KABARIKA.ID, LONDON — Aksi genosida Israel di Gaza kian mengerikan. Setiap hari publik internasional disuguhi berita kematian warga sipil yang sengaja ditembaki oleh tentara Israel di tempat pendistribusian bantuan di Gaza.
Nurani bangsa-bangsa di dunia sudah mulai bangkit. Lebih dari dua lusin negara telah menyerukan diakhirinya segera perang kebrutalan perang Israel di Gaza.
Mereka mengatakan bahwa penderitaan di sana telah mencapai titik terendah dalam sejarah. Pernyataan tajam sekutu Israel itu dideklarasikan seiring isolasi internasional Israel yang semakin dalam.
Negara-negara tersebut juga mengecam model pengiriman bantuan Israel di Gaza, dengan mengatakan hal itu merampas martabat manusia Palestina.
Pernyataan tersebut dikeluarkan pada hari, Senin (21/07/2025) setelah lebih dari 21 bulan pertempuran yang telah memicu kondisi kemanusiaan yang mengerikan bagi lebih dari dua juta penduduk Gaza.
Sekutu Israel, yaitu Inggris, Prancis, Australia, Kanada, dan 24 negara lainnya, ditambah Uni Eropa, menyatakan dalam pernyataan bersama bahwa perang di Gaza harus diakhiri sekarang.
“Penderitaan warga sipil di Gaza telah mencapai titik terendah,” ujar para penandatangan pernyataan.
Mereka juga mendesak gencatan senjata yang dinegosiasikan, pembebasan tawanan yang ditahan oleh pejuang Palestina, dan aliran bebas bantuan yang sangat dibutuhkan penduduk Gaza.
Mereka juga mengutuk penurunan bantuan dan pembunuhan tidak manusiawi terhadap warga sipil, termasuk anak-anak yang berusaha memenuhi kebutuhan paling dasar mereka akan air dan makanan.
PBB dan Kementerian Kesehatan Gaza telah mencatat 875 orang tewas di Gaza saat berusaha mendapatkan makanan sejak akhir Mei, ketika Israel mulai melonggarkan blokade total yang telah berlangsung lebih dari dua bulan.
“Model pengiriman bantuan pemerintah Israel berbahaya, memicu ketidakstabilan, dan merampas martabat manusia warga Gaza,” kata perwakilan Inggris dan Prancis.
“Penolakan pemerintah Israel atas bantuan kemanusiaan esensial bagi penduduk sipil tidak dapat diterima. Israel harus mematuhi kewajibannya berdasarkan hukum humaniter internasional,” tegas pernyataan mereka.
Pernyataan tersebut merupakan eskalasi signifikan dari sekutu Israel atas perangnya di Gaza.
Pernyataan sejumlah negara penandatangan pernyataan tersebut, mencerminkan konsensus yang lebih luas di luar Eropa.
Negara-negara Eropa telah mengutuk situasi di Gaza, dan kini ada kementerian luar negeri dari Australia, Selandia Baru, Kanada, dan Jepang yang turut mencantumkan nama mereka dalam pernyataan tersebut.
Daftar Negara yang Menuntut Diakhirinya Perang di Gaza
Kementerian Luar Negeri Inggris telah merilis daftar lengkap negara yang menandatangani deklarasi yang menuntut segera diakhirinya perang di Gaza, yaitu Menteri Luar Negeri dari negara-negara:
1. Australia,
2. Austria,
3. Belanda,
4. Belgia,
5. Denmark,
6. Estonia,
7. Finlandia,
8. Inggris
9. Irlandia,
10. Islandia,
11. Italia,
12. Jepang,
13. Kanada,
14. Latvia,
15. Lituania,
16. Luksemburg,
17. Malta,
18. Norwegia,
19. Polandia,
20. Portugal,
21. Prancis,
22. Selandia Baru,
23. Siprus,
24. Slovenia,
25. Spanyol,
26. Swedia,
27. Swiss, dan
28. Yunani.
Deklarasi untuk mengakhiri perang di Gaza dengan segera, diinisiasi oleh Komisaris Uni Eropa untuk Kesetaraan, Kesiapsiagaan, dan Manajemen Krisis.
Seruan untuk Gencatan Senjata Segera
Pernyataan bersama yang menyerukan gencatan senjata segera, dengan menyatakan bahwa negara-negara siap mengambil tindakan untuk mendukung jalur politik menuju perdamaian di kawasan tersebut.
Israel dan Hamas telah terlibat dalam perundingan gencatan senjata, tetapi tampaknya tidak ada terobosan, dan tidak jelas apakah gencatan senjata akan menghentikan perang secara permanen.
Netanyahu telah berulang kali menegaskan bahwa perluasan operasi militer Israel di Gaza akan menekan Hamas dalam negosiasi.
Berbicara di hadapan Parlemen, Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy berterima kasih kepada Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir atas upaya diplomatik mereka untuk mencoba mengakhiri perang.
“Tidak ada solusi militer, gencatan senjata berikutnya harus menjadi gencatan senjata terakhir,” tandas Lammy.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan Israel sejak Oktober 2023, telah menewaskan lebih dari 59.000 warga Palestina, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. (rus)

