Site icon KABARIKA

Israel Mengatakan akan Mengizinkan Bantuan Dasar Masuk ke Gaza Seiring Perluasan Serangan Darat IDF

KABARIKA.ID, MAKASSAR — Israel mengatakan pihaknya mengizinkan masuknya sejumlah kecil bantuan makanan ke Gaza setelah blokade hampir tiga bulan yang menyebabkan banyak warga Palestina di ambang kelaparan.

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kabinetnya bertindak atas rekomendasi IDF karena kebutuhan operasional militer untuk memungkinkan perluasan serangan darat yang intens di Gaza.

Pada hari Sabtu (17/05/2025), Israel melancarkan serangan darat skala besar baru di Gaza yang diberi sandi Gideon’s Chariots alias “Kereta Perang Gideon”.

Hingga hari Minggu (18/05/2025) serangan Israel skala luas Israel itu telah menewaskan lebih dari 100 orang warga Gaza.

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan, pasukan IDF (tentara Israel) tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan.

Serangan tersebut memaksa penutupan Rumah Sakit Indonesia, fasilitas kesehatan utama yang melayani pasien korban genosida di Gaza utara.

Melansir euronews, PM Netanyahu menyebutkan perlunya mencegah krisis kelaparan, yang menurut militer Israel akan membahayakan operasi lanjutan untuk mengalahkan Hamas.

Menurut Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (The Integrated Food Security Phase Classification), otoritas internasional terkemuka mengenai tingkat keparahan krisis kelaparan, hampir 500.000 warga Palestina di Gaza sudah hidup dalam tingkat kelaparan yang menghancurkan dan menghadapi situasi kelaparan.

“Satu juta orang lainnya hampir tidak bisa mendapatkan cukup makanan,” tulis lembaga itu.

Warga Palestina menunggu makanan dari kelompok bantuan di kamp pengungsi Jabaliya di Gaza, dalam kondisi kekuarangan bahan pangan akibat blokade Israel. Pejabat kemanusiaan mengatakan wilayah itu berada di ambang bencana karena kehabisan makanan dan bahan bakar. (Foto: theguardian)

Para pakar keamanan pangan mengatakan minggu lalu, bahwa Gaza kemungkinan akan dilanda kelaparan parah jika Israel tidak mencabut blokade dan menghentikan kampanye militernya.

Belum jelas kapan bantuan akan masuk ke Gaza, atau bagaimana.

PM Netanyahu mengatakan Israel akan bekerja untuk memastikan bahwa Hamas tidak akan mengendalikan distribusi bantuan dan memastikan bantuan tersebut tidak sampai ke militan Hamas.

Israel memulai serangan yang merupakan terbesar sejak runtuhnya gencatan senjata pada Maret lalu, dengan tujuan merebut wilayah dan menggusur ratusan ribu warga Palestina.

Pembicaraan Gencatan Senjata Terus Berlanjut

Israel menekan Hamas agar menyetujui gencatan senjata sementara yang akan membebaskan para sandera dari Gaza, tetapi tidak serta merta mengakhiri perang.

Hamas mengatakan pihaknya menginginkan penarikan penuh pasukan Israel dan jalan untuk mengakhiri perang sebagai bagian dari kesepakatan apa pun.

Kantor PM Netanyahu mengatakan tim negosiasinya di Qatar bekerja untuk mewujudkan setiap peluang bagi tercapainya kesepakatan, termasuk kesepakatan yang akan mengakhiri pertempuran dengan imbalan pembebasan seluruh dari 58 sandera yang tersisa, pengasingan Hamas dari Gaza, dan pelucutan senjata di wilayah tersebut.

Namun, Hamas menolak meninggalkan Gaza atau melucuti senjata.

Sejak Israel mengakhiri gencatan senjata sebelumnya, Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan hampir 3.000 orang warga Gaza telah gugur.

Rasa frustrasi di Israel terus meningkat. Sejumlah kecil warga Israel menolak untuk mengikuti wajib militer, bahkan berisiko dipenjara.

Warga Israel lainnya telah memajang foto anak-anak yang tewas di Gaza selama unjuk rasa mingguan yang menuntut kesepakatan untuk membebaskan semua sandera dan mengakhiri perang.

Perang Israel-Hamas dimulai ketika militan Hamas menyerang Israel selatan pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil.

Hamas menyandera 251 orang, dan saat ini menyandera 57 orang, 22 di antaranya diyakini masih hidup.

Serangan Israel berikutnya hingga saat ini telah menewaskan lebih dari 50.000 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak.

Data tersebut menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas.

Sementara itu, militer Israel (IDF) mengatakan 856 orang tentaranya telah tewas sejak perang pecah pada awal Oktober 2023 silam. (rus)

Exit mobile version