melakukan kajian dan pendalaman ilmu-ilmu agama Islam yang bersumber dari kitab kuning sebagai bagian dari proses kaderisasi ulama dan tokoh masyarakat di masa depan.
Kegiatan ini juga menjadi sarana terjalinnya silaturahmi antarpondok pesantren di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara, dalam rangka mewujudkan persatuan Islam di Indonesia dan Asia Tenggara.
Sementara itu, Direktur Pesantren pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag), Gurutta Dr. H. Basnang Said, S.Ag, M.Ag mengatakan bahwa MQK Internasional I 2025 akan mengadopsi format lomba yang lebih inklusif dan inovatif, dengan kategori baru serta pendekatan digital yang mempermudah partisipasi pesantren dari luar negeri.
Basnang menambahkan, kegiatan ini juga menjadi ajang konsolidasi antarunit di lingkungan Kemenag, dengan agenda yang tersusun sistematis dan melibatkan seluruh elemen pendukung dari pusat hingga daerah.
MQK Internasional I tahun 2025 juga akan diramaikan dengan tujuh kegiatan pendukung, yaitu halaqah ulama internasional, expo kemandirian pesantren, Macanang bershalawat, perkemahan pramuka santri nusantara, fajr inspiration, night inspiration, dan pesantren hijau.
MQK Nasional
Panitia memprediksi MQK Nasional akan diikuti sebanyak 1.359 yang terdiri darti 574 peserta untuk kategori marhalah (ula, wustha, ulya), dan 665 peserta dari kategori debat dan lalaran.
Menurut data terakini dari panitia, hingga saat ini sebanyak 34 provinsi, termasuk Sulsel sebagai tuan rumah, telah memastikan untuk mengirim kafilah dalam MQK Nasional.
Jumlah peserta dari 34 provinsi tersebut sebanyak 674 orang. Jika digabung dengan pembina, panitia dan VIP, jumlahnya sebanyak 1.409 orang.
Beberapa cabang yang akan diperlombakan, yakni debat bahasa Arab dan Inggris, hifdzul mutun, risalah ilmiyyah, bathsul kutub, tarkib digital, serta ekshibisi lalaran Alfiyah Ibnu Malik.
MQK Nasional ke-8 dan MQK Internasional I tahun 2025 mengangkat tema, “Dari Pesantren untuk Dunia: Merawat Lingkungan dan Menebar Perdamaian dengan Kitab Turats”. (rus)

