KABARIKA.ID, MAKASSAR — Para ilmuwan menemukan bagaimana suhu hangat yang tidak biasa di Samudra Hindia bagian selatan, yang dipadukan dengan fenomena La Niña, memengaruhi rekor terendahnya es laut Arktik pada tahun 2025.
Pada bulan Februari dan Maret 2025, luas es laut Arktik menyusut ke tingkat terendah yang pernah tercatat untuk bulan-bulan tersebut.
Peristiwa ini membingungkan karena faktor yang biasanya menjadi penyebab utama, yakni fenomena La Niña yang kuat di wilayah tropis Pasifik, hampir tidak terlihat.
Sebuah studi baru berhasil menemukan potongan teka-teki yang hilang tersebut, yaitu area hangat di Samudra Hindia bagian selatan, yang terletak ribuan kilometer dari Arktik.
Pengaruh dari area hangat ini, yang digabungkan dengan La Niña, menyebabkan berkurangnya es laut dalam skala yang tidak mungkin dicapai oleh salah satu faktor tersebut jika terjadi secara terpisah.
Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan dari Hong Kong University of Science and Technology dan University of Science and Technology of China.
Mengapa Es Laut Musim Dingin itu Penting?
Sebagian besar perhatian terhadap es laut Arktik tertuju pada bulan September, saat luas es mencapai titik minimum tahunan. Luas es pada musim dingin jarang mendapat sorotan, padahal hal ini sebenarnya sangat penting.
Rendahnya jumlah es di musim dingin dapat memengaruhi proses pencairan es pada musim panas berikutnya.
Kondisi ini bahkan dapat menjadi pemicu rekor terendahnya luas es, jauh sebelum rekor tersebut tercatat oleh satelit.
Variabilitas es laut musim dingin juga memengaruhi cuaca di wilayah lintang menengah melalui mekanisme yang disebut atmospheric teleconnections (koneksi jarak jauh atmosfer).
Mekanisme ini melibatkan perubahan pola sirkulasi atmosfer yang dapat memengaruhi gelombang dingin, jalur badai, serta perilaku arus jet (jet stream) di wilayah-wilayah yang berpenghuni.
Musim dingin tahun 2025 menjadi sebuah anomali di tengah kondisi yang sebelumnya cenderung lebih stabil.
Sejak tahun 2010-an, laju hilangnya es laut sebenarnya sempat melambat. Para peneliti mengidentifikasi fase ini sebagai bagian dari variabilitas dekadal (perubahan dalam rentang satu dekade).
Kemudian, pada bulan Februari dan Maret, luas es laut turun menjadi 13,75 juta dan 14,14 juta kilometer persegi, masing-masing 7,5% dan 5,9% di bawah rata-rata periode 1991–2020.
La Niña Saja Tidak Cukup
La Niña adalah fenomena pendinginan periodik di wilayah Pasifik tropis bagian tengah dan timur.
Fenomena ini dapat melemahkan sistem tekanan rendah Aleutian (Aleutian Low), menggeser pola tekanan atmosfer ke arah utara, serta mengurangi es laut di Laut Okhotsk dan Selat Bering.
Musim dingin 2024/2025 ditandai dengan fenomena La Niña yang lemah.
Jejak La Niña memang terlihat, namun dampaknya tergolong kecil sehingga tidak bisa menjelaskan seluruh peristiwa yang terjadi.
Secara mandiri, La Niña hanya menyumbang sekitar 20% dari variabilitas tahunan luas es laut selama musim dingin. Ada faktor lain yang turut mendorong ke arah yang sama.
Area Hangat di Samudra Hindia Bagian Selatan
Di luar wilayah Pasifik tropis, para peneliti menemukan area yang jauh lebih hangat dari biasanya di Samudra Hindia bagian selatan.
Fenomena ini disebut sebagai anomali hangat Samudra Hindia bagian selatan (Southern Indian Ocean Warm Anomaly/SIOW).
Area ini terletak di wilayah yang jarang dikaitkan dengan variabilitas es laut Arktik, dan secara statistik, fenomena ini sama sekali tidak bergantung pada La Niña. Korelasi antara kedua indeks tersebut hanya 0,09.
Keduanya pada dasarnya tidak saling berkaitan, namun dampak fisiknya ternyata bermuara pada hasil yang sama.
Bagaimana La Niña dan SIOW Bekerja?
La Niña mengganggu sirkulasi Walker, yaitu pola pergerakan udara dari timur ke barat di sepanjang Pasifik tropis, kemudian memicu gerakan udara turun (subsiden) yang tidak lazim di atas wilayah Samudra Hindia tropis.
Sementara itu, SIOW mengubah sirkulasi Hadley, yakni pola pergerakan udara dari utara ke selatan, yang juga menghasilkan gerakan udara turun serta konvergensi di lapisan atmosfer atas di wilayah yang sama.
Kedua sinyal ini mencapai lokasi yang sama melalui jalur yang berbeda. Bersama-sama, keduanya memicu rangkaian gelombang Rossby yang merambat ke arah timur laut, melintasi wilayah Tiongkok bagian selatan dan Jepang.
Selanjutnya, terbentuklah anomali antisiklon yang kuat di atas Laut Okhotsk, tepat di wilayah yang mengalami penyusutan es paling drastis pada tahun 2025.
Antisiklon tersebut mendorong udara hangat dan kelembapan ke arah kutub, meningkatkan radiasi gelombang panjang yang menuju ke permukaan, serta mempercepat pencairan es.
Para peneliti menguji mekanisme SIOW ini secara terpisah menggunakan model baroklinik linear dengan menetapkan pemanasan tertentu di wilayah Samudra Hindia bagian selatan.
Simulasi tersebut menghasilkan ulang sel Hadley yang melemah, pergerakan udara turun di wilayah tropis Samudra Hindia, serta pola rangkaian gelombang yang serupa.
Analisis mengonfirmasi bahwa SIOW mampu melakukan hal ini dengan sendirinya. Terlebih lagi, proses ini berlangsung dengan lebih kuat ketika La Niña juga sedang aktif.
Saat Kedua Sinyal Muncul secara Bersamaan
Secara statistik, La Niña saja menyumbang sekitar 20% dari variabilitas es laut antar-tahun, sementara SIOW menyumbang sekitar 13%.
Indeks gabungan yang menghubungkan keduanya memiliki korelasi sebesar 0,60 dengan luas es laut, yang menjelaskan sekitar 36% dari varians yang ada.
Dari empat tahun dalam catatan sejarah di mana La Niña dan SIOW terjadi secara bersamaan, tiga di antaranya, yaitu tahun 1981, 2011, dan 2025, termasuk dalam periode dengan luas es laut terendah dalam era pengamatan satelit.
Peristiwa tahun 2025 juga terjadi di tengah tren penurunan jangka panjang yang dipicu oleh pemanasan akibat gas rumah kaca.
Tren ini telah menyebabkan berkurangnya es laut dengan laju sekitar 40.000 kilometer persegi per tahun selama periode Februari–Maret.
Kondisi sangat rendah pada tahun 2025 merupakan perpaduan antara tren jangka panjang tersebut dengan lonjakan tajam antar-tahun yang didorong oleh kombinasi fenomena di wilayah Indo-Pasifik.
Jembatan Lintas Cekungan yang Selama ini Luput dari Perhatian
Studi ini menjabarkan adanya “jembatan atmosfer” yang sebelumnya belum pernah teridentifikasi dalam bentuk seperti ini.
Gangguan zonal pada sirkulasi Walker akibat La Niña dan perubahan meridional pada sirkulasi Hadley akibat SIOW, bertemu di atas wilayah Samudra Hindia tropis.
Di sana, keduanya bersama-sama menciptakan gelombang tekanan yang merambat hingga ribuan kilometer jauhnya ke wilayah Arktik.
Biasanya, sirkulasi Walker maupun Hadley tidak dianggap memengaruhi es musim dingin di Arktik secara langsung. Namun, ketika keduanya bekerja bersama, pengaruh tersebut nyata adanya.
Tidak setiap peristiwa La Niña atau SIOW akan menghasilkan kondisi ekstrem pada es laut musim dingin. Faktor-faktor lain, termasuk variabilitas dekadal serta perubahan es di Laut Barents dan Laut Kara, turut berperan dalam fenomena ini.
Hasil studi terbaru ini telah dipublikasi di jurnal National Science Review pada 27 oktober 2026 dengan judul artikel, “The 2025 Record Low in Arctic Sea Ice Extent: Dual Forcing from La Niña and Southern Indian Ocean Warm Anomaly”; selengkapnya dapat diakses di sini.
Akan tetapi, mekanisme yang diidentifikasi dalam studi ini menawarkan tolok ukur baru yang konkret untuk keperluan prediksi musiman.
Jika para peramal cuaca dapat memantau kondisi di wilayah Pasifik tropis dan Samudra Hindia bagian selatan pada musim gugur, mereka mungkin dapat mendeteksi potensi penurunan ekstrem es laut Arktik saat musim dingin, beberapa bulan sebelumnya. (rus)

