Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.
Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)
Hari ini langit Nusantara menyaksikan satu pergantian yang sunyi namun sarat makna. Tidak diiringi kembang api, tidak pula gegap gempita terompet.
Tahun Baru Islam datang dengan kelembutan seorang sahabat yang mengetuk pintu, mengajak kita merenung sejenak tentang ke mana langkah hidup hendak diarahkan.
Penetapannya pun telah ditegaskan secara resmi, bahwa 1 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026, sesuai kalender Kementerian Agama dan ditetapkan sebagai hari libur nasional, sebuah ketetapan yang sejalan pula dengan Kalender Hijriah Global Tunggal yang digunakan Muhammadiyah.
Muharram bukan sekadar penanda waktu. Ia mengingatkan kita pada peristiwa agung empat belas abad silam, ketika Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah menuju Madinah. Hijrah bukanlah pelarian, melainkan keberanian membangun peradaban baru yang berpijak pada keadilan dan persaudaraan.
Di Madinah, beliau tidak pertama-tama mendirikan istana, melainkan masjid sebagai pusat kebersamaan, lalu mempersaudarakan kaum pendatang dengan penduduk asli. Inilah inti makna religi sekaligus sosial dari Muharram: bahwa keimanan yang sejati selalu berbuah kepedulian terhadap sesama.
Lorong Sempit Ekonomi Dunia
Makna itu kini diuji oleh kenyataan yang tidak ringan. Dunia sedang melintasi lorong yang sempit, terlihat jelas saat Dana Moneter Internasional memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,1 persen, lebih rendah dari capaian 3,4 persen pada 2025, terutama akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Gangguan pada jalur energi mendorong harga melambung, dan dalam situasi semacam ini Bank Dunia menilai negara-negara berkembang menjadi kelompok yang paling rentan terhadap lonjakan harga energi dan gangguan pasokan. Ketika dunia bergejolak, gelombangnya selalu lebih dulu menerpa mereka yang berdiri di tepi.
Indonesia tidak kebal dari arus tersebut. Tekanan itu tergambar ketika Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 melambat ke level 5,0 persen akibat tekanan eksternal yang membebani investasi dan ekspor.
Di balik angka itu tersimpan wajah-wajah nyata. Memang patut kita syukuri bahwa persentase penduduk miskin pada September 2025 turun menjadi 8,25 persen atau sekitar 23,36 juta orang, sebuah perbaikan yang konsisten selama dua tahun terakhir. Namun jumlah itu masih setara dengan hampir seluruh penduduk satu pulau besar.
Lebih menyentuh lagi, garis kemiskinan justru naik 7,76 persen secara tahunan menjadi Rp641.443 per kapita per bulan, menandakan biaya untuk sekadar bertahan hidup semakin mahal, sehingga banyak keluarga sesungguhnya hanya berdiri tipis di atas batas.
Spirit Hijrah dan Jalan Keluar
Di sinilah Muharram menemukan relevansinya yang paling tajam. Pergantian tahun ini bukan ajakan untuk menyendiri dalam ibadah ritual, melainkan panggilan untuk turun tangan.
Tradisi malam 1 Suro di tanah Jawa, dengan doa bersama dan tirakat yang diwariskan turun-temurun, sesungguhnya menyimpan pesan yang sama: bahwa keselamatan diri tidak pernah terpisah dari keselamatan bersama. Spirit hijrah mengajarkan kita berpindah dari sikap acuh menuju keberpihakan, dari menumpuk sendiri menuju berbagi.
Lalu, apa solusi yang bisa kita tawarkan dalam konteks Indonesia? Jawabannya sebenarnya telah tertanam dalam ajaran kita sendiri, menunggu untuk dibangunkan. Instrumen zakat, infak, sedekah, dan wakaf adalah kekuatan ekonomi umat yang luar biasa besar, namun belum tergarap optimal.
Hal ini terbaca jelas ketika BAZNAS mencatat potensi zakat nasional mencapai sekitar Rp327 triliun per tahun, sementara penghimpunan yang baru terealisasi berada di kisaran Rp41 triliun. Jurang antara potensi dan kenyataan itu adalah ladang amal yang terbentang luas. Andai sebagian saja dari jurang itu dapat dijembatani, ia mampu menjadi bantalan sosial yang menahan keluarga rentan agar tak terjerembap kembali ke jurang kemiskinan saat badai ekonomi menerjang.
Akar persoalannya, sebagaimana diakui sendiri oleh BAZNAS bahwa rendahnya literasi zakat menjadi kendala utama karena banyak masyarakat belum memahami zakat sebagai instrumen kesejahteraan bersama, terletak pada kesadaran yang belum tumbuh penuh.
Maka langkah pertama adalah pendidikan, menumbuhkan keyakinan bahwa setiap rupiah yang ditunaikan melalui lembaga resmi adalah investasi sosial yang menggerakkan ekonomi mereka yang paling membutuhkan.
Solusi kedua menyangkut tata kelola. Kepercayaan publik hanya tumbuh di atas tanah transparansi.
Komitmen ini sejalan dengan langkah ketika BAZNAS memperkuat regulasi melalui penerapan standar akuntansi untuk transparansi serta memperluas pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan zakat.
Penyaluran pun sebaiknya bergeser dari sekadar bantuan konsumtif menuju pemberdayaan produktif: modal usaha kecil, pelatihan keterampilan, dan beasiswa pendidikan yang memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Solusi ketiga, dan barangkali yang paling mendasar, adalah menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi watak asli bangsa ini.
Persaudaraan ala Madinah, ketika yang berkecukupan merangkul yang kekurangan, bukanlah dongeng masa lalu. Ia bisa hidup di setiap masjid, setiap kampung, setiap rukun tetangga, dalam bentuk dapur umum, koperasi warga, atau gerakan saling menjamin di antara tetangga. Negara hadir dengan program-programnya, tetapi masyarakat sipil dan umat beragama memegang peran yang tak tergantikan dalam merawat jaring pengaman sosial dari bawah.
Tahun baru ini, dengan segala ketidakpastian yang membayanginya, justru menjadi panggung terbaik untuk membuktikan bahwa iman kita berbuah nyata.
Hijrah hari ini bukan lagi soal berpindah tempat, melainkan berpindah cara pandang: dari menghitung apa yang bisa kita kumpulkan menjadi menimbang apa yang bisa kita berikan.
Di tengah dunia yang sedang menahan napas, sebuah uluran tangan kecil bisa berarti seluruh dunia bagi seseorang yang menerimanya.
Semoga 1 Muharram 1448 H ini menjadi titik balik, bukan hanya dalam kalender, tetapi dalam hati kita masing-masing.
Dan biarlah sabda Rasulullah SAW menjadi kata terakhir yang kita bawa pulang dari renungan ini:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Semoga langkah kita semakin dekat pada keberkahan dan kepedulian.

