Site icon KABARIKA

Haruskah Orang Tua Menggunakan Layar Gawai untuk Menenangkan Anak? Ini Jawabannya!

KABARIKA.ID, MAKASSAR — Amukan anak (tantrum) sepertinya selalu terjadi di saat yang paling tidak tepat. Hal itu muncul di toko yang ramai, antrean kasir yang panjang, di tempat acara, atau saat ibu rumah tangga sibuk di dapur.

Orang tua yang kelelahan merogoh saku dan menyerahkan gawai ke anaknya itu. Anak pun diam, setidaknya untuk sementara waktu.

Banyak orang tua melakukan hal ini setiap hari. Bahkan ada istilah untuk kebiasaan ini, yakni “regulasi emosi melalui media”.

Pertanyaan yang lebih sulit adalah apa dampak kebiasaan tersebut terhadap pikiran anak yang masih muda dan sedang berkembang. Sebuah analisis baru menyatakan bahwa jawabannya tidak sama untuk setiap anak.

Beralih ke Layar

“Bukan sekadar dampaknya yang lebih besar atau lebih kecil pada sebagian anak, tapi pola dasarnya pun berbeda untuk anak yang berbeda,” ujar Jane Shawcroft, asisten profesor komunikasi di The Ohio State University (OSU).

Shawcroft memimpin penelitian baru mengenai bagaimana menenangkan anak dengan layar gawai dapat membentuk cara berpikir mereka selama masa kanak-kanak awal.

Pertanyaannya melampaui perdebatan usang mengenai layar yang “baik” versus layar yang “buruk”.

Kekhawatiran ini sudah tidak asing lagi bagi hampir semua orang tua masa kini. Namun, bukti ilmiah di baliknya selama ini masih simpang siur dan membingungkan.

Selama ini, belum ada gambaran yang jelas mengenai bagaimana hal tersebut berdampak pada seorang anak secara spesifik seiring berjalannya waktu.

Untuk itu, Shawcroft memanfaatkan proyek jangka panjang di Brigham Young University (BYU) yang telah memantau sekelompok anak yang sama selama kurun waktu yang panjang di masa kanak-kanak mereka.

Keterampilan yang Mengendalikan Perilaku

Penelitian ini berfokus pada fungsi eksekutif, yaitu serangkaian keterampilan mental yang memungkinkan anak mengendalikan perilaku mereka sendiri.

Dua di antara keterampilan ini tampak sangat krusial pada masa kanak-kanak awal.

Fleksibilitas kognitif memungkinkan anak untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan baru, melihat sudut pandang lain, dan memecahkan masalah.

Kendali inhibisi memungkinkan anak untuk berhenti sejenak dan menahan impuls sebelum bertindak.

Kedua kemampuan ini menjadi landasan penting bagi kehidupan mereka di masa depan.

Kemampuan tersebut turut menentukan keberhasilan di sekolah, kualitas persahabatan yang erat, serta kesehatan perilaku jangka panjang hingga mereka beranjak dewasa.

Keduanya terbentuk sejak dini, saat dunia batin anak masih dalam tahap perkembangan.

Justru pada masa itulah penggunaan layar biasanya mulai masuk ke dalam keseharian mereka.

Sebuah Siklus Timbal Balik

Kumpulan data ini berasal dari Project M.E.D.I.A., yang mencakup enam tahap pengamatan.

Proyek ini memantau anak-anak yang sama sejak usia dua setengah tahun hingga tujuh setengah tahun.

Peneliti menguji tiga hipotesis terhadap data tersebut: layar mungkin membentuk keterampilan anak, keterampilan anak mungkin memengaruhi seberapa sering orang tua memberikan layar, atau keduanya mungkin saling memengaruhi seiring berjalannya waktu.

Sebagian besar anak menunjukkan pola saling memengaruhi tersebut. Seberapa mudah anak menjadi tenang memengaruhi seberapa sering orang tua menyalakan layar.

Penggunaan layar kemudian memengaruhi perkembangan keterampilan anak, dan keterampilan tersebut pada gilirannya memperkuat kebiasaan menggunakan layar sebagai sarana penenang.

“Anak memengaruhi pola asuh, dan pola asuh memengaruhi perkembangan anak,” ujar Shawcroft.

Dua Langkah ke Depan

Shawcroft sudah menduga hal ini. Pola siklus tersebut membuka lebih dari satu kemungkinan tindakan.

Bagi kebanyakan keluarga, hal ini memberikan secercah harapan. Orang tua dapat mengubah cara dan waktu mereka memberikan layar, atau mereka dapat membangun keterampilan anak melalui cara lain yang mengurangi ketergantungan pada layar.

Jalur kedua ini lebih penting daripada yang terlihat pada awalnya. Anak dengan kemampuan fokus yang lebih stabil dan pengendalian impuls yang lebih baik cenderung jarang mencapai titik emosi yang meledak-ledak, sehingga layar tidak perlu terlalu sering diandalkan sebagai solusi darurat.

Hal ini juga mengurangi tekanan pada momen-momen menegangkan, misalnya saat mengantre di kasir.

Sebagian besar upaya nyata dapat dilakukan pada saat-saat santai dan tenang, jauh sebelum “badai” emosi berikutnya datang.

Saat Pola Berubah

Dua kelompok kecil menunjukkan pola yang berbeda dari siklus tersebut. Pada salah satu kelompok, yang mencakup sekitar enam persen anak, kedua keterampilan tersebut berkaitan dengan penggunaan layar sebagai penenang melalui cara-cara yang belum dapat dijelaskan sepenuhnya oleh tim peneliti.

Tahap lanjutan dari proyek yang sedang berjalan ini tengah mengumpulkan lebih banyak informasi mengenai anak-anak tersebut. Untuk saat ini, aspek tersebut masih belum terjawab sepenuhnya.

Kelompok kedua, yang mencakup sekitar tujuh persen anak-anak, menunjukkan pola interaksi satu arah.

Penggunaan layar tampaknya memengaruhi perkembangan keterampilan mereka, namun keterampilan tersebut tidak memprediksi seberapa sering orang tua beralih menggunakan layar.

Secara keseluruhan, kedua kelompok ini hanya mewakili sebagian kecil dari anak-anak yang terlibat dalam proyek tersebut.

Mereka juga merupakan kelompok yang sering kali terabaikan dalam narasi sederhana yang umum beredar.

Hasil studi ini telah dipublikasikan dalam Journal of Communication, pada 9 Juli 2026, dengan judul: “Media Emotion Regulation and Executive Functions: Individual Differences in Temporal Ordering Among Young Children”. Selengkapnya dapat diakses di sini.

Ada satu hal yang membedakan keluarga-keluarga ini. Orang tua dalam kelompok ini cenderung melaporkan tingkat depresi yang lebih tinggi.

Mengasuh anak kecil adalah tugas yang berat, bahkan di saat-saat terbaik sekalipun. Layar sering kali menjadi satu-satunya sarana yang mudah dijangkau ketika energi orang tua sudah habis dan anak sedang rewel atau mengamuk. (rus)

Exit mobile version