Site icon KABARIKA

Mengawal Jihad Pangan Menteri Pertanian

 

Foto: Dok. Pribadi
Oleh Ahmad Musa Said*

Peneliti Pusat Riset Perikanan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

SEJAK menjabat kembali menjadi Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, boleh dikatakan waktu Andi Amran Sulaiman betul-betul terkuras untuk mengatasi masalah pangan di negeri agraris ini. Badai El Nino yang sebelumnya menyerang, betul-betul memporak-porandakan sendi-sendi pangan negeri ini.

Kelangkaan beras akibat gagal panen yang merupakan risiko cuaca ekstrem, yang juga berefek pada kenaikan harga, merupakan variabel yang membuat Andi Amran begitu tertekan di awal-awal masa jabatan periode keduanya ini.

Tak heran jika ada momen kembali ke Makassar di saat akhir pekan, beliau memanfaatkan untuk beramah tamah dengan keluarga, sahabatnya dan juga sesama pengurus IKA Unhas sambil berkelakar. “Di Makassar ini dengan kalian baru saya bisa tertawa lepas. Kalau sedang kerja, tekanan sangat tinggi karena nasib petani bisa korban kalau saya salah mengambil kebijakan”.

Di awal masa jabatannya, Andi Amran membuat gebrakan dengan fokus operasi khusus padi dan jagung. Dengan sosialisasi dan Bimtek yang juga sekaligus merupakan wadah menyerap informasi, Andi Amran langsung turun tangan dengan menyapa penyuluh di seluruh wilayah kunjungannya.

Tak heran, dalam satu pertemuan, bisa sampai dihadiri puluhan ribu peserta yang terdiri dari unsur petani, Dinas, BUMN Pertanian, dan unsur militer yang sebelumnya telah membuat MoU dengan Kementan.

MoU dengan TNI ini sendiri merupakan upaya Andi Amran untuk mengajak banyak pihak mengawal jihad pangan yang beliau lakukan. TNI yang terkenal dengan kedisiplinan dan sikap mengayomi, sangat dibutuhkan untuk mengawal program-program utama Kementan di masyarakat.

Setelah itu, Mentan mulai membenahi kendala pupuk. Dengan perjuangan beliau dan tentunya atas restu Presiden RI, distribusi pupuk diperluas jangkauan dan manfaatnya. Pupuk dapat diambil hanya dengan memperlihatkan KTP, pupuk dapat diambil setiap musim tanam, bukan hanya sekali setahun, dan masyarakat adat, hutan desapun dapat menikmati pupuk tersebut.

Bahkan dalam bulan Ramadhan, perjuangan beliau menghasilkan bunga yang manis di mana kuota pupuk subsidi dinaikkan 100% dan berbasis volume, bukan anggaran. Jadi berapapun harganya, kuota pupuk sebanyak 9,55 juta ton harus terpenuhi. Ini merupakan kabar gembira bagi petani.

Tak hanya sampai di situ, bantuan Alsintan (alat dan mesin pertanian) modern bagi sawah exsisting agar indeks pertanamannya meningkat, langsung digenjot pasca Idul Fitri ini.

Hari pertama kerja, langsung ke Merauke memantau proses pompanisasi dan panen raya. Di bawah guyuran hujan beliau bersama Wamenhan tetap antusias menyemangati petani yang sedang panen menggunakan combine (mesin pemanen padi terintegrasi) bantuan dari Kementan.

Apel siaga juga dilaksanakan di Markas Kodam V/Brawijaya di Surabaya dan Kodam IV/Diponegoro di Semarang dalam rangka pemberian bibit, pupuk, Alsintan serta pompanisasi bagi sawah tadah hujan yang selama ini belum memanfaatkan aliran sungai yang ada di sekitarnya, seperti Sungai Bengawan Solo di Pemalang dan Sungai Comal di Lamongan.

Sebuah momen mengharukan bagi kami yang berkesempatan diajak beliau dalam kunjungan kerjanya. Menyaksikan Andi Amran yang putra seorang Babinsa, hari ini memimpin apel siaga didampingi Gubernur dan Pangdam di hadapan ribuan peserta apel yang di antaranya terdapat Jenderal Bintang Tiga dan Dua.

Pepatah Arab menyatakan “Biqadril kaddi tuktasabul ma’aali”, kesuksesan yang diraih itu sebanding dengan usaha yang dilakukan. Tentunya ada doa dari orang tua dan lainnya yang mendoakan juga menjadi syarat spiritual dalam kesuksesan tersebut. Atas izin Allah tentunya.

Tak heran, atas kegigihannya dalam upaya mencapai swasembada pangan di negeri ini, Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan yang juga Presiden Terpilih untuk periode 2024–2029 menyapa beliau dengan sebutan Panglima Pangan.

Ibarat medan laga, meningkatkan produksi pangan di negeri ini memang butuh leader yang piawai, menguasai teori dan juga berpengalaman di lapangan.

Andi Amran yang juga Ketua Umum IKA Unhas ini, sejak kecil tumbuh besar dari keluarga petani, sudah paham betul seluk-beluk pertanian bahkan hal-hal yang sifatnya asesoris di sawah, seperti menangkap belut.

Bangku kuliah S1 sampai S3 di bidang pertanian sudah cukup untuk menguatkan pemahaman akan fakta empiris yang terjadi di lapangan. Ditambah pengalamannya sebagai penyuluh dan karyawan PTPN, semakin mematangkan mental tani pria yang baru saja memasuki usia ke-56 tahun pada tanggal 27 April kemarin.

Tentunya, segala ikhtiar ini masih terdapat kendala di sana-sini, yang justru terbongkar karena sikap beliau yang tidak mau sekadar menerima laporan yang merdu di telinga.

Dalam setiap kunjungan kerjanya, Andi Amran selalu mewawancarai langsung petani tentakng apa kendalanya dan apakah mereka sudah tahu regulasi terbaru terkait pupuk. Petani yang memang polos dan jujur menjawab apa adanya, bahwa masih kurang pupuk, susah tanpa Kartu Tani dan KTP belum diterima.

Mendengar ini Mentan Andi Amran langsung menginvestigasi, mulai dari Dirjen, Direktur di Kementan, Direktur Pupuk, Kadis Provinsi, Kadis Kabupaten sampai penyuluhnya. Terkadang didapatkan macetnya saluran informasi ada pada BUMN Pupuk, terkadang pula kendala pada level pengecer.

Terhadap hal-hal seperti ini, beliau selalu menegaskan, “Jangan main-main dengan nasib petani, pupuk itu sangat vital, terlambat sedikit, banyak kerugian yang diakibatkan.”

Bahkan terkadang Andi Amran mengancam akan menutup distributor dan pengecer yang nakal atau mengusulkan penggantian staf regional PT. Pupuk.

Tak ada satupun yang sempurna, seperti program-program Kementan ini, namun untuk Jihad Pangan ini, kami menyerukan agar kita semua berpartisipasi membantu dengan cara yang kita mampu. Selain doa, keberhasilan program ini sangat butuh sosialisasi dan pengawasan.

Tak heran Mentan Andi Amran kemudian membuat MoU dengan Polri. Sosialisasi dapat dibantu pengawalannya oleh penyuluh yang jumlahnya puluhan ribu, agar seluruh petani di negeri ini tahu haknya dan ke mana harus mengadu jika haknya diabaikan.

Begitu pula sosialisasi kepada seluruh pengecer, agar betul-betul menerapkan aturan yang berlaku dan memberikan kemudahan bagi petani. Perlu diawasi dan dimonitoring bersama, baik oleh penyuluh, aparat, petani bahkan masyarakat sipil lainnya yang merasa perlu ikut men-support jihad ini.

Tentunya, jihad pangan ini membutuhkan semangat, endurance dan solidaritas yang tinggi dari semua elemen. Kami yang asalnya dari peneliti perikananpun merasa perlu melihat celah dan peluang di mana kita dapat menopang program ini tanpa perlu mempermasalahkan sekat antardisiplin, seperti mina padi ataupun akuaponik. Dan untuk skala lebih besar apakah memungkinkan ada MoU antara BRIN dengan Kementan yang akan menjadi payung untuk kemitraan.

Toh, kalau jihad ini berhasil, di kala Indonesia mampu mencapai swasembada pangan, bahkan bisa menjadi negara pengekspor beras, itu akan menghasilkan manfaat yang bersifat multiplier effect baik bagi petani, masyarakat, negara kita maupun bagi masyarakat dunia.

Di kala itu, hadits “Khayrunnaasi anfa’uhum linnaasi”, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain, akan dirasakan berkahnya bagi kita semua yang ikut bergabung dalam barisan mujahid pangan ini. Tentu pahala jariyahnya tidak hanya akan dirasakan Mentan Andi Amran seorang, namun juga bagi pemimpin yang merestuinya, kawan yang mendukung serta kita semua yang ikut men-support walaupun sebesar biji zarrah.

Fastabiqul khayraat (berlomba-lombalah dalam kebaikan), Wabillahittaufiq wal hidayah (dan hanya Allahlah yang berkuasa memberi restu dan hidayah), Yakin Usaha Sampai.

————-

*) Penulis juga aktif sebagai pengurus Divisi Keagamaan PP IKA Unhas, Majelis Nasional KAHMI Bidang Maritim, Majelis Tabligh Muhammadiyah Makassar, Korps Muballigh Muhammadiyah Depok, Wasilah MUI Depok, KKSS Depok dan berbagai organisasi lainnya.

Exit mobile version