KABARIKA.ID, GAZA — Pusat distribusi bantuan untuk rakyat Gaza milik organisasi Amerika bernama Gaza Relief Foundation dan mendapat dukungan dari otoritas Israel, bagai ladang pembantaian oleh tentara Israel.
Dalam waktu 70 jam terakhir, sebanyak 75 orang warga Paestina yang sedang mengantre mengambil bahan makanan di pusat bantuan, tewas akibat berondongan senjata tentara Israel.
Sedikitnya 30 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 150 lainnya mengalami luka-luka pada Minggu (1/6), setelah pasukan Israel menembaki kerumunan warga sipil yang sedang mencari bantuan di kawasan Al-Mawasi, sebelah barat Rafah, Gaza selatan.
Insiden terakhir pada Rabu (3/06/2025) pasukan Israel membunuh tiga warga Palestina yang sedang mengantre makanan. Dengan demikian, dalam waktu 70 jam terakhir warga Palestina yang tewas di tempat distribusi bantuan kemanusiaan menjadi 75 orang.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa tiga warga Palestina tewas dan sedikitnya 35 orang terluka ketika pasukan Israel melepaskan tembakan di dekat lokasi distribusi bantuan di Rafah yang dioperasikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didukung AS dan Israel.
Menurut Kementerian tersebut, setidaknya 75 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 400 orang terluka saat mengantre makanan sejak GHF meluncurkan operasinya di Gaza.
Pasukan Israel Tembaki Pencari Bantuan
Pembunuhan hari Senin terjadi beberapa jam setelah pasukan Israel menembak mati sedikitnya 35 warga Palestina di dua titik distribusi makanan AS-Israel di Rafah dan Gaza tengah.
Saksi mata dan pejabat setempat mengatakan bahwa pasukan Israel menembaki warga sipil secara langsung, dengan banyak korban tewas menerima luka tembak di kepala atau dada.
“Saya berdiri di tengah kerumunan, tetapi ketika orang-orang mulai bergegas menuju titik distribusi, saya tidak dapat bergerak bersama mereka karena ada ratusan orang yang mendorong maju,” kata Marwa al-Naouq.
Kemudian sebuah quadcopter muncul dan mulai menembaki mereka. Setelah itu, tentara Israel melepaskan tembakan langsung ke arah kerumunan, dan pasukan keamanan Amerika menembakkan tabung gas air mata.
“Puluhan orang tewas dan terluka saat orang-orang berlarian ke segala arah, mencoba menyelamatkan diri,” ujar al-Naouq.
“Mengurung keluarga-keluarga yang putus asa di balik pagar dan menempatkan bantuan di bawah pengawalan bersenjata, tidak hanya melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan tetapi juga kesopanan umum,” Rob Williams dari Aliansi Anak Perang.
Sistem bantuan baru yang membatasi distribusi makanan ke sejumlah kecil pusat yang dijaga oleh kontraktor keamanan Amerika, bertujuan untuk merebut distribusi dari kelompok bantuan yang dipimpin oleh PBB.
PBB dan organisasi kemanusiaan besar lainnya telah berulang kali mengkritik mekanisme tersebut, dengan Dokter Lintas Batas (MSF) memperingatkan bahwa mempersenjatai bantuan dengan cara ini dapat merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
“Peristiwa hari ini, sekali lagi menunjukkan bahwa sistem pengiriman bantuan baru ini tidak manusiawi, berbahaya, dan sangat tidak efektif,” kata Claire Manera, koordinator darurat MSF, dalam sebuah pernyataan pada hari Senin.
“Hal ini mengakibatkan kematian dan cedera warga sipil yang sebenarnya dapat dicegah. Bantuan kemanusiaan harus diberikan hanya oleh organisasi kemanusiaan yang memiliki kompetensi dan tekad untuk melakukannya dengan aman dan efektif,” tambah Manera.
Sistem yang Buruk
Rob Williams, CEO kelompok hak asasi War Child Alliance (Aliansi Anak Perang), juga mengkritik mekanisme bantuan yang didukung AS dan Israel, dengan mengatakan bahwa kejadian di Rafah merupakan praktik yang menghancurkan terhadap model yang seharusnya tidak pernah ada.
“Kekejaman sesungguhnya dari sistem yang buruk ini terletak pada penyamaran kemanusiaan yang menutupi pengerahan bantuan makanan militer sebagai sarana menggusur penduduk,” tegas Rob.
Sejak 2 Maret, Israel telah melarang semua pasokan memasuki Gaza, termasuk makanan, air dan obat-obatan, dalam upaya untuk memaksa Hamas merundingkan kembali kesepakatan gencatan senjata yang disepakati pada bulan Januari.
Israel menginginkan kelompok Palestina tersebut membebaskan sisa tawanan Israel yang ditahan di Gaza dengan imbalan bantuan kemanusiaan, perpanjangan gencatan senjata, dan lebih banyak tahanan Palestina yang ditahan di penjara Israel.
Namun, Hamas bersikeras pada komitmen Israel untuk gencatan senjata permanen, dengan mengatakan setiap kesepakatan parsial akan memungkinkan Israel untuk melanjutkan pembunuhan di Gaza.
Senjata untuk Menekan
Menanggapi peristiwa tersebut, Kantor Media Pemerintah di Gaza mengeluarkan pernyataan tegas. Mereka menuduh Israel menggunakan bantuan sebagai senjata untuk menekan rakyat Palestina.
“Israel menggunakan bantuan kemanusiaan secara sistematis dan jahat sebagai senjata perang untuk memeras warga sipil yang kelaparan dan mengumpulkan mereka secara paksa di zona pembantaian yang terbuka,” bunyi pernyataan tersebut.
Lembaga-lembaga bantuan telah memperingatkan ancaman kelaparan massal di wilayah yang padat penduduk tersebut.
Jumlah Korban Terus Bertambah
Sejak mengingkari kesepakatan gencatan senjata, pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 4.000 orang dalam serangan yang menargetkan tenda pengungsi, rumah sakit, dan sekolah yang diubah menjadi tempat perlindungan.
Menurut pejabat kesehatan dan pemerintah Palestina, setidaknya 54.000 warga Palestina telah terbunuh oleh pasukan Israel sejak Oktober 2023, termasuk lebih dari 28.000 wanita dan anak perempuan.
Angka tersebut juga mencakup setidaknya 1.400 profesional sektor kesehatan, 280 pekerja bantuan PBB (jumlah kematian staf tertinggi dalam sejarah PBB), dan setidaknya 180 wartawan, jumlah tertinggi pekerja media yang tewas dalam konflik sejak Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mulai mencatat data pada 1992.
Pada bulan Januari, jurnal medis Lancet melaporkan bahwa angka kematian mungkin tidak dilaporkan hingga 41 persen.
Studi tersebut memperkirakan bahwa 59,1 persen dari mereka yang tewas adalah wanita, anak-anak, dan orang-orang berusia di atas 65 tahun.
Studi tersebut tidak memberikan perkiraan jumlah pejuang Palestina di antara yang tewas.
“Jumlah korban tersebut mewakili 2,9 persen dari populasi Gaza sebelum perang atau sekitar satu dari 35 penduduk,” kata penelitian tersebut. (rus)

