KABARIKA.ID, MAKASSAR — Polusi mikroplastik bukan sekadar masalah seberapa banyak plastik yang ada di lautan, melainkan juga masalah waktu.
Penelitian baru menunjukkan bahwa musim pemijahan ikan sering kali bertepatan dengan titik-titik rawan polusi.
Hal ini mengubah masalah lingkungan yang sudah umum diketahui menjadi ancaman yang lebih serius, tepat pada saat ikan berada dalam kondisi paling rentan.
Demikian menurut sebuah hasil studi, yang dipimpin oleh Key Laboratory of Pollution Processes and Environmental Criteria/Carbon Neutrality Interdisciplinary Science Centre di Universitas Nankai, bekerja sama dengan Fujian Ocean Innovation Center.
Para ilmuwan meneliti bagaimana mikroplastik, waktu pemijahan, polutan kimia, peningkatan suhu air, dan kadar oksigen rendah saling berinteraksi dan berdampak pada populasi ikan laut di seluruh dunia.
Keterbatasan dalam Pemantauan Polusi
Mikroplastik adalah serpihan plastik kecil berukuran kurang dari lima milimeter, sudah dikenal sebagai penyebab masalah dalam ekosistem perairan.
Jika ikan memakannya maka proses reproduksi terganggu. Partikel-partikel tersebut bahkan menjadi sarana transportasi bagi bahan kimia berbahaya lainnya.
Masalahnya, sebagian besar penilaian risiko polusi menganggap tingkat kontaminasi cenderung konstan sepanjang tahun.
Anggapan tersebut mengabaikan apa yang terjadi ketika ikan berkumpul di area pemijahan pesisir, lokasi di mana limpasan air sungai, air limbah, lalu lintas pelayaran, dan perubahan musiman bertemu serta menumpuk.
Beberapa spesies ikan hanya memijah dalam rentang waktu yang sangat singkat atau bermigrasi ke area pembibitan di dekat pantai yang sudah tercemar, sehingga mereka hampir tidak memiliki celah untuk menghindari paparan polutan selama fase kritis dalam hidup mereka ini.
Spesies yang terancam punah menghadapi situasi yang lebih buruk. Wilayah sebaran yang terbatas dan jumlah populasi yang tidak stabil membuat mereka hampir tidak memiliki daya tahan untuk menghadapi tekanan tambahan, di luar berbagai faktor lain yang sudah mengancam kelangsungan hidup mereka.
Kumpulan Data Masif Terkait Aspek Waktu
Untuk melacak bagaimana waktu pemijahan memengaruhi tingkat paparan, para peneliti menyusun kumpulan data yang sangat besar.
Studi ini mencakup 6.327 data pengukuran mikroplastik di air laut, 3.959 sampel yang mengukur kadar mikroplastik pada ikan, 528 catatan mengenai polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), dan 1.891 catatan mengenai perfluorooctane sulfonate (PFOS).
Tim peneliti mengaitkan semua data tersebut dengan data reproduksi dari 992 spesies ikan laut yang tersebar di 65 ekosistem laut berskala besar.
Para peneliti menggabungkan metode statistik tingkat lanjut dan pembelajaran mesin (machine learning) untuk mengidentifikasi lokasi di mana ikan yang sedang memijah menghadapi lonjakan paparan mikroplastik tertinggi di seluruh dunia.
Area Pemijahan Sudah dalam Kondisi Terancam
Analisis tersebut mengungkapkan bahwa sekitar 7,8 persen area pemijahan penting di dunia telah melampaui ambang batas ekologis yang aman.
Khususnya di Laut Baltik dan Teluk Thailand, konsentrasi rata-rata mikroplastik di area pemijahan tercatat lebih dari 7,8 kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
Tren yang teramati pun tidak menggembirakan. Antara tahun 1998 dan 2023, rata-rata konsentrasi mikroplastik global meningkat dari 0,2 menjadi 0,3 partikel per meter kubik.
Pada saat yang sama, luas habitat ikan yang melampaui dua ambang batas bahaya utama masing-masing meningkat sebesar 72,4 persen dan 184,0 persen dalam kurun waktu tersebut.
Mikroplastik pada Ikan yang Sedang Bereproduksi
Ikan yang sedang aktif bereproduksi membawa kadar mikroplastik yang jauh lebih tinggi dibandingkan ikan dari spesies yang sama, namun tidak sedang bereproduksi.
Selain itu, 45,5 persen ekosistem laut yang diteliti menunjukkan adanya perpindahan mikroplastik yang lebih efisien, khususnya selama masa reproduksi.
Risiko polusi gabungan mencapai puncaknya pada bulan Maret, yang memperlihatkan zona bahaya musim semi yang jelas.
Zona ini akan luput dari perhatian jika kita hanya melihat rata-rata tahunan tanpa melacak perubahan dari musim ke musim.
Selama masa reproduksi, interaksi antara mikroplastik dan PAH tercatat 42,3 persen lebih tinggi dibandingkan tingkat dasar (baseline), sementara indeks interaksi PFOS tercatat 16,2 persen lebih tinggi.
Kondisi air yang lebih hangat dengan kadar oksigen lebih rendah menambah beban stres fisiologis di atas semua faktor tersebut.
Bukan Sekadar Masalah Polusi
Para peneliti berpendapat bahwa hal ini mengubah cara kita memandang risiko mikroplastik. Fokusnya tidak lagi sekadar pada rata-rata jumlah plastik yang ada di lingkungan, melainkan pada momen spesifik saat ikan terpapar plastik tersebut.
Saat masa pemijahan, kondisi fisiologis ikan sudah sangat tertekan, dan mereka sering kali berkumpul di habitat di mana plastik, polutan kimia, suhu tinggi, dan kadar oksigen rendah terjadi secara bersamaan.
Periode reproduksi yang singkat ini bisa menjadi masa paparan paling krusial dalam seluruh siklus hidup ikan, bahkan di lokasi yang rata-rata tingkat polusi tahunannya tampak masih dalam batas aman.
Pendekatan berbasis siklus hidup ini membantu menjelaskan fenomena yang sebelumnya membingungkan para peneliti: mengapa spesies yang terancam punah secara kritis terus mengalami dampak buruk yang jauh lebih besar, meskipun rata-rata tingkat polusi sepanjang tahun tampak moderat?
Hal ini juga menjelaskan mengapa analisis musiman dapat mengungkap bahaya nyata yang sering kali luput dari survei tahunan standar.
Langkah yang Dapat Diambil Pengelola Wilayah Laut
Peta risiko musiman dapat membantu pengelola memusatkan upaya pemantauan, pembatasan pelayaran, dan perlindungan habitat pada bulan serta lokasi spesifik saat ikan yang sedang memijah paling rentan terpapar.
Rencana konservasi untuk spesies yang terancam punah harus memperhitungkan risiko paparan selama masa reproduksi.
Mengandalkan rata-rata tahunan atau ambang batas polutan tunggal dapat menyembunyikan lonjakan tingkat polusi musiman yang paling parah.
Kesenjangannya sangat mencolok: spesies yang terancam punah secara kritis menunjukkan tingkat risiko gabungan yang 9,0 kali lebih tinggi untuk PAH (hidrokarbon aromatik polisiklik) terkait mikroplastik, dan 13,3 kali lebih tinggi untuk PFOS dibandingkan dengan spesies yang status konservasinya tidak mengkhawatirkan (least concern).
Kesenjangan sebesar itu cukup menjadi alasan kuat untuk menerapkan perlindungan nyata dan terarah bagi populasi yang kelangsungan hidupnya sudah berada di ujung tanduk.
Hasil studi ini telah dipublikasikan bulan ini di jurnal Environmental Science and Ecotechnology, yang hasil selengkapnya dapat diakses di sini.
Seiring dengan perubahan iklim yang memperparah tekanan akibat suhu tinggi dan rendahnya kadar oksigen di perairan pesisir, memahami kapan polusi terjadi bisa menjadi sama pentingnya dengan mengukur jumlah plastik yang ada di sana. (rus)

