Site icon KABARIKA

Sebelum Anak Lelaki Itu Pergi: Membaca “Father and Son” di Tengah Ekonomi yang Gelisah

Amril Taufik Gobel

Amril Taufik Gobel

Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.

Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)

“Anakmu bukanlah anakmu.” – Kahlil Gibran, Sang Nabi (1923)

Kalimat pendek itu selalu membuat dada saya sesak sekaligus lapang.

Sesak, karena saya seorang ayah dari seorang anak lelaki yang tingginya kini hampir menyamai saya.

Lapang, karena Gibran mengingatkan bahwa tugas orang tua bukan memiliki, melainkan mengantar.

Ia mengibaratkan orang tua sebagai busur dan anak sebagai anak panah yang dilepaskan menuju hari esok, sebuah tempat yang tidak akan pernah bisa kita kunjungi.

Setiap kali perumpamaan itu melintas di kepala, saya teringat satu lagu yang usianya sudah lebih dari setengah abad namun tetap terasa seperti ditulis tadi malam, yaitu “Father and Son” karya Cat Stevens, yang kini kita kenal sebagai Yusuf Islam.

Lagu itu lahir pada 1969 untuk sebuah drama musikal berlatar Revolusi Rusia yang tidak pernah dipentaskan. Kisahnya sederhana. Seorang anak petani ingin pergi bergabung dengan arus perubahan, sementara ayahnya memintanya tinggal.

Drama itu batal, tetapi lagunya hidup dan masuk ke album Tea for the Tillerman pada 1970. Keajaibannya terletak pada cara bernyanyi. Satu penyanyi, dua suara. Suara rendah dan tenang milik sang ayah, yang meminta anaknya tidak tergesa, menikmati masa muda, lalu membangun keluarga.

Suara tinggi dan bergetar milik sang anak, yang merasa sejak kecil lebih sering disuruh mendengar daripada didengar, dan kini yakin bahwa ia harus pergi.

Lagu itu tidak punya tokoh jahat. Tidak seorang pun menang. Yang tersisa hanyalah dua orang yang saling mencintai dengan bahasa yang berbeda.

Di situlah makna paling inspiratif bagi saya. Lagu ini tidak memihak. Ia hanya meminta kita mendengar.

Lima puluh tahun kemudian, pada 2020, Yusuf merekam ulang lagu itu dan berduet dengan dirinya sendiri. Suaranya pada usia 72 tahun menyanyikan bagian ayah, sedangkan bagian anak diambil dari rekaman dirinya yang berusia 22 tahun di panggung Troubadour, Los Angeles.

Seorang lelaki bernyanyi bersama masa mudanya sendiri. Pesannya menghunjam: setiap ayah adalah anak yang dahulu juga ingin pergi. Pada kesempatan itu Yusuf menyatakan bahwa ia percaya pada perubahan yang tidak harus menghancurkan segalanya. Menurut saya, kalimat tersebut adalah kunci untuk membaca zaman kita.

Saya melihat lagu ini sangat Indonesia.

Dalam banyak keluarga kita, ayah mencintai lewat kerja, bukan lewat kata.

Ia berangkat sebelum anak bangun dan pulang setelah anak tidur, lalu heran mengapa anaknya terasa asing.

Pendataan Keluarga 2025 dari Kemendukbangga/BKKBN menunjukkan satu dari empat anak Indonesia merasa ayahnya tidak hadir dalam pengasuhan, dengan angka 26,3 persen di desa dan 25,4 persen di kota.

Wajar bila peringatan Hari Keluarga Nasional tahun ini mengusung tema “Ayah Wajib Hadir”. Saya tidak membaca angka itu sebagai tuduhan.

Kebanyakan ayah tidak absen karena kurang cinta, melainkan karena terlalu sibuk membuktikan cinta dengan cara yang diwariskan ayahnya dahulu.

Persoalannya, dunia tempat anak panah itu dilepaskan sedang berangin kencang.

Dana Moneter Internasional dalam pembaruan Juli 2026 memperkirakan ekonomi dunia hanya tumbuh 3,0 persen tahun ini, dengan inflasi global naik ke 4,7 persen dan harga minyak di kisaran 89 dolar AS per barel akibat perang di Timur Tengah.

Laporan itu diberi judul yang puitis sekaligus muram, yakni ekonomi global di tengah arus silang perang dan teknologi. Anak dalam lagu Cat Stevens ingin pergi menjemput revolusi. Anak kita hari ini tidak perlu pergi ke mana pun, sebab revolusi itu datang sendiri ke kamarnya lewat kecerdasan buatan.

Organisasi Buruh Internasional mencatat pengangguran kaum muda dunia naik menjadi 12,4 persen pada 2025, sementara lebih dari 257 juta anak muda tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan.

Indonesia berdiri di tengah arus itu dengan wajah ganda. Di satu sisi, ekonomi tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 dan tingkat pengangguran terbuka turun ke 4,65 persen pada Mei 2026, angka terendah sejak 1994.

Di sisi lain, pengangguran pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun justru naik menjadi 17,37 persen dari 16,36 persen pada Februari. Dari 7,22 juta penganggur, sekitar 4,8 juta adalah kaum muda.

Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, sebanyak 53.490 pekerja melaporkan pemutusan hubungan kerja, naik 20,65 persen dari periode yang sama tahun lalu, dan paling banyak terjadi di Jawa Barat.

Artinya, di banyak rumah, ayah dan anak sedang cemas pada waktu yang sama. Yang satu takut kehilangan pekerjaan, yang lain takut tidak pernah mendapatkannya.

Saya merasakan sisi lain dari angka tersebut. Lamaran menumpuk di meja, tetapi kursi yang tepat tetap kosong. Menteri Ketenagakerjaan, mengutip kajian Forum Ekonomi Dunia, menyebut 54 persen perusahaan di Indonesia menghadapi kesenjangan keterampilan dan 48 persen kesulitan menemukan tenaga yang sesuai.

Anak muda mencari kerja, perusahaan mencari orang, dan keduanya tidak saling menemukan. Nasihat lama untuk mencari pekerjaan tetap lalu bertahan sampai pensiun juga makin sulit dijalankan ketika 59,30 persen pekerja kita masih berada di sektor informal.

Maka percakapan dalam lagu itu kini terdengar di meja makan kita dengan kosakata baru. Ayah benar bahwa hidup butuh pijakan. Anak benar bahwa pijakan lama sudah bergeser.

Lalu apa yang bisa kita kerjakan di Indonesia?

Saya menawarkan tiga lapis jawaban, dari yang paling dekat sampai yang paling luas.

Lapis pertama adalah rumah. Ki Hajar Dewantara mewariskan tut wuri handayani, yakni memberi dorongan dari belakang. Itulah posisi terbaik seorang ayah.

Ia tidak menarik dari depan dan tidak menghadang di pintu, tetapi menguatkan dari belakang. Wujudnya sederhana. Lima belas menit setiap malam untuk mendengar tanpa menyela dan tanpa menasihati.

Hadir di sekolah, sebagaimana diserukan pemerintah lewat Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah. Bercerita kepada anak tentang kegagalan kita, bukan hanya keberhasilan, supaya ia tahu bahwa ayahnya juga pernah takut.

Secara sosial budaya, kita juga dituntut untuk merekonstruksi makna kesuksesan di dalam struktur keluarga. Kita harus mendidik anak-anak laki-laki dan perempuan kita bukan untuk menjadi sekrup dalam mesin industri masa lalu, melainkan menjadi pemecah masalah yang tangguh.

Kita harus mengajarkan kepada mereka bahwa kegagalan dalam membangun usaha atau merintis karier bukanlah sebuah aib keluarga, melainkan sebuah ongkos belajar yang valid. Ketika ketahanan keluarga menguat, maka ketahanan ekonomi nasional secara otomatis akan mengikuti, karena keluarga adalah unit terkecil dari sebuah negara.

Lapis kedua adalah dunia usaha, dan di sinilah saya menagih diri sendiri beserta rekan pengusaha. Setiap perusahaan sesungguhnya bisa menjadi ayah bagi anak muda yang bukan anak kandungnya.

Program Magang Nasional memberi jalan yang nyata. Tahun ini pemerintah menargetkan 150.000 lulusan perguruan tinggi magang selama enam bulan. Sekitar 87.000 di antaranya sudah berjalan, dan gelombang ketiga pada November akan ditempatkan seluruhnya di perusahaan swasta dengan uang saku ditanggung negara.

Mari kita buka pintu, lalu perlakukan peserta magang sebagai murid yang dibimbing, bukan tenaga murah. Mari merekrut berdasarkan kecakapan, bukan semata ijazah. Mari memberi kelonggaran jam kerja agar karyawan yang juga seorang ayah bisa pulang sebelum anaknya tidur. Perusahaan yang ramah keluarga bukan beban biaya. Ia adalah investasi pada generasi pekerja berikutnya.

Lapis ketiga adalah kebijakan. Pelatihan vokasi perlu sungguh berangkat dari kebutuhan industri, sebagaimana kini diupayakan Kementerian Ketenagakerjaan, agar lulusan sekolah kejuruan tidak lagi mencatat tingkat pengangguran tertinggi di antara semua jenjang pendidikan.

Literasi keuangan dan kewirausahaan perlu masuk ke ruang kelas dan ruang keluarga, sebab tidak semua anak akan menjadi karyawan. Desa perlu diberi denyut ekonomi supaya anak mudanya tidak merasa bahwa pergi adalah pilihan tunggal.

Semua itu menuntut gotong royong antara sekolah, kampus, pengusaha, dan pemerintah daerah. Bangsa ini pernah melewati krisis 1998 dan pandemi dengan cara yang sama, yaitu saling menopang.

Kepada para anak lelaki, termasuk anak saya sendiri, izinkan saya menitip satu hal. Kewaspadaan ayahmu bukan tanda ia tidak percaya kepadamu. Itu cinta yang dibentuk oleh luka dan krisis yang pernah ia lewati.

Pergilah bila memang harus pergi. Bawalah kejujuran, daya tahan, dan kebiasaan menolong orang lain.

Dunia boleh berubah oleh perang dan mesin pintar, tetapi tiga bekal itu tidak akan usang.

Suatu hari anak lelaki saya akan berdiri di ambang pintu dengan ransel di punggung dan rencana yang tidak sepenuhnya saya pahami.

Saya berharap pada hari itu saya tidak mengulang kekeliruan ayah dalam lagu, yang terlalu sibuk menasihati sampai lupa bertanya.

Saya ingin memeluknya, mendengarkan rencananya sampai selesai, lalu berkata bahwa rumah ini selalu terbuka.

Tantangan zaman ini besar juga berat, tetapi ia bukan alasan untuk gentar. Ia adalah panggilan untuk bekerja lebih keras, bersama.

Exit mobile version