Site icon KABARIKA

Pemantau Kelaparan Global Secara Resmi Deklarasikan Kelaparan Parah yang Terjadi di Gaza

KABARIKA.ID, LONDON — Pemantau kelaparan global yang didukung PBB, The Integrated Food Security Phase Classification (IPC) atau Inisiatif Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu, pada Jumat (22/08/2025) secara resmi mengumumkan terjadinya kelaparan parah di Gaza utara.

IPC memproyeksikan kelaparan akan menyebar ke wilayah tengah dan selatan pada akhir September.

Dalam laporannya yang dirilis Jumat pagi, IPC menyatakan bahwa kelaparan sedang terjadi di Kota Gaza, tempat ratusan ribu warga Palestina tinggal di Gaza utara.

IPC memperkirakan kondisi kelaparan yang ada akan semakin memburuk antara pertengahan Agustus dan akhir September 2025. Kelaparan diproyeksikan meluas ke wilayah Deir el-Balah di bagian tengah dan Khan Younis di bagian selatan.

Klasifikasi ini diterapkan pada wilayah yang dihuni 514.000 warga Palestina yang mengungsi, hampir seperempat dari populasi Gaza.

Inisiatif ini melibatkan 21 organisasi bantuan, serta beberapa badan Perserikatan Bangsa-Bangsa. IPC menerima pendanaan dari Uni Eropa, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Kanada, dan negara-negara lain.

Setelah 22 bulan konflik, lebih dari setengah juta orang menghadapi kelaparan (IPC Fase 5), sebuah situasi bencana yang ditandai dengan kelaparan, malnutrisi akut, dan kematian, menurut laporan IPC.

Sebanyak 1,07 juta orang lainnya atau 54 persen dari populasi, menghadapi keadaan darurat (IPC Fase 4), dan 396.000 orang (20 persen) berada dalam krisis (IPC Fase 3).

Pada akhir September, hampir sepertiga populasi Gaza atau sekitar 641.000 orang diperkirakan akan menghadapi kondisi bencana (IPC Fase 5), sementara jumlah orang dalam keadaan darurat (IPC Fase 4) kemungkinan akan meningkat menjadi 1,14 juta orang, atau sekitar 58 persen dari populasi.

Hal ini menandai kemerosotan paling parah sejak kemitraan IPC mulai menganalisis kerawanan pangan akut dan malnutrisi akut di Jalur Gaza.

Ini juga menandai pertama kalinya bencana kelaparan resmi terkonfirmasi di Gaza.
Inisiatif global IPC menggambarkan situasi ini sebagai perlombaan melawan waktu, dan menambahkan bahwa kelaparan harus dihentikan dengan segala cara.

Inisiatif ini memperingatkan bahwa malnutrisi akut diproyeksikan akan terus memburuk dengan cepat.

Sekitar 132.000 anak di bawah usia lima tahun akan berisiko meninggal akibat malnutrisi akut pada Juni 2026, meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan perkiraan IPC yang dilaporkan pada Mei 2025.

Ini termasuk sekitar 41.000 kasus parah dengan risiko kematian yang tinggi. Hampir 55.500 ibu hamil dan menyusui yang mengalami malnutrisi, akan membutuhkan respons gizi yang mendesak, tulis IPC.

Setiap hari warga Gaza antre mengambil makanan di dapur umum dengan membawa panci dan sebagaionya di tengah kondisi kelaparan. WHO memperingatkan bahwa malnutrisi telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. (Foto: MEE)

Bencana Buatan Manusia

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan kelaparan di Gaza adalah bencana buatan manusia, sebuah dakwaan moral, dan kegagalan umat manusia.

Guterres menyerukan semua pihak untuk melakukan tindakan segera untuk mengatasi masalah kemanusiaan tersebut.

Menurut Guterres, anak-anak Gaza yang kekurangan gizi dirawat dengan sumber daya medis yang terbatas.

“Kelaparan bukan hanya tentang makanan; ini adalah keadaan yang disengaja dari sistem yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia. Orang-orang kelaparan, anak-anak sekarat, dan mereka yang berkewajiban untuk bertindak, gagal,” kata Guterres.

Sekjen PBB itu menegaskan, Israel sebagai kekuatan pendudukan, memiliki kewajiban yang tegas di bawah hukum internasional, termasuk kewajiban untuk memastikan ketersediaan makanan dan pasokan medis bagi penduduk Gaza.

“Kita tidak bisa membiarkan situasi ini berlanjut tanpa hukuman. Tidak ada lagi alasan. Waktu untuk bertindak bukan besok, tetapi sekarang,” tandas Guterres.

Sementara itu, Kepala Bantuan PBB Tom Fletcher mengatakan, kelaparan di Gaza terjadi dalam jarak beberapa ratus meter dari bahan makanan.

Truk-truk pembawa bantuan pangan masih tertahan di perlintasan darat di tengah pembatasan Israel terhadap pengiriman komersial dan kemanusiaan.

“Ini adalah kelaparan yang secara terbuka dipromosikan oleh beberapa pemimpin Israel sebagai senjata perang,” kata Fletcher dalam konferensi pers.

Dalam permohonannya kepada PM Israel Benjamin Netanyahu, Fletcher menuntut agar Israel mengakhiri pembalasan dan membuka penyeberangan Gaza untuk akses tanpa batas.

“Mari kita kirimkan makanan dan pasokan lainnya dalam skala besar yang dibutuhkan. Demi kemanusiaan, izinkan kami masuk,” kata Fletcher.

Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, malnutrisi yang meluas dan disebabkan oleh manusia ini berarti bahwa bahkan penyakit yang umum dan biasanya ringan seperti diare pun menjadi fatal, terutama bagi anak-anak.

“Gaza harus segera dipasok makanan dan obat-obatan. Blokade bantuan harus diakhiri,” tulis Tedros dalam unggahannya di paltform X.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan malnutrisi yang meluas di Gaza disebabkan oleh manusia. (Foto: jenevasolution)

Israel Bantah Ada Kelaparan di Gaza

Menanggapi laporan IPC, pihak Israel menolak jika terjadi malnutrisi yang meluas di antara warga Palestina di Gaza, dan membantah angka kematian akibat kelaparan. Alasannya, kematian tersebut disebabkan oleh penyebab medis lainnya.

“Lebih dari 100.000 truk bantuan telah memasuki Gaza sejak awal perang, dan dalam beberapa pekan terakhir, gelombang bantuan besar-besaran telah membanjiri Jalur Gaza dengan bahan pangan pokok, dan menyebabkan penurunan tajam harga pangan, yang kemudian anjlok di pasar,” kata Kemlu Israel.

Kelompok perlawanan Palestina, Hamas mengatakan penyangkalan kriminal Israel atas fakta yang terdokumentasi ini, dan klaim palsunya bahwa tidak ada kelaparan di Gaza, mengungkapkan mentalitas kriminal yang sengaja berbohong untuk menutupi pembunuhan akibat kelaparan yang dilakukan terhadap anak-anak, perempuan, dan orang sakit, yang secara terang-terangan menentang semua hukum dan norma internasional.

Hamas mengingatkan, komunitas internasional memikul tanggung jawab hukum dan moral yang mendesak untuk menghentikan kejahatan terhadap kemanusiaan dan menyelamatkan lebih dari dua juta orang yang menghadapi genosida, kelaparan, dan penghancuran sistematis semua kebutuhan hidup.

Israel memberlakukan blokade total di Gaza pada bulan Maret dan telah sangat membatasi bantuan yang masuk ke wilayah tersebut sejak Mei.

Penyaluran pasokan bantuan dilakukan melalui skema Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang kontroversial yang didukung Israel dan AS.

Menurut PBB, lebih dari 1.300 orang yang mencari pasokan makanan telah tewas sejak akhir Mei, termasuk 859 orang di lokasi distribusi bantuan GHF, yang berada di bawah kendali militer Israel dan kontraktor swasta AS.

Beberapa LSM bereaksi terhadap laporan IPC yang menggemakan peringatan PBB tentang kelaparan yang disengaja.

Oxfam yang berbasis di Inggris mengatakan, kelaparan di Gaza sepenuhnya didorong oleh blokade Israel yang hampir total terhadap makanan dan bantuan vital, konsekuensi mengerikan dari kekerasan Israel, dan penggunaan kelaparan sebagai senjata perang.

“Inilah yang telah disaksikan oleh staf dan mitra kami selama berbulan-bulan, orang-orang di Jalur Gaza sengaja dibiarkan kelaparan, dibombardir tanpa henti, dan dipaksa mengungsi,” kata Helen Stawski dari Oxfam.

Pernyataan senada dikemukakan oleh Save the Children, yang mengatakan bahwa Gaza dibuat kelaparan secara sistematis berdasarkan rancangan Israel, dan anak-anak menanggung akibatnya. (rus)

Exit mobile version