Mutiara Ramadan 1444 H. (1): Puasa Ramadan Hanya Diwajibkan kepada Orang-orang Beriman

Inspirasi298 Dilihat
  • Pengantar Redaksi:
    Selama bulan Ramadan 1444 H. kabarika.id akan turut menyemarakkan kehidupan keagamaan melalui tulisan seputar keislaman dengan konten beragam. Seperti, ulasan tematik yang bersumber dari al-Qur’an, khazanah intelektual muslim, masalah fikih, dan sebagainya. Sajian ini diharapkan membero kontribusi dalam meningkatkan literasi keberagamaan dan keislaman, terutama selama bulan Ramadan yang diwarnai dengan meningkatnya girah beragama.
    Redaksi
  • ***

BULAN Ramadan laksana tamu agung bagi umat Islam. Kedatangannya disambut khusus dengan ucapan Marhaban yaa Ramadhan. Kedatangannya ditunggu-tunggu karena Ramadan memawa keistimewaan tersendiri dalam dimensi ibadah, hikmah, dan muamalah.

Ramadan merupakan bulan yang istimewa, karena di antara 12 bulan dalam kalender hijriyah hanya Ramadan yang disebut dalam al-Qur’an, yakni dalam surah al-Baqarah [2] ayat 185, mengenai turunnya wahyu al-Qur’an pada bulan Ramadan.

Ketum PP IKA Unhas Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman berdialog dengan pengurus IKA Unhas usai melaksanakan salat tarawih pertama Ramadan 1444 H, di musalah AAS Building lantai 1, Rabu (22/03/2023). (Foto: Sahar Ridwan)

Bulan Ramadan sering pula disebut bulan puasa, karena Allah Swt memerintahkan ibadah puasa sebulan penuh pada bulan Ramadan. Surah al-Baqarah ayat 183 yang merupakan dalil perintah wajib berpuasa di bulan Ramadan, dikhususkan kepada orang-orang beriman.

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu betakwa”. (Q.S. al-Baqarah [2]: 183).

Mengapa hanya orang beriman yang diwajibkan berpuasa di bulan Ramadan? Karena bagi orang beriman jika mendapat perintah dari Allah Swt dan Rasul-Nya, maka mereka langsung menerima dan menaatinya. Bagi orang beriman perintah Allh Swt itu tidak bisa ditawar.

Kalau menurut KH Mustain Syafii, seorang ulama asal Jombang, puasa Ramadan hanya diwajibkan untuk orang beriman karena orang beriman yakin dengan apa yang dilakukannya dan kebanyakan orang beriman itu berhasil.

“Orang beriman itu seperti petani yang menanam kacang dengan cara meletakkan bijinya di dalam tanah. Petani hanya berusaha dan yakin apa yang dia lakukan, selanjutnya Allah yang menumbuhkan,” kata KH Mustain Syafii.

Orang-orang beriman memiliki rasa takut di dalam hatinya sebagai bentuk penghambaan diri terhadap keagungan Allah Swt. Hanya orang beriman yang jika disebutkan nama Allah, muncul rasa takut dalam hatinya.
Hal itu ditegaskan Allah Swt dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka”. (Q.S. al-Anfal [8]: 2).

Sumber: www.marhaba.qa

Segala yang diperintahkan oleh Allah Swt pasti membawa manfaat, hikmah dan tujuan untuk kemaslahatan hambanya.

Tentang tujuan puasa Ramadan, Allah Swt sendiri menyebutnya dalam surah al-Baqarah ayat 183, yaitu agar orang-orang yang menjalankannya meraih predikat takwa.

Orang bertakwa menurut Ali Bin Abi Thalib mempunyai empat ciri utama, yaitu al-Khaufu min al-Jalil, merasa takut kepada Allah Swt yang mempunyai sifat Maha Agung.

Ciri kedua adalah al-Amalu bi at-Tanzil, beramal dengan apa yang diwahyukan oleh Allah Swt.

Ciri ketiga, adalah ar-Ridha bi al-Qalil, yakni merasa cukup dan rida dengan pemberian Allah Swt, meskipun hanya sedikit. Orang yang berpuasa harus bersyukur atas nikmat pemberian Allah walaupun hanya sedikit.

Ciri keempat orang bertakwa menurut Ali bin Abi Thalib adalah al-Isti‘dadu li Yaumi ar-Rahil, yaitu sentiasa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dan kembali menghadap Allah Swt.

Ciri yang terakhir ini sesuai dengan peringatan Allah Swt dalam surat al-Baqarah [2] ayat 197, agar para mukmin mempersiapkan bekal dalam menghadapi kehidupan akhirat, dan bekal yang paling baik adalah takwa.

(Penulis: Muhammad Ruslan)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *