Site icon KABARIKA

Paparan Polusi Udara Memiliki Kaitan tak Terduga dengan Risiko Bunuh Diri

KABARIKA.ID, MAKASSAR — Upaya pencegahan bunuh diri umumnya berpusat pada individu. Terapi, pengobatan, dan layanan bantuan krisis hampir semuanya melibatkan interaksi antara satu orang dengan tenaga profesional kesehatan.

Menurut perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 720.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya di seluruh dunia, dan angka total tersebut diperkirakan masih di bawah jumlah yang sebenarnya.

Sebuah tim di Queen’s University Belfast yang dipimpin oleh Dr. Sophie Jones menelusuri aspek yang sama sekali berbeda: udara di luar jendela.

Paparan jangka panjang terhadap polusi partikel halus dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan kematian akibat bunuh diri, percobaan bunuh diri, atau munculnya pikiran untuk bunuh diri sebesar sekitar 53%.

Angka ini berlaku untuk setiap penambahan 10 mikrogram partikel tersebut dalam satu meter kubik udara.

Para peneliti tidak pernah secara sengaja menempatkan siapa pun untuk menghirup udara kotor.

Seluruh 29 studi yang digabungkan dalam analisis ini mengamati udara yang memang sudah dihirup oleh masyarakat, sehingga tidak ada satu pun studi yang dapat membuktikan secara langsung bahwa polusi menyebabkan bunuh diri.

Namun, tinjauan ini dapat memilah jenis paparan mana yang kini memiliki bukti cukup kuat untuk disertakan dalam penelitian mengenai pencegahan bunuh diri.

Partikel Halus Menunjukkan Indikasi Paling Jelas

Sebagian besar studi tersebut menyoroti satu jenis polutan, yaitu partikel halus (fine particulate matter), yang berasal dari lokasi konstruksi, kebakaran, pembangkit listrik, dan lalu lintas kendaraan.

Para peneliti menyebutnya PM2.5, karena ukuran partikel tersebut adalah 2,5 mikrometer atau kurang. Sebagai perbandingan, diameter sehelai rambut manusia kira-kira 30 kali lebih besar daripada ukuran partikel tersebut.

Tiga belas dari studi yang digabungkan tersebut mengamati dampak dalam hitungan hari, bukan tahun.

Setiap penambahan 10 mikrogram per meter kubik dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan bunuh diri, percobaan bunuh diri, atau pikiran untuk bunuh diri sebesar sekitar 1%.

Itu adalah perubahan kecil yang tersebar di seluruh populasi. Enam penelitian memantau partisipan selama lebih dari enam bulan, dan angka tersebut meningkat menjadi sekitar 53%.

Partikel yang sedikit lebih besar, yang disebut PM10, menunjukkan peningkatan jangka pendek sebesar 1% dalam tujuh penelitian.

Perhatikan selisih antara kedua angka tersebut. Satu hari dengan kualitas udara buruk sedikit mengubah tingkat risikonya.

Paparan udara buruk selama bertahun-tahun memberikan dampak yang berbeda. Penelitian sebelumnya telah mengaitkan paparan asap pekat dengan gejala kesehatan mental pada anak-anak.

Dampak Nitrogen Dioksida

Polutan lain yang mencapai signifikansi statistik adalah nitrogen dioksida, yang terbentuk saat bahan bakar terbakar pada mobil, truk, bus, dan pembangkit listrik.

Dalam rentang waktu beberapa hari, polutan ini tidak menunjukkan dampak yang dapat diukur. Gabungan data dari delapan penelitian menghasilkan rasio peluang (odds ratio) yang hampir tepat satu, yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan.

Untuk periode lebih dari enam bulan, gabungan tujuh penelitian menunjukkan peningkatan risiko sekitar 32% untuk setiap penambahan konsentrasi 10 parts per billion (ppb).

Sulfur dioksida, ozon, dan karbon monoksida tidak menunjukkan hubungan gabungan yang signifikan ke arah mana pun.

Polusi udara sudah diketahui menyebabkan orang harus berobat ke dokter. Penelitian sebelumnya telah mengaitkannya dengan rawat inap di rumah sakit, dan tinjauan ini menunjukkan bahwa paparan yang sama juga berdampak pada hasil yang sangat berbeda.

Hasil Terkait Kebisingan dan Air Masih Belum Jelas

Sasaran tim peneliti mencakup empat jenis polusi. Namun, bukti mengenai polusi udara mendominasi: 38 dari 45 penelitian membahas udara, tiga membahas air, tiga membahas kebisingan, dan hanya satu yang membahas polusi cahaya.

Data dari tiga penelitian mengenai kebisingan dapat digabungkan, dan setiap kenaikan satu desibel dikaitkan dengan peningkatan risiko sekitar 12%.

Namun, interval kepercayaan mencakup angka satu, sehingga faktor kebetulan tidak dapat dikesampingkan sebagai penjelasannya.

Hal ini sejalan dengan temuan sebelumnya mengenai kebisingan lalu lintas dan kesehatan mental pada kaum muda, meskipun belum memberikan kesimpulan pasti.

Data mengenai polusi air sama sekali tidak dapat digabungkan karena ketiga penelitian tersebut mengukur hal yang berbeda dengan metode yang berbeda pula, serta menunjukkan hasil yang saling bertentangan.

Satu-satunya studi mengenai cahaya buatan di malam hari menunjukkan adanya kaitan, namun studi tersebut berdiri sendiri tanpa dukungan studi lain.

Pengujian yang Lebih Ketat Menyusutkan Hasil Temuan Tersebut

Setiap studi dinilai tingkat biasnya menggunakan daftar periksa standar yang disesuaikan dengan desain penelitian masing-masing.

Sebagian besar memperoleh skor lima. Dua studi mendapat skor empat, dan satu studi mendapat skor dua.

Tim peneliti kemudian menyingkirkan studi dengan skor di bawah enam dan melakukan analisis ulang terhadap data tersebut. Sebagian besar kaitan yang sebelumnya ditemukan tidak lagi menunjukkan signifikansi statistik.

Kaitan dengan paparan PM2.5 jangka panjang tetap bertahan. Kaitan dengan nitrogen dioksida jangka pendek juga bertahan, namun arah hubungannya berbalik: dalam kelompok data yang lebih kecil tersebut, kadar gas yang lebih tinggi justru dikaitkan dengan risiko yang sedikit lebih rendah.

Tingkat heterogenitas, istilah statistik yang menunjukkan adanya ketidakselarasan antarstudi, tergolong tinggi di seluruh analisis. Untuk paparan PM2.5 jangka pendek, angka heterogenitasnya mencapai 99,9%.

Analisis subkelompok menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antara pria dan wanita.

Bagaimana Polusi Udara Bisa Mencapai Otak?

Dr. Jones dan rekan penulisnya berfokus pada penghitungan kaitan statistik alih-alih menelusuri mekanisme biologisnya, dan mereka sangat berhati-hati dalam membedakan kedua hal tersebut.

Mekanisme yang mereka sebutkan berasal dari penelitian pihak lain.

Partikel halus dan nitrogen dioksida telah dikaitkan dengan peradangan kronis serta kerusakan saraf, yang dapat memengaruhi suasana hati dan kemampuan seseorang dalam mengelola stres.

Air yang mengandung arsenik, timbal, litium, atau nitrat juga dikaitkan dengan dampak serupa.

Kebisingan dan cahaya buatan di malam hari tampaknya meningkatkan stres dengan cara mengganggu ritme jam biologis tubuh.

Sebuah studi terpisah telah mengaitkan kebisingan lalu lintas jangka panjang dengan penyakit Parkinson melalui jalur biologis yang saling tumpang tindih.

Setiap jalur tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi suasana hati atau perilaku. Namun, belum ada satu pun jalur yang berhasil ditelusuri secara langsung mulai dari paparan polutan hingga terjadinya kematian.

Dr. Jones mengatakan bahwa temuan ini pada akhirnya dapat memperluas cara pandang para pembuat kebijakan mengenai pencegahan bunuh diri.

“Memahami pengaruh-pengaruh yang lebih luas ini, serta potensi mengintegrasikan kesehatan lingkungan ke dalam kebijakan kesehatan mental melalui kolaborasi lintas sektor, dapat memainkan peran penting dalam mengurangi risiko bunuh diri dan meningkatkan kesejahteraan mental populasi secara keseluruhan,” kata Dr. Jones.

Keterbatasan Bukti yang Ada

Penelusuran data dilakukan mulai Januari 2010 hingga April 2024, menghasilkan 6.585 catatan, dan menyisakan 45 studi yang memenuhi kriteria.

Sebelas studi berasal dari negara-negara Eropa dan 10 dari Amerika Utara, sementara sebagian besar sisanya berasal dari Korea Selatan, Tiongkok, Taiwan, dan Jepang.

Tidak ada studi dalam tinjauan ini yang berasal dari Afrika, Asia Selatan, atau Timur Tengah.

Bunuh diri, percobaan bunuh diri, dan pemikiran untuk bunuh diri digabungkan menjadi satu kategori luaran karena jumlah studi yang ada terlalu sedikit untuk memisahkannya. Ketiganya bukanlah peristiwa yang sama, dan para penulis pun mengakui hal tersebut.

“Temuan ini menyoroti betapa pentingnya mengenali paparan lingkungan sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi dalam upaya pencegahan bunuh diri,” ujar para peneliti.

Hasil penelitian ini telah dimuat di Journal of Epidemiology and Community Health; hasil lengkapnya dapat diakses di sini.

Belum ada pihak yang mengukur dampak ketika paparan-paparan ini terjadi secara bersamaan, seperti kebisingan lalu lintas, cahaya lampu jalan, dan nitrogen dioksida yang memapar satu lokasi yang sama, sebagaimana yang lazim terjadi.

“Kami sedang melakukan analisis primer lebih lanjut mengenai topik ini, termasuk analisis untuk lebih memahami dampak kausal dan paparan kumulatif,” kata Dr. Jones. (rus)

Exit mobile version