KABARIKA.ID, YERUSALEM — Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Mayjen Eyal Zamir, pada hari Kamis (14/08/2025) akhirnya menyetujui kerangka kerja utama untuk rencana operasional IDF secara penuh di Jalur Gaza.
Keputusan itu diambil oleh Zamir setelah mendapat kecaman langsung dari PM Netanyahu, pada hari Rabu (13/08/2025), yang mengatakan bahwa kepala IDF membangkan dari keinginannya dan tidak paham apa tujuan yang ingin dicapai Israel di Gaza.
“Sebagai bagian dari diskusi, operasi IDF hingga saat ini dipaparkan, termasuk serangan di wilayah Zeitoun yang dimulai kemarin,” kata juru bicara IDF yang tidak disebutkan namanya.
Menurutnya, konsep inti rencana tahap lanjutan kampanye militer penuh Israel di Jalur Gaza, telah dipresentasikan dan disetujui sesuai dengan arahan eselon politik.
Pekan lalu, PM Netanyahu dan Kabinet Keamanannya menyetujui rencana IDF untuk merebut dan menduduki Kota Gaza, wilayah perkotaan terbesar di Jalur Gaza, sebagai bagian dari operasi militer yang diperluas untuk mendemiliterisasi Jalur Gaza dan menggulingkan Hamas dari kekuasaan.
Operasi tersebut akan memaksa IDF untuk beroperasi di wilayah-wilayah yang diyakini Israel sebagai tempat militan Hamas menahan sandera Israel.
Lima Prinsip Netanyahu untuk Akhiri Perang
Netanyahu menetapkan “lima prinsip” untuk mengakhiri perang.
Menyusul rencana IDF untuk melakukan operasi militer penuh di seluruh Jalur Gaza, PM Netanyahu menetapkan lima prinsip untuk mengakhiri perang di Gaza.
Pertama, senjata Hamas dilucuti.
Kedua, semua sandera Israel dibebaskan.
Ketiga, Gaza didemiliterisasi.
Keempat, Israel memiliki kendali keamanan yang sangat tinggi di seluruh wilayah Palestina.
Kelima, pemerintahan sipil non-Israel yang damai.
“Yang saya maksud adalah pemerintahan sipil yang tidak mendidik anak-anaknya untuk teror, yang tidak membayar teroris, dan tidak melancarkan serangan teroris terhadap Israel,” ujar Netanyahu.
Kritik dari Keluarga Sandera
Rencana Netanyahu untuk memperluas perang di Gaza, telah mendapat kritik tajam dari keluarga para sandera yang menyebutnya sebagai hukuman mati bagi orang-orang yang mereka cintai.
Israel yakin 20 sandera masih hidup dalam tahanan Hamas, dan menahan jenazah 30 sandera yang tewas.
Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, pada hari Rabu (13/08/2025) dengan mengutip data dari seluruh rumah sakit di seluruh Gaza, menyebutkan bahwa ada 123 kematian dan 437 cedera selama 24 jam terakhir.
Terdapat 21 orang yang tewas saat mencoba mengambil bantuan kemanusiaan di pusat distribusi bantuan, sementara 185 orang lainnya luka-luka.
Delapan kematian bayi akibat kelaparan juga tercatat di seluruh Gaza dalam 24 jam terakhir.
Jumlah korban tewas tahun ini akibat kelaparan telah meningkat menjadi 235, termasuk 106 anak-anak, menurut laporan Kantor Media Pemerintah Gaza.
PM Netanyahu Mengecam Mantan Pejabat IDF
Sehari sebelumnya, Rabu (13/08/2025) PM Netanyahu menyampaikan pernyataan dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Newsmax di Yerusalem, bahwa selama bertahun-tahun IDF telah secara sistematis mengabaikan komitmennya untuk kemenangan.
Netanyahu mengatakan, beberapa mantan pejabat militer senior telah menyerah pada tekanan global dan menerima solusi politik yang tidak tepat demi keberhasilan militer.
“Kami telah meraih kemenangan besar… melawan Hamas, melawan Hizbullah, melawan rezim Assad yang kejam di Suriah, melawan Iran, dan juga di arena lainnya,” kata Netanyahu.
“Kami melakukan ini karena kami berjuang bersama… IDF, Mossad, dan Shin Bet, masing-masing di bidangnya sendiri, masing-masing di sektornya sendiri dan dalam kerja sama yang erat, melakukan pekerjaan luar biasa di bawah bimbingan kepemimpinan politik,” tambah Netanyahu.
Netanyahu kemudian menyinggung para mantan pejabat yang pernah memimpin IDF, yang tidak disebutkan namanya. Menurut Netanyahu, ia telah bertugas bersama atau bekerja dengan banyak pejabat tersebut selama 18 tahun sebagai perdana menteri dan sangat menghargai keberanian dan pengorbanan mereka.
“Tetapi sesuatu terjadi setelah mereka meninggalkan dinas, secara sistemik, bertahap, selama bertahun-tahun,satu kata menghilang dari leksikon Pasukan Pertahanan Israel, yaitu kata kemenangan,” ujar Netanyahu.
Ia menuduh mereka yang berhenti percaya pada kemenangan, telah terjerumus ke dalam gerakan politik ekstrem yang merusak semangat juang, kesediaan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan dan meraih kemenangan, berdasarkan keyakinan bahwa hal itu salah dan tak akan menghasilkan apa-apa.
“Saya sangat menyesalkan apa yang telah terjadi pada orang-orang ini, yang sangat saya hormati selama masa jabatan mereka. Saya tidak akan menyerah untuk meraih kemenangan,” tandas Netanyahu.
Pernyataan Netanyahu itu disampaikan sebagai reaksi atas pesan video yang dirilis oleh 19 mantan pejabat keamanan senior Israel, pekan lalu, yang menyerukan diakhirinya perang di Gaza.
Alasan mereka adalah bahwa Israel telah menelan lebih banyak kerugian daripada kemenangan, dan pertempuran telah berlarut-larut karena alasan politik, alih-alih kebutuhan militer strategis. (rus)

