Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.
Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)
“Misi seorang pelaku industri adalah mengalahkan kemiskinan,” begitu Konosuke Matsushita, sang pendiri Panasonic, menitipkan keyakinannya kepada dunia.
Keyakinan itu pula yang seumur hidup dijalani oleh seorang anak Gorontalo bernama Rachmat Gobel, sosok yang bagi kami adalah kakak, sahabat, sekaligus panutan, dan yang pagi ini pergi untuk selamanya di tengah senyapnya waktu subuh.
Jumat, 10 Juli 2026, pukul 03.20 WIB, duka itu mengalir dari Rumah Sakit Brawijaya Tebet, Jakarta Selatan. Di usia 63 tahun, beliau menghadap Sang Pencipta, meninggalkan pendamping setianya, Ibu Retno Damayanti, dua buah hati, Nurfitria Sekarwillis Kusumawardhani dan Mohammad Arif Gobel, serta para cucu yang selalu menghangatkan hari-harinya.
Rumah duka di Jalan Supomo Nomor 55A, Jakarta Selatan, menjadi tempat persemayaman, sebelum jenazah diberangkatkan menuju peristirahatan terakhir di Gorontalo, bumi kelahiran yang tidak pernah absen dari kerja dan doanya.
Kami yang beruntung mengenalnya secara pribadi tahu betul: Pak Rachmat jauh lebih besar dari sekadar deretan jabatan di dunia bisnis dan politik. Hidupnya tidak dimulai dari ruang rapat direksi yang nyaman, melainkan dari debu lantai pabrik.
Semasa masih SMP, ia sudah memegang sapu sebagai petugas kebersihan di pabrik keluarganya sendiri, buah gemblengan sang ayah, Thayeb Mohammad Gobel, pembuka jalan industri elektronik di tanah air. Pelajaran pertama yang ia serap di sana sederhana namun abadi: martabat tidak jatuh dari langit sebagai warisan, ia direbut lewat kerja keras hari demi hari.
Rachmat Gobel lahir di Gorontalo, 3 September 1962, sebagai anak kelima sekaligus putra laki-laki pertama. Masa mudanya ia habiskan menempa diri di negeri orang. Gelar sarjana Perdagangan Internasional dari Chuo University, Tokyo, sudah ia raih pada usia 24 tahun, disusul masa magang yang keras di Matsushita Group dekat Osaka.
Ketika berumur 27 tahun, tepatnya tahun 1989, ia kembali ke Jakarta dan menapaki karier sebagai Asisten Presiden Direktur PT National Gobel, perusahaan yang sekarang bernama PT Panasonic Manufacturing Indonesia. Persekutuan usaha Indonesia dan Jepang yang dirintis ayahnya sejak 1970 itu ia jaga dan ia kembangkan hingga menjadi ladang penghidupan sekaligus sekolah bagi puluhan ribu pekerja bangsa ini.
Jerih payah itu diakui dua negara: Takushoku University menganugerahkan doktor kehormatan kepadanya pada 2002, lalu sekali lagi pada 2014, sebagai penghormatan atas jembatan persahabatan yang tak henti ia bangun.
Ruang pengabdiannya kemudian melebar ke pemerintahan. Pada 2014 hingga 2015, Presiden Joko Widodo memercayakan kursi Menteri Perdagangan kepadanya, masa singkat namun padat, ketika ia berjuang keras melindungi pasar dalam negeri dan menyalakan mimpi agar Indonesia sanggup berdiri di atas kekuatan industrinya sendiri.
Meski begitu, hatinya tidak pernah beranjak dari rakyat kecil di kampung halaman. Bukti cintanya berbalas: pada Pemilu 2019, warga Gorontalo menitipkan 146.067 suara dari total 721.032 suara se-provinsi kepadanya, amanah besar yang membawanya duduk sebagai Wakil Ketua DPR RI 2019 hingga 2024. Kepercayaan itu diperpanjang lewat Pemilu 2024, dan di Komisi VI DPR RI itulah beliau bertugas sampai napas penghabisan.
Masyarakat Gorontalo menyematkan gelar adat yang penuh makna kepadanya: Ti Bulilango Hunggia, Pemberi Cahaya Negeri. Gelar itu ia bayar lunas dengan tindakan. Ia turun ke sawah bersama petani, memperjuangkan saluran irigasi, menggerakkan ketahanan pangan, dan menanamkan keyakinan kepada pemuda Gorontalo bahwa cita-cita boleh menjulang setinggi Tokyo tanpa harus mencabut akar dari tanah sendiri.
Tidak heran bila kepergiannya pagi ini menenggelamkan Pemerintah Provinsi Gorontalo dan para sahabatnya di berbagai daerah dalam kesedihan yang dalam; yang hilang bukan semata seorang wakil rakyat, melainkan seorang bapak bagi kampung halamannya.
Dalam ingatan saya, gaya bicaranya selalu sama: tenang, terukur, namun berkobar di dalam. Ia tidak pernah tergoda gemerlap sorotan. Perbincangan favoritnya berkisar pada mutu barang buatan dalam negeri, nasib para pekerja pabrik, dan keyakinannya bahwa bangsa ini harus berhenti puas menjadi pasar lalu bangkit menjadi bangsa produsen.
Di matanya, industri bukan sekadar mesin dan neraca, melainkan harga diri sebuah bangsa. Nilai itu ia pegang sejak belia dan ia tularkan kepada setiap orang yang pernah bekerja di sisinya.
Dari hidup yang begitu utuh ini, generasi penerus dapat memungut banyak bekal.
Pertama, kesuksesan tidak mengenal jalan pintas; putra pemilik pabrik itu justru memilih mengawali segalanya dengan menyapu lantai, dan dari itulah wibawanya bersemi.
Kedua, ilmu dan pergaulan dunia wajib dibawa pulang; Jepang memberinya kecakapan, tetapi Indonesia selalu menjadi tujuan akhir baktinya.
Ketiga, kekuasaan hanyalah perkakas; kursi menteri, pimpinan parlemen, dan kebesaran usaha ia perlakukan sebagai titipan untuk melapangkan jalan orang banyak, bukan untuk memuliakan diri sendiri.
Keempat, cinta kampung halaman bukan kelemahan; justru dari Gorontalo yang jauh dari pusat kekuasaan, ia membuktikan cahaya bisa terbit dari timur.
Hari ini permintaan keluarga besar kepada kita amat bersahaja: doa.
Doa agar seluruh khilafnya dimaafkan, amal baktinya diterima, dan tempat termulia disediakan untuknya di sisi Allah SWT.
Bagi kita yang masih tinggal, kewajibannya terang benderang: menjaga bara yang telah ia nyalakan, di pabrik-pabrik, di persawahan Gorontalo, dan di ruang-ruang sidang tempat suara rakyat kecil tidak boleh berhenti diperjuangkan.
Selamat jalan, Pak Rachmat. Cahaya negeri itu kini kembali kepada Pemiliknya, namun terangnya masih lama menyala di bumi Indonesia.
“Yang berarti dalam hidup bukanlah sekadar fakta bahwa kita pernah hidup. Perbedaan yang kita buat bagi kehidupan orang lainlah yang akan menentukan makna hidup yang kita jalani,” demikian wasiat Nelson Mandela.
Dan Rachmat Gobel telah menuntaskan perbedaan itu, untuk Gorontalo, untuk industri nasional, untuk Indonesia.

