KABARIKA.ID, MACANANG — Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional I dan MQK Nasional ke-8, resmi dibuka oleh Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar.
Pembukaan dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Sudirman Sulaiman, Bupati Wajo, H. Andi Rosman, S.Sos, MM, Bupati Maros Chaidir Syam, Sekjen Kemenag Prof H. Kamaruddin Amin, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, para Kakanwil Kemenag Seluruh Indonesia, Kamis (2/10/2025) di Kampus III Pondok Pesantren As’adiyah Macanang, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulsel.
Menag dalam sambutannya mengatakan bahwa MQK bukan sekadar lomba untuk menunjukkan kemampuan membaca kitab kuning atau turats, tetapi lebih dari itu MQK merupakan lomba yang menunjukkan kemampuan memahami isi kitab kuning.
Selain itu, MQK juga merupakan salah satu ikhtiar untuk merawat kitab kuning dan melestarikan kajian kitab kuning di pesantren.
Kitab kuning adalah sebuah tradisi hidup, yang menjadi ciri khas khazanah pendidikan Islam, bil khusus institusi pesantren, di Indonesia.
Pesantren merupakan satu kekuatan tersendiri di Indonesia yang berperan dalam pembangunan karakter bangsa.
Di Indonesia saat ini, menurut Menag, ada 42.369 pondok pesantren dengan jumlah santri sebanyak 9,8 juta orang.
Khazanah intelektual Islam yang terhimpun dalam literarur klasik kitab turats menyimpan berbagai pengetahuan dan gagasan dari para ulama.
Pensantren yang benar, menurut Menag, adalah pesantren yang mengajarkan Islam moderat, tidak bermusuhan dengan kelompok-kelompok lain atau pemerintah.
Oleh karena itu, sebagai ketua umum pengurus pusat As’adiyah Prof Nasaruddin mengingatkan para santri pondok pesantren As’adiyah yang kini menjadi tuan rumah MQK Internasional I, bahwa tidak terlalu penting penampilan, tetspi yang lebih penting adalah isi pikirannya.
“Pondok pesantren As’adiyah akan memgembangakan Islam dengan meniru ulama besar Jamaluddin Al Akbar, yang tidak pernah memusuhi pemerintah dan tidak pernah bermusuhan dengan siapapun,” ujar Nasaruddin.
Ide dan pemikiran ulama tersebut bahkan masih sangat relevan dengan isu-isu kekinian. Ketika muncul persoalan-persoalan lingkungan sebagai akibat dari perbuatan manusia, gerakan kesadaran ekologis mulai digaungkan berbagai pihak.
Terkait dengan menyelamatkan lingkungan alam itulah sehingga MQK Internasional ini mengambil tema, “Dari Pesantren untuk Dunia: Merawat Lingkungan dan Menebar Perdamaian Lewat Kitab Turats”.
Menag mengingatkan bahwa memelihara lingkungan merupakan perintah agama Islam. Manusia dan alam adalah saudara kembar yang sama-sama ciptaan Allah.
Dari pemikiran inilah yang melahirkan konsep ekoteologi yang salah satu implementasinya adalah menanam dan memelihara pohon.
Bahkan perubahan iklim yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan, justru menyebabkan kematian sebanyak empat juga orang pertahun.
Jumlah tersebut lebih banyak dari jumlah orang yang meninggal akibat perang di Ukraina dan Gaza dalam satu tahun.
Peserta MQK Internasional seluruhnya berasal dari negara-negara Asia Tenggara, selain Indonesia sebagai tuan rumah, yaitu:
1. Brunei Darussalam,
2. Filipina,
3. Kamboja,
4. Malaysia,
5. Myanmar,
6. Timor Leste,
7. Thailand,
8. Vietanam, dan
9. Singapura. (rus)

