KABARIKA.ID, SENGKANG — Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional pertama dan MQK Nasional ke-8 yang digelar di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel), menjadi panggung pembuktian kemampuan berbagai bidang ilmu dan keterampilan yang dimiliki oleh anak-anak muda bangsa yang masih berstatus santri.
Salah satu cabang lomba yang dilaksanakan selama dua hari, yakni Sabtu-Ahad (4-5/10/2025) di lapangan Merdeka Sengkang, adalah Lomba Hadrah. Pesertanya berasal dari kafilah seluruh kabupaten di Sulsel.
Pada hari Sabtu, tampil beberapa peserta, antara lain dari kabupaten Pinrang, Enrekang, Sinjai, dan tuan rumah kabupaten Wajo. Sedangkan pada hari Ahad, sebagai hari terakhir, tampil utusan antara lain, Makassar, Maros, dan Takalar.
Irama rebana menggema di tengah teriknya matahari siang bolong di lapangan Merdeka Sengkang. Meskipun cuaca panas, namun suporter masing-masing penampil rela berada di depan panggung pertunjukan.
Masyarakat sekitar yang turut menyaksikan perlombaan musik religius yang dimainkan oleh para santri itu, rela berdiri di lapangan menggunakan payung, bagi mereka yang tidak dapat kursi di bawah tenda.
Suasana religius berpadu dengan semangat muda para santri sangat terasa dan tampak dari gerakan dan koreografi masing-masing grup yang tampil. Apalagi para penampil mengenakan busana seragam yang mencirikan daerah asal masing-masing.
Lombah hadrah di arena perhelatan MQK kali ini menghadirkan kompetisi musik Islami yang mempertemukan grup-grup hadrah dari berbagai pesantren di Indonesia, khususnya di Sulsel.
Para peserta tampil penuh energi dengan aransemen irama yang kreatif, lantunan shalawat menggugah hati, serta kekompakan gerak di atas panggung.
Suara rebana berpadu dengan pujian kepada Allah dan Rasulullah Saw. Menyuguhkan suasana syiar Islam yang menggugah jiwa dan memupuk semangat persaudaraan sesama santri.
Dalam tradisi pesantren, hadrah bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk seni musik dan dzikir yang memadukan tabuhan rebana, lantunan shalawat, serta gerakan ritmis yang dilakukan secara berjamaah.
Kata hadrah berasal dari bahasa Arab “hadarah” yang berarti ‘kehadiran’. Makna kehadiran di situ menggambarkan kehadiran hati dan ruhani dalam mengingat Allah dan Rasul-Nya lewat syair dan gerakan.
Oleh karena itu, setiap dentingan rebana dan bait shalawat yang mengalun bukan hanya menjadi pertunjukan seni, melainkan juga ekspresi cinta dan dakwah yang menyentuh jiwa.
Peserta lomba hadrah lainnya adalah Pesantren DDI Mangkoso, Kabupaten Barru; Pesantren Yasrib Watansoppeng, Kabupaten Soppeng; PDF Ulya Putera Sengkang, Kabupaten Wajo, serta PPTQ Ilmul Yaqin Amha Kabupaten Maros.
Keikutsertaan mereka menegaskan bahwa seni dan dakwah bisa berjalan seiring, memperkaya khazanah budaya Islam sekaligus mempererat persaudaraan antarsantri.
Selain itu, anak-anak muda yang masih duduk di bangku pesantren setingkat SMP dan SMA, ternyata bisa menjiwai musik rebana yang melantunkan syair dan shalawat yang sarat dengan pesan dakwah dan moral.
Afdal, pembina dari PPTQ Ilmul Yaqin Amha Maros, menyampaikan rasa bangga dan haru melihat antusiasme masyarakat yang turut menyaksikan setiap regu yang tampil, tanpa mengeluh soal panas terik matahari.
“Harapan saya, ke depan acara ini bisa lebih meriah dari tahun ini, atau setidaknya sama dengan yang kita saksikan sekarang. Kami tidak menyangka antusias masyarakat sebesar ini,” ujar Afdal.
Partisipasi grup hadrah dari berbagai pesantren di seluruh kabupaten di Sulsel dalam MQK Internasional 2025 ini, menjadi bukti bahwa tradisi keilmuan pesantren tidak hanya berkutat pada soal kitab kuning, tetapi juga berdenyut dalam karya seni yang sarat makna.
Melalui musik religius, santri berdakwah dengan cara yang indah dan memikat, yakni menyampaikan pesan cinta, kedamaian, dan keagungan Islam lewat irama yang menyentuh kalbu dan dan menghidupkan jiwa.
Perbedaan Hadrah dengan Qasidah
Dalam tradisi musik Islam, selain hadrah kita juga mengenal qasidah. Meski keduanya menggunakan rebana, namun punya perbedaan yang tegas.
Musik hadrah adalah pertunjukan seni Islam berupa lantunan sholawat menggunakan alat musik perkusi, seperti rebana, tifa, dan bass dengan irama khas.
Perbedaan utamanya dengan qasidah adalah hadrah fokus pada syair dan sholawat, sedangkan qasidah adalah bentuk syair epik Arab yang bisa berisi puji-pujian, dakwah, atau kritik, dan bisa diiringi alat musik rebana atau alat musik modern lainnya, seperti keyboard.
Qasidah berasal dari bahasa Arab, yang bermakna bentuk syair epik atau puisi. Lirik syair bisa berisi puji-pujian (kepada Allah dan Nabi), dakwah keagamaan, atau bahkan satire, dan dinyanyikan. (rus)

