Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.
Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)
“What counts in life is not the mere fact that we have lived. It is what difference we have made to the lives of others.” — Nelson Mandela, sebagaimana dikutip dalam laman Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Barangkali tidak banyak falsafah bisnis yang lahir dari halaman rumah, kebun, atau tanaman yang begitu akrab dengan kehidupan rakyat.
Namun Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel menemukan pelajaran besar justru dari pohon pisang. Pendiri kelompok usaha Gobel itu melihat pisang bukan sekadar tanaman.
Ia melihat sebuah gambaran tentang bagaimana perusahaan seharusnya hidup di tengah masyarakat.
Dalam penjelasan resmi Gobel International mengenai pendirinya, pohon pisang dipilih sebagai lambang peran perusahaan karena hampir seluruh bagiannya berguna, tumbuh dalam kelompok, mudah dijumpai, dan sebelum mati telah menyiapkan tunas sebagai generasi berikutnya.
Nilai itu kemudian menjadi dasar Banana Tree Philosophy dan diterjemahkan ke dalam tujuh prinsip perusahaan sebagaimana tercantum pada filosofi resmi Gobel Group. Sederhana, tetapi menghunjam dalam: sebuah usaha tidak cukup hanya tumbuh tinggi. Ia harus berguna, tumbuh bersama, berkorban, dan menyiapkan penerus.
Falsafah itulah yang diwarisi Rachmat Gobel. Putra kelima sekaligus putra pertama Thayeb Mohammad Gobel tersebut menerima kendali bisnis keluarga setelah ayahnya wafat pada 1984, sebagaimana dicatat dalam profil kepemimpinan Gobel International.
Ia tidak sekadar menerima perusahaan. Ia menerima amanah, sejarah, nama keluarga, dan sebuah pohon nilai yang akarnya telah ditanam jauh sebelum dirinya memegang pucuk pimpinan.
Kini, setelah H. Rachmat Gobel berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026 pukul 03.20 WIB di Jakarta dalam usia 63 tahun, sebagaimana diberitakan Detik, falsafah pohon pisang itu terasa semakin menemukan maknanya.
Seorang manusia akhirnya akan menyelesaikan musim hidupnya. Tetapi pertanyaan terpenting bukan berapa lama ia berdiri. Pertanyaannya ialah: berapa banyak tunas yang tumbuh karena kehadirannya?
Rachmat menjawab pertanyaan itu melalui perjalanan panjang yang melintasi dunia usaha, pemerintahan, parlemen, dan pengabdian kepada daerah kelahirannya, Gorontalo.
Dalam bisnis, ia menghadapi ujian yang tidak ringan. Krisis ekonomi 1998 merobohkan banyak kelompok usaha besar. Utang membengkak, pasar menyusut, dan struktur perusahaan yang berat membuat banyak korporasi kehilangan daya tahan.
Gobel International mencatat bagaimana Rachmat melakukan restrukturisasi, mengurangi lapisan manajemen, dan mendorong perubahan agar kelompok usaha keluarga tetap bertahan. Di sinilah pohon pisang tidak diperlakukan sebagai slogan yang dipasang di dinding kantor. Falsafah itu menjadi cara membaca krisis.
Pohon pisang lentur. Ia tidak memiliki batang kayu keras seperti jati, tetapi justru kelenturan itu membuatnya mampu bertahan dan terus menghasilkan. Dalam bahasa manajemen modern, Rachmat memahami bahwa organisasi tidak boleh jatuh cinta kepada kebesarannya sendiri.
Perusahaan harus sanggup berubah, memangkas beban, memperbaiki proses, dan kembali kepada alasan mengapa ia didirikan.
Jejak industri yang diwarisinya pun bukan perjalanan kemarin sore. Kelompok Gobel bermula pada 1954 dari usaha perakitan radio transistor Tjawang. Kemitraan dengan Matsushita, yang kemudian dikenal melalui Panasonic, berkembang menjadi salah satu contoh panjang kerja sama industri Indonesia dan Jepang.
Gobel International mencatat bahwa pada 2020 kemitraan Panasonic dan Gobel telah mencapai usia 60 tahun. Sebuah kemitraan enam dekade tidak mungkin bertahan hanya dengan kontrak. Ia memerlukan kepercayaan, kesetiaan terhadap mutu, kemampuan beradaptasi, dan penghormatan terhadap manusia.
Rachmat memahami pesan ayahnya: perusahaan harus seperti pohon pisang yang seluruh bagiannya memberi manfaat. Karena itu laba penting, tetapi laba bukan satu-satunya bahasa keberhasilan.
Perusahaan yang sehat harus menciptakan pekerjaan, membangun keterampilan, menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat, menghidupkan mitra, dan melahirkan pemimpin baru. Keuntungan merupakan bahan bakar agar pohon terus bertunas, bukan mahkota untuk dipamerkan.
Ketika memasuki ruang publik, Rachmat membawa watak yang sama. Ia pernah dipercaya sebagai Menteri Perdagangan pada 2014–2015 dan kemudian menjadi anggota DPR RI dari Gorontalo.
Profil Fraksi NasDem DPR RI mencatat kiprahnya sebagai pengusaha dan politisi yang mencapai posisi penting di eksekutif maupun legislatif. Perjalanan itu memperlihatkan satu hal: ia tidak memisahkan secara kaku antara industri dan kebangsaan.
Bagi Rachmat, membangun pabrik berarti membangun kemampuan bangsa. Membela produk dalam negeri berarti menjaga martabat tenaga kerja Indonesia. Mengembangkan daerah bukan semata membangun jalan atau gedung, melainkan membuka kemungkinan agar anak muda tidak merasa harus meninggalkan kampung halaman untuk memperoleh masa depan.
Gorontalo menjadi halaman batin yang terus ia datangi.
Pada 2025, misalnya, ia mempertemukan PNM dan BRI untuk mendorong pengembangan desa UMKM di Gorontalo. Gagasan tersebut diarahkan pada pembentukan ekosistem usaha, bukan bantuan sesaat.
Pada bidang kesehatan, ia juga mendorong Gorontalo menjadi pusat layanan kesehatan di Sulawesi dan Indonesia Timur melalui penguatan fasilitas, sumber daya manusia, serta infrastruktur kesehatan.
Di situlah sisi dermawan Rachmat sebaiknya dibaca secara lebih utuh. Kedermawanan bukan hanya soal tangan yang memberikan uang. Bentuk tertingginya ialah kemauan memakai jejaring, pengaruh, pengalaman, dan waktu untuk membuka pintu bagi orang lain.
Memberi ikan menolong seseorang hari ini. Membangun ekosistem usaha, pendidikan, kesehatan, dan akses pembiayaan dapat mengubah nasib satu keluarga untuk beberapa generasi.
Maka tidak mengherankan bila kepergiannya memunculkan duka yang luas, terutama di Gorontalo. Pemerintah Kabupaten Gorontalo bahkan menggelar pengajian dan doa bersama selama enam hari untuk almarhum, seperti diberitakan melalui laman resmi Pemerintah Kabupaten Gorontalo. Kepolisian Daerah Gorontalo juga menggelar salat gaib, sebagaimana dilaporkan ANTARA.
Penghormatan semacam itu tidak lahir dalam semalam. Kekaguman publik dibangun dari jejak panjang, dari perjumpaan, dari pertolongan yang mungkin tidak seluruhnya masuk berita, serta dari perasaan bahwa seseorang tidak pernah benar-benar meninggalkan tanah asalnya.
Namun penghormatan terbaik kepada Rachmat Gobel bukan sekadar merangkai kenangan. Indonesia perlu bertanya: masih relevankah falsafah pohon pisang menghadapi ekonomi dunia hari ini?
Jawabannya justru semakin relevan.
Dunia memasuki 2026 dengan tekanan geopolitik, gangguan energi, perubahan perdagangan, dan percepatan kecerdasan buatan. Bank Dunia dalam Global Economic Prospects memproyeksikan pertumbuhan global 2026 hanya sekitar 2,5 persen di tengah kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik.
Pada saat bersamaan, Indonesia menunjukkan daya tahan. Indonesia Economic Prospects Juni 2026 dari Bank Dunia mencatat produk domestik bruto Indonesia tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada triwulan pertama 2026, ditopang terutama oleh permintaan domestik yang tangguh.
Angka 5,6 persen patut memberi harapan. Namun pohon yang terlihat hijau dari kejauhan belum tentu seluruh akarnya memperoleh air yang sama.
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan Indonesia sekitar 5 persen pada 2026, sementara tekanan fiskal meningkat akibat kenaikan biaya energi dan kebutuhan belanja negara.
Pada awal Juli 2026, proyeksi defisit anggaran bahkan melebar menjadi 2,85 persen dari PDB, mendekati batas hukum 3 persen, sebagaimana dilaporkan Reuters. Tekanan nilai tukar, arus modal, biaya energi, daya beli, serta kebutuhan menciptakan pekerjaan berkualitas menjadi ujian yang tidak ringan.
Dalam situasi seperti ini, Indonesia memerlukan ekonomi ala pohon pisang.
Pertama, setiap kebijakan ekonomi harus menghasilkan manfaat sebanyak mungkin bagi kehidupan rakyat. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada angka investasi dan nilai ekspor. Pabrik harus menumbuhkan pemasok lokal, sekolah vokasi, perusahaan kecil, jasa logistik, bengkel, usaha makanan, serta tenaga terampil di sekitarnya. Jika satu investasi raksasa berdiri tetapi masyarakat sekitar tetap menjadi penonton, maka pohon itu mungkin tinggi, tetapi buahnya tidak sampai ke meja rakyat.
Kedua, Indonesia harus kembali memperkuat industri pengolahan. Pengalaman keluarga Gobel menunjukkan bahwa kemandirian bangsa dibangun melalui keberanian memproduksi, belajar teknologi, dan menjalin kemitraan jangka panjang. Indonesia tidak boleh puas menjadi pasar bagi 280 juta lebih penduduknya.
Kita harus menjadi bangsa pembuat. Pemerintah perlu memberi kepastian aturan, energi yang kompetitif, pembiayaan industri, perlindungan yang cerdas terhadap praktik perdagangan tidak adil, serta dorongan nyata bagi penggunaan komponen dalam negeri yang benar-benar meningkatkan kemampuan industri, bukan sekadar memenuhi dokumen.
Ketiga, perusahaan Indonesia harus menyiapkan tunas. Inilah bagian falsafah pohon pisang yang sering dilupakan. Banyak organisasi hebat melemah setelah pendirinya pergi karena pengetahuan, hubungan, dan kewenangan terlalu terkonsentrasi pada satu orang.
Rachmat sendiri merupakan bukti pentingnya regenerasi. Setelah Thayeb wafat pada 1984, estafet kepemimpinan berlanjut. Perusahaan bertahan melewati krisis dan perubahan zaman.
Karena itu setiap BUMN, perusahaan keluarga, koperasi, dan usaha menengah harus memiliki peta suksesi. Pemimpin wajib dinilai bukan hanya dari laba tahun ini, tetapi juga dari berapa banyak pemimpin baru yang ia siapkan.
Direksi yang hebat seharusnya meninggalkan sistem yang tetap bekerja saat dirinya tidak lagi berada di ruang rapat. Seorang kepala daerah yang berhasil seharusnya meninggalkan tata kelola, bukan ketergantungan. Seorang politisi besar seharusnya melahirkan kader, bukan pengikut yang hanya menunggu perintah.
Keempat, teknologi dan kecerdasan buatan harus diperlakukan sebagai alat untuk memperluas manfaat. Dunia sedang bergerak cepat. Perusahaan yang menolak perubahan dapat tertinggal, tetapi perusahaan yang memakai teknologi tanpa hati nurani juga dapat menciptakan luka sosial.
Semangat pohon pisang menawarkan jalan tengah: teknologi harus meningkatkan produktivitas sekaligus menumbuhkan manusia. Otomatisasi perlu disertai pelatihan ulang.
Digitalisasi UMKM harus dibarengi akses pasar dan pembiayaan. Kecerdasan buatan harus membantu pekerja menjadi lebih cakap, bukan sekadar menjadi alasan termudah untuk memangkas tenaga kerja.
Kelima, politik ekonomi Indonesia harus kembali memuliakan pelayanan. Rachmat membawa pengalaman industri ke parlemen. Model seperti ini penting, sepanjang pengalaman profesional diterjemahkan menjadi kebijakan untuk kepentingan luas. Indonesia memerlukan lebih banyak wakil rakyat yang memahami bagaimana pabrik bekerja, bagaimana petani menghadapi harga, bagaimana pengusaha kecil mencari modal, bagaimana proyek terhambat aturan, dan bagaimana seorang pekerja pulang membawa kecemasan tentang biaya sekolah anaknya.
Falsafah pohon pisang sesungguhnya merupakan kritik halus terhadap kepemimpinan yang hanya ingin terlihat. Pohon pisang tidak sibuk memamerkan batang. Ia menghasilkan buah. Daunnya berguna. Jantungnya dapat dimanfaatkan. Pelepahnya memiliki fungsi. Lalu, ketika waktunya selesai, tunas telah tumbuh di sekitarnya.
Begitulah seharusnya seorang pemimpin.
Rachmat Gobel telah menyelesaikan musim hidupnya. Ia pernah menjadi pengusaha. Ia pernah duduk di kabinet. Ia pernah memimpin dari kursi parlemen.
Ia membawa nama Gorontalo ke panggung nasional, tetapi pada saat yang sama terus menoleh ke tanah leluhur. Gelar, jabatan, dan ruang kerja akhirnya ditinggalkan. Yang tersisa ialah pertanyaan tentang manfaat.
Dan mungkin, justru di situlah kita memahami mengapa pohon pisang menjadi falsafah keluarga Gobel.
Thayeb Mohammad Gobel menanam nilai. Rachmat Gobel merawat dan membawanya menyeberangi zaman. Tugas generasi sesudahnya bukan mengawetkan falsafah itu sebagai cerita keluarga, melainkan menjadikannya keberanian nasional: membangun perusahaan yang berguna, industri yang memandirikan bangsa, politik yang melayani, kekayaan yang ikut mengangkat sesama, dan kepemimpinan yang tidak takut menyiapkan pengganti.
Sebab seorang pemimpin boleh pergi. Sebuah generasi boleh selesai. Sebuah nama mungkin perlahan menjauh dari berita utama. Namun selama tunas-tunas kebaikan terus tumbuh, sesungguhnya pohon itu belum mati.
Pada akhirnya, bukan semata berapa besar perusahaan yang kita bangun, seberapa tinggi jabatan yang pernah kita duduki, atau seberapa sering nama kita disebut. Ukuran kehidupan terletak pada perbedaan yang kita tinggalkan dalam hidup orang lain.
Rachmat Gobel telah pergi.
Tetapi pohon pisang itu masih bertunas.
Dan Indonesia harus memastikan tunas-tunas itu tumbuh menjadi hutan pengabdian.

