Site icon KABARIKA

Soal Ikhlas, Ternyata Kita Masih Amatir

Amril Taufik Gobel

Amril Taufik Gobel

Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.

Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)

“Kau ingin mengetahui rahasia kematian. Namun bagaimana mungkin kau menemukannya jika tidak kau cari di jantung kehidupan?”

Demikian penyair Kahlil Gibran menulis dalam bagian “On Death” dari karyanya The Prophet (1923).

Kalimat itu terasa seperti pintu masuk paling jujur untuk membicarakan satu kata yang sering kita ucapkan, namun jarang benar-benar kita kuasai: ikhlas.

Lagu “Sesi Potret” karya Enau (Putra Permana) bersama sang kakak, Ari Lesmana, yang dirilis pada 30 Januari 2026, menyentuh tepat di titik itu.

Ia bercerita tentang seorang anak rantau yang tahun ini akhirnya bisa pulang membawa oleh-oleh, tetapi yang menyambutnya bukan lagi sosok yang ia rindukan, melainkan “rumah baru” berupa nisan: hanya papan dan nama.

Di tengah kepedihan itu, terselip pengakuan yang membuat banyak pendengar tertegun, “Soal ikhlas ternyata aku masih amatir.”

Saya menemukan kejujuran yang langka dalam baris itu. Kita kerap memperlakukan ikhlas seolah saklar yang bisa dinyalakan seketika.

Padahal ikhlas lebih menyerupai keterampilan: dipelajari pelan, gagal berkali, dan tidak pernah benar-benar tamat. Mengakui diri sebagai “amatir” justru langkah pertama yang paling dewasa. Sebab orang yang merasa sudah ahli dalam melepaskan biasanya belum pernah sungguh kehilangan.

Ikhlas sering disalahpahami sebagai sikap tidak peduli. Seolah yang ikhlas adalah mereka yang tidak menangis, tidak menyesal, tidak terguncang. Pemahaman ini keliru dan justru berbahaya.

Ikhlas yang sehat bukan penolakan terhadap rasa sakit, melainkan kesediaan merangkulnya tanpa membiarkannya menguasai seumur hidup.

Tokoh dalam “Sesi Potret” menangis, menyesal, bahkan membenci sesi foto keluarga yang kini terasa ganjil karena satu kursi telah kosong.

Itu bukan kegagalan menjadi ikhlas. Itu adalah ikhlas yang sedang lahir, perlahan, lewat air mata.

Yang membuat lagu ini terasa begitu dekat bagi jutaan pendengar Indonesia bukan semata urusan kematian, melainkan latar yang sangat membumi: gengsi dan ekonomi.

“Tahun lalu berjuta alasanku, maaf tak bisa pulang, penghasilanku pas-pasan.” Betapa banyak di antara kita menunda pulang, menunda menelepon, menunda berkata sayang, dengan alasan belum punya cukup.

Kita ingin pulang dalam keadaan “sudah jadi orang”, lalu lupa bahwa orang yang menunggu di rumah tidak pernah meminta kemewahan.

Mereka hanya meminta kehadiran. Di sinilah ikhlas dan ekonomi bertemu pada satu simpul yang halus namun nyata.

Mari kita lihat keadaan yang melatari kegelisahan ini dengan jernih. Pada awal Mei 2026, Badan Pusat Statistik mengumumkan kabar yang tampak gemilang: ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan pertama 2026, capaian kuartal pertama tertinggi dalam tiga belas tahun terakhir.

Angka itu lebih tinggi dibanding 4,87 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah sebagai penopang utama. Di atas kertas, mesin ekonomi nasional sedang berderu.

Namun siapa pun yang pernah mendengarkan keluhan orang biasa tahu bahwa angka besar tidak selalu terasa di dapur rumah tangga.

Sebuah kajian The Indonesian Institute mengingatkan bahwa pertumbuhan itu sebagian besar bersifat musiman, terdorong momentum Ramadan dan Idulfitri serta belanja pemerintah, bukan oleh penciptaan lapangan kerja yang kokoh.

Ilustrasi Ikhlas, sumber ChatGPT Image

Pada saat yang sama, gelombang pemutusan hubungan kerja terus membayangi sektor padat karya. Data Konfederasi Serikat Pekerja Nasional mencatat sekitar 126 ribu buruh kehilangan pekerjaan sejak 2022 hingga akhir 2025, mayoritas dari industri tekstil.

Nilai tukar rupiah pun sempat menyentuh kisaran Rp17.346 per dolar Amerika Serikat pada akhir April 2026, sementara daya beli sebagian masyarakat belum benar-benar pulih.

Inilah wajah zaman kita: pertumbuhan yang tinggi berdampingan dengan kecemasan yang juga tinggi. Seorang anak rantau membaca berita ekonomi membaik, namun upahnya stagnan, ongkos pulang mahal, dan rasa “belum cukup” terus menahannya di perantauan.

Persis di celah inilah tragedi “Sesi Potret” mengintai siapa saja. Tantangan terbesar bukan semata krisis dompet, melainkan krisis waktu dan kehadiran. Ekonomi yang tergesa membuat manusia menukar momen tak tergantikan dengan janji “nanti, kalau sudah lebih mapan”.

Padahal, seperti yang dipahami tokoh dalam lagu itu terlambat, kepergian tidak pernah memberi aba-aba.

Lalu apa yang bisa kita lakukan, secara pribadi maupun sebagai bangsa?

Pada tataran batin, saya selalu mengajak orang untuk berhenti mengukur kepulangan dengan ukuran materi.

Telepon yang tulus lebih berharga daripada oleh-oleh mahal yang tertunda bertahun. Kalimat sayang yang diucapkan hari ini menutup pintu bagi penyesalan esok. Ikhlas tidak menunggu kita kaya; ia hanya meminta kita hadir.

Merawat ikhlas berarti melatih diri menerima bahwa rezeki, kehilangan, dan pertemuan berjalan dalam waktu yang bukan milik kita sepenuhnya, sambil tetap berusaha sekuat tenaga di bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Pada tataran kebijakan, kegelisahan ekonomi yang memicu penundaan ini bisa ditekan jika pertumbuhan benar-benar diterjemahkan menjadi lapangan kerja layak dan upah riil yang naik.

Penguatan industri padat karya agar tidak terus melakukan pemutusan kerja, stabilisasi harga pangan, perluasan jaring pengaman sosial bagi keluarga rentan, serta perlindungan bagi para pekerja migran dan perantau, semua itu bukan sekadar urusan angka makro.

Kebijakan semacam itu, pada akhirnya, membeli sesuatu yang lebih mahal dari uang: ia membeli ketenangan agar seorang anak berani pulang lebih sering, agar tidak ada lagi yang menunda kasih sayang demi mengejar kata “cukup” yang tak pernah benar-benar tiba.

Maka pesan dari “Sesi Potret” sesungguhnya bukan ratapan, melainkan undangan.

Undangan untuk menelepon ibu malam ini juga. Undangan untuk pulang sebelum yang ditunggu berubah menjadi papan dan nama. Undangan untuk berdamai dengan status kita sebagai amatir yang masih belajar melepaskan, sebab di situlah letak kerendahan hati yang menyembuhkan.

Kita semua amatir di hadapan kehilangan, dan tidak apa-apa.

Yang penting kita tidak berhenti berlatih untuk hadir, mengasihi, dan akhirnya, dengan tenang, merelakan.

Saya menutup dengan kalimat yang sering dilekatkan pada Bunda Teresa, “Kita tidak bisa melakukan hal-hal besar, kita hanya bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”

Mungkin ikhlas memang tidak pernah menjadikan kita ahli.

Tetapi setiap kali kita memilih hadir, memeluk yang masih ada, dan mengucap sayang tanpa menunggu waktu yang lebih baik, kita sedang melakukan hal kecil itu dengan cinta yang besar.

Dan barangkali, justru di sanalah seorang amatir pelan-pelan belajar pulang.

Exit mobile version