KABARIKA.ID, SENGKANG — Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional pertama dan MQK Nasional ke-8 yang dilaksanakan di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel), resmi berakhir setelah berlangsung sejak 1 Oktober 2025.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menutup kegiatan yang diikuti delegasi dari 10 negara Asia Tenggara dan 34 provinsi di Indonesia ini, dengan memberikan sambutan secara virtual.
Dalam sambutannya, Menag mengajak dan memberi motivasi kepada para santri dan mahasantri agar terus meningkatkan kemampuan mereka dalam mengeksplorasi dan memahami Kitab Kuning atau Kitab Turat, karena khazanah klasik itu adalah gudang ilmu dan peradaban Islam.
“Kitab turats (Kitab Kuning) bukanlah sekadar teks kuno, melainkan bank data peradaban yang mengandung solusi untuk krisis modern,” ujar Menag secara virtual saat menutup MQK Internasional pertama dan MQK Nasional ke-8 di Sengkang, Wajo, Senin malam (6/10/2025) di Lapangan Merdeka Sengkang, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Sulsel.
Jadi Duta Perdamaian
Menag menegaskan bahwa jika santri memahami dengan baik dan mengusai isi dari kitab turats sebagai khazanah kelimuan Islam, maka tidak diragukan lagi mereka dapat menjadi duta perdamaian.
“Jika santri mampu menguasai khazanah ini, mereka akan menjadi duta perdamaian sejati. Nilai-nilai toleransi (tasamuh), keseimbangan (tawazun), dan keberanian (syaja’ah) yang tertanam dalam Kitab Kuning adalah modal kita untuk menebar perdamaian di Asia Tenggara dan merespons isu lingkungan dengan bijak, sesuai tema MQK ini,” tegas Menag Nasaruddin.
MQK Internasional 2025 mengusung tema, “Dari Pesantren untuk Dunia: Merawat Lingkungan dan Menebar Perdamaian”.
Perhelatan MQK 2025 selama enam hari di Sengkang, berhasil menyatukan para kafilah dari 34 provinsi di Indonesia dan delegasi dari 10 negara Asia Tenggara.
Dari sisi keilmuan dan peradaban Islam, MQK Internasional ini menjadi etalase dunia yang menunjukkan kepada masyarakat global tentang tradisi keilmuan di pesantren-pesantren Indonesia.
Oleh karena itulah, Menag menjadikan MQK dan literasi Kitab Kuning sebagai agenda nasional dan agenda global.
Nasaruddin menagaskan, MQK bukan sekadar kompetisi keagamaan, melainkan fondasi untuk melahirkan ulama muda yang siap menawarkan Islam moderat sebagai solusi dunia.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Menag juga menyampaikan apresiasi mendalam atas sukses penyelenggaraan MQK Nasional dan Internasional 2025 ini.
“Saya berterima kasih kepada semua pihak. Wajo sudah sangat cocok menjadi tuan rumah even nasional dan internasional. Semoga even ini berkesan dan semakin mempererat silaturahmi kita,” harap Menag.
Simpati dan Duka untuk Musibah di Al-Khoziny
Pada bagian lain sambutannya, Menag mengajak seluruh santri dan warga yang hadir untuk mendoakan korban gedung ambruk di Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo.
“Saya mengajak seluruh hadirin untuk berdoa bersama bagi santri korban bangunan ambruk di Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo,” ajak Menag.
Sebelumnya, ribuan santri Pesantren As’adiyah bersama peserta MQK dan masyarakat Sengkang, juga menggelar istighatsah mendoakan korban gedung ambruk di pesantren Al-Khoziny.
Peristiwa gedung ambruk di Pesantren Al-Khoziny terjadi pada Senin (29/09/2025). Saat itu, para santri sedang melaksanakan salat Ashar berjamaah.
Keesokan harinya, Menag Nasaruddin meninjau lokasi kejadian, menyampaikan duka, menyapa keluarga korban, serta melihat langsung penanganan korban terdampak, sekaligus menyalurkan bantuan sebesar Rp610 juta.
Menag juga meminta Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, untuk melakukan sejumlah langkah proaktif dalam membantu penanganan korban.
Hingga kini tercatat ada 65 korban wafat dan lebih dari seratus yang selamat. Proses evakusi yang dilakukan oleh Basarnas masih berlangsung.
MQK Dorong Perputaran Ekonomi
Selama berlangsungnya perhelatan MQK di Sengkang, Wajo, bukan hanya lomba yang yang terus berjalan dan berputar, namun sektor ekonomi UMKM juga turut bergelinding.
Bupati Wajo, Andi Rosman, saat memberi sambutan pada acara penutupan MQK semalam menegaskan, bahwa perhelatan MQK telah memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat lokal.
“Kami berharap perhelatan ini membawa keberkahan. Lebih dari itu, MQK berhasil meningkatkan roda perekonomian masyarakat Wajo, terutama sektor UMKM, mulai dari kuliner tradisional hingga industri sutera khas Wajo yang laku keras selama acara ini,” ujar Bupati.
Berdasarkan laporan yang kami terima, lanjut Andi Rosman, perputaran uang selama pelaksanaan MQK sekitar Rp20 miliar.
Stan-stan (booth) UMKM lokal maupun usaha ekonomi berbasis pesantren, memadati Lapangan Merdeka maupun di kedua sisi jalan antara Lapangan Merdeka dengan Masjid Agung Ummul Qura, Sengkang.
Jumlah stan tak kurang dari 100 buah yang menawarkan beragam jualan, mulai dari kuliner, pakaian berlogo MQK, cendera mata hingga kain sutra khas Sengkang.
Stan yang ada di dalam Lapangan Merdeka berjumlah 50 buah, khusus untuk usaha ekonomi berbasis pesantren dengan beragam jualan. Sedangkan stan yang ada di luar Lapangan Merdeka berasal dari UMKM lokal di Kota Sengkang, yang juga menawarkan berbagai jualan, mulai kuliner, pakaian jadi, hingga kain sutra.
Mengapa Wajo Dipilih sebagai Tuan Rumah MQK?
Pemerintah Kabupaten Wajo beserta jajarannya dan pengasuh Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, patut berbangga karena menjadi tuan rumah penyelenggaraan MQK Internasional yang pertama.
Namun, apa sesungguhnya alasan dipilihnya Kabupaten Wajo sebagai tuan rumah MQK Internasional pertama ini?
Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag, Amien Suyitno, dalam laporannya menjelaskan alasan dipilihnya Kabupaten Wajo sebagai tuan rumah MQK Internasional pertama dan MQK Nasional ke-8 tahun 2025.
Amien menjelaskan, pilihan ini didasarkan pada legacy yang ditancapkan dua ulama besar asal Sulsel, yaitu Syekh Yusuf Al-Makassari dan Syekh Jumadil Qubra.
“Dua tokoh ini menjadi asbabun wurud bagi kami memilih Sulsel, terkhusus Kabupaten Wajo. Ini menegaskan bahwa pesantren dan tradisi keilmuannya punya akar kuat di seluruh penjuru negeri,” tandas Amien.
Amien juga menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dan telah mendukung dan menyukseskan MQK 2025.
“Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat. Acara ini berjalan lancar dan khidmat,” tandas Amien.
Penutupan MQK di Lapangan Merdeka Sengkang dihadiri ribuan masyarakat setempat dan dihibur oleh penyanyi Budi Doremi.
Hadir dalam acara penutupan, Dirjen Pendis Kemenag RI Prof. Amin Suyitno, Direktur Pesantren Kemenag RI, Basnang Said, Wakil Ketum Ponpes As’adiyah, Prof. Kamaluddin Abu Nawas, Dewan Hakim MQK, Bupati Wajo Andi Rosman, Wabup Wajo dr. Baso Rahmanuddin, Ketua DPRD Wajo, Firmansyah Perkesi, serta ofisial masing-masing provinsi dan perwakilan 10 negara peserta.(rus)

