Site icon KABARIKA

Cahaya Ilmu Bersinar di Gaza: untuk Pertama Kalinya Dalam Tiga Tahun Perang, Para Siswa Kembali Bersekolah

KABARIKA.ID, JALUR GAZA — Tahun ajaran baru dimulai di Gaza pada akhir September ini, dengan banyak siswa kembali mengikuti pembelajaran tatap muka untuk pertama kalinya dalam tiga tahun perang genosida Israel, sejak Oktober 2023.

Di kamp Jawazat, Kota Gaza, para siswa hanya membawa sedikit barang keperluan saat memulai tahun ajaran baru minggu ini.

Mereka datang belajar tanpa seragam, tanpa tas punggung, tanpa bekal makan siang berisi roti lapis (sandwich) dengan isian mentimun, hummus, keju, dan za’atar.

Mereka yang beruntung memiliki satu buku tulis dan menerima instruksi tegas dari orang tua mereka: Jangan melewatkan satu baris pun saat menulis.

Namun, yang dibawa oleh setiap anak adalah ingatan yang tajam dan spesifik tentang suasana sekolah sebelum invasi Israel pada Oktober 2023.

“Seragam bergaris abu-abu… waktu istirahat makan siang yang sesungguhnya, buku tulis untuk setiap mata pelajaran. Dulu ada perpustakaan,” kenang Rozan Ziara, 11 tahun.

Di seluruh Jalur Gaza, lebih dari setengah juta siswa kembali bersekolah minggu ini. Bagi sebagian besar dari mereka, ini adalah kali pertama kembali belajar dalam tiga tahun.

Rozan Ziara, 11 tahun, yang sangat merindukan perpustakaan yang masih berdiri sebelum perang. (Foto: theguardian)

Sejak perang dimulai, bom-bom Israel telah menghancurkan atau merusak 98% sekolah di Gaza. Buku dan alat tulis, yang sempat dibakar sebagai bahan bakar di masa kelaparan dan kini terkendala pembatasan impor oleh Israel, masih sangat langka.

Tidak Semua Anak Bisa Bersekolah

Bom-bom Israel telah menghancurkan sebagian besar sekolah di Gaza. Namun, saat tahun ajaran baru dimulai di sini, para siswa dan guru menolak untuk menyerah.

Meski demikian, di seluruh Gaza, para siswa dan guru melakukan improvisasi dengan apa yang tersisa, tetap didorong oleh harapan akan pendidikan.

“Saya ingin menjadi dokter,” ujar Mariam Helles, 12 tahun, yang mulai duduk di kelas tujuh minggu ini.

Mariam Helles, 12 tahun, yang bercita-cita menjadi dokter. (Foto: theguardian)

Dia merasa beruntung bisa bersekolah, mengingat begitu banyak anak… yang tidak memiliki kesempatan itu.

Perpustakaan adalah hal yang paling dirindukan oleh Rozan Ziara, 11 tahun, dari masa sekolah sebelum perang.

“Dulu saya membaca semua cerita pendek di sana,” ujarnya.

Sekolah Tanpa Atap

Di Jawazat, sebuah kamp yang didirikan dari puing-puing rumah yang hancur di tengah Kota Gaza, kegiatan belajar-mengajar berlangsung di dalam empat tenda kanvas yang penuh lubang.

Setiap tenda menampung ruang kelas yang sangat padat, di mana suara seorang guru harus bersaing dengan suara dari kelas sebelah yang hanya dipisahkan oleh dinding nilon tipis.

Ahmed Abu al-Qombuz mengelola sekolah tersebut.

Saat mengungsi ke kamp ini pada April 2024, mantan pengurus organisasi masyarakat sipil itu segera menyadari bahwa kelima anaknya tidak memiliki tempat untuk bersekolah.

“Mereka cerdas dan kreatif. Mengapa mereka tidak bisa bersekolah?,” kenangnya saat itu

Meskipun tidak memiliki pengalaman mengajar, al-Qombuz memutuskan untuk mulai mengajar mereka beserta anak-anak lain di kamp tersebut, di ruang terbuka.

Tidak ada kursi ataupun papan tulis. Ia juga tidak memiliki bel untuk dibunyikan setiap pagi. Langit menjadi atap bagi mereka.

Akhirnya, al-Qombuz memindahkan kegiatan belajarnya ke dalam sebuah tenda yang dipinjam dari organisasi bantuan.

Pada bulan September tahun lalu, tempat itu resmi menjadi sekolah yang diakui pemerintah, dan tahun ini, sekitar 600 siswa telah terdaftar, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga kelas sembilan.

Jana, seorang siswi di sekolah tenda di kamp Jawazat, Kota Gaza, mengatakan bahwa hal yang paling ia rindukan dari sekolah sebelum perang adalah perlengkapan sekolahnya: tas punggung, botol minum, dan tempat pensil.

Improvisasi di Ruang Kelas

Delapan guru yang tinggal di kamp tersebut mengajarkan mata pelajaran inti, yaitu bahasa Arab, bahasa Inggris, sains, dan matematika.

Namun, keterbatasan sarana fisik masih mewarnai setiap kegiatan mereka. Kursi dan meja sangat langka, paling banyak hanya tersedia lima buah per tenda.

Perabotan minim yang tersedia dibuat dari palet kayu bekas kemasan paket bantuan. Tukang kayu setempat mengubahnya menjadi meja dan kursi sederhana.

Guru sains Taghreed Faraj selalu menyediakan kertas cadangan bagi banyak siswa yang tidak mampu membeli buku tulis, yang harganya kini tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan sebelum perang.

Namun, itu hanyalah awal dari masalah yang dihadapinya. “Sains membutuhkan peralatan,” jelasnya.

Tanpa peralatan tersebut, Ibu Faraj harus melakukan improvisasi. Suatu hari, ia menemukan video eksperimen kimia secara daring, lalu mengedarkan ponselnya ke seluruh kelas agar setiap siswa bisa menyaksikan tayangan eksperimen tersebut di layar.

Kegiatan sekolah di sini tidak berlangsung terpisah dari situasi darurat sehari-hari di kamp pengungsian. Sekolah justru berjalan di tengah situasi tersebut.

Saat truk tangki air tiba, anak-anak bergegas menuju tangki air meskipun pelajaran sedang berlangsung. “Saya tidak bisa melarang mereka. Mereka harus pergi,” ujar Ibu Faraj.

Hal serupa terjadi ketika para siswa mendengar suara mesin tuk-tuk menderu di luar, yang menandakan kedatangan tikiyya, dapur umum keliling penyedia makanan.

Mariam Helles, 12 tahun, gemar mengerjakan soal pembagian bersusun panjang dan bercita-cita menjadi dokter.

Duka di Ruang Kelas

Rasa kehilangan menyelimuti suasana sekolah, baik yang tampak maupun yang tak kasatmata.

“Ada anak-anak yang menunjukkan kehancuran emosional secara terbuka, namun ada pula yang menarik diri ke dalam dan menjadi sangat pendiam,” jelas Rana Abu Qumboz, seorang guru matematika yang juga membantu memandu sesi terapi bagi para siswa.

Rozan, siswi kelas tujuh yang merindukan seragam sekolah lamanya, menceritakan secara lugas peristiwa saat ia kehilangan saudara laki-lakinya yang berusia 13 tahun, Mohammed.

Kejadian itu berlangsung pada 3 Mei 2025. Saat itu, ia sedang menunggu ibunya memanaskan air untuk mandi dan memutuskan untuk keluar sebentar. Serangan pesawat nirawak (drone) merenggut nyawanya ketika ia sedang duduk menunggu.

Mahmoud, 12 tahun, kehilangan ayahnya pada tahun 2023, dan kemudian kehilangan dua saudara laki-lakinya, Hudhaifa dan Ahmed.

Ia juga kehilangan kesempatan belajar selama bertahun-tahun, awalnya akibat pandemi COVID-19, lalu karena perang.

Namun, nilai-nilainya perlahan membaik, ungkap sang ibu, Irtifal Hamdiyya.

Selain itu, sekolah memberikan bentuk kenyamanan lain. Mahmoud bisa menghabiskan waktu bersama teman-temannya untuk mengobrol tentang Hulk, Spider-Man, dan alasan Ronaldo pindah bermain di Arab Saudi. “Demi uang,” tegas penggemar Real Madrid itu.

Anak-anak lain pun menemukan kegembiraan dan kenyamanan saat datang ke sekolah, sesuatu yang jauh melampaui sekadar materi pelajaran di dalam kelas.

“Dulu, kami harus mendorong anak-anak untuk bersekolah. Sekarang mereka tidak perlu lagi didorong. Mereka justru berlari menuju sekolah yang kondisinya menyedihkan,” ujar Ibu Qumboz. (rus)

Exit mobile version