KABARIKA.ID, OSLO — Komite Nobel Norwegia memutuskan untuk memberikan Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2025 kepada Maria Corina Machado, Jumat siang (10/10/2025) waktu Oslo atau Jumat petang (10/10/2025) WIB.
Machado yang lahir di Venezuela pada 1967, adalah seorang pejuang perdamaian yang berani dan berkomitmen, seorang wanita yang menjaga api demokrasi tetap menyala di tengah kegelapan yang semakin membesar.
Ia menerima Hadiah Nobel Perdamaian atas kerja kerasnya yang tak kenal lelah dalam memperjuangkan hak-hak demokrasi bagi rakyat Venezuela, dan atas perjuangannya untuk mencapai transisi yang adil dan damai dari kediktatoran menuju demokrasi.
Sebagai pemimpin gerakan demokrasi di Venezuela, Machado adalah salah satu contoh keberanian warga sipil yang paling luar biasa di Amerika Latin saat ini.
Ibu Machado telah menjadi tokoh kunci pemersatu dalam oposisi politik yang dulunya sangat terpecah belah, sebuah oposisi yang menemukan titik temu dalam tuntutan pemilihan umum (Pemilu) yang bebas dan pemerintahan yang representatif.
“Inilah inti demokrasi: kesediaan kita bersama untuk mempertahankan prinsip-prinsip pemerintahan rakyat, meskipun kita berbeda pendapat. Di saat demokrasi terancam, mempertahankan titik temu ini menjadi lebih penting dari sebelumnya,” kata Machado.
Venezuela telah berevolusi dari negara yang relatif demokratis dan makmur menjadi negara yang brutal dan otoriter yang kini menderita krisis kemanusiaan dan ekonomi.
Sebagian besar rakyat Venezuela hidup dalam kemiskinan yang parah, bahkan ketika segelintir orang di puncak memperkaya diri.
Mesin kekerasan negara diarahkan terhadap warga negaranya sendiri. Hampir 8 juta orang telah meninggalkan negara itu. Oposisi telah ditindas secara sistematis melalui kecurangan Pemilu, penuntutan hukum, dan pemenjaraan.
Rezim otoriter Venezuela membuat kerja politik menjadi sangat sulit. Sebagai pendiri Súmate, sebuah organisasi yang berdedikasi pada pembangunan demokrasi, Machado memperjuangkan Pemilu yang bebas dan adil lebih dari 20 tahun yang lalu.
Seperti yang ia katakan: “Itu adalah pilihan suara, bukan peluru.”
Berkuasa di pemerintahan dan dalam pengabdiannya kepada berbagai organisasi sejak saat itu, Machado telah menyuarakan kemerdekaan peradilan, hak asasi manusia, dan perwakilan rakyat. Ia telah bertahun-tahun memperjuangkan kebebasan rakyat Venezuela.
Menjelang Pemilu 2024, Machado adalah calon presiden dari oposisi, tetapi rezim memblokir pencalonannya.
Ia kemudian mendukung perwakilan dari partai lain, Edmundo Gonzalez Urrutia, dalam Pemilu tersebut.
Ratusan ribu relawan dimobilisasi lintas partai politik. Mereka dilatih sebagai pemantau Pemilu untuk memastikan Pemilu yang transparan dan adil.
Meskipun berisiko mengalami pelecehan, penangkapan, dan penyiksaan, warga di seluruh negeri tetap mengawasi tempat pemungutan suara.
Mereka memastikan penghitungan akhir didokumentasikan sebelum rezim dapat menghancurkan surat suara dan berbohong tentang hasilnya.
Upaya oposisi kolektif, baik sebelum maupun selama Pemilu, inovatif dan berani, damai, dan demokratis.
Oposisi menerima dukungan internasional ketika para pemimpinnya memublikasikan hasil penghitungan suara yang telah dikumpulkan dari distrik-distrik pemilihan negara, yang menunjukkan bahwa oposisi telah menang dengan selisih suara yang jelas.
Namun, rezim menolak menerima hasil Pemilu, dan tetap berkuasa.
Machado menegaskan bahwa demokrasi adalah prasyarat perdamaian abadi. Namun, kita hidup di dunia di mana demokrasi sedang mengalami kemunduran, di mana semakin banyak rezim otoriter yang menantang norma dan menggunakan kekerasan.
Cengkeraman kekuasaan yang kaku dan represif rezim Venezuela terhadap rakyat bukanlah hal yang unik di dunia.
“Kita melihat tren yang sama secara global, supremasi hukum disalahgunakan oleh mereka yang berkuasa, media bebas dibungkam, kritikus dipenjara, dan masyarakat didorong ke arah pemerintahan otoriter dan militeristis,” kata Machado.
Pada tahun 2024, lebih banyak Pemilu yang diselenggarakan daripada sebelumnya, tetapi semakin sedikit Pemilu yang bebas dan adil.
Nobel untuk Para Pemberani
Sepanjang sejarahnya, Komite Nobel Norwegia telah memberikan penghargaan kepada para perempuan dan laki-laki pemberani, yang punya nyali besar melawan penindasan, yang telah membawa harapan kebebasan di sel penjara, di jalanan, dan di alun-alun, serta yang telah menunjukkan melalui tindakan mereka bahwa perlawanan damai dapat mengubah dunia.
Setahun terakhir, Machado terpaksa hidup dalam persembunyian. Meskipun menghadapi ancaman serius terhadap nyawanya, ia tetap tinggal di negara itu, sebuah pilihan yang telah menginspirasi jutaan orang.
Ketika kaum otoriter merebut kekuasaan, penting untuk mengakui para pembela kebebasan yang berani, yang bangkit dan melawan.
Demokrasi bergantung pada orang-orang yang menolak untuk diam, yang berani melangkah maju meskipun menghadapi risiko besar, dan yang mengingatkan kita bahwa kebebasan tidak boleh dianggap remeh, tetapi harus selalu dipertahankan, dengan kata-kata, dengan keberanian, dan dengan tekad.
Maria Corina Machado memenuhi ketiga kriteria yang tercantum dalam wasiat Alfred Nobel untuk pemilihan penerima Hadiah Perdamaian.
Ia telah menyatukan oposisi di negaranya. Ia tak pernah goyah dalam melawan militerisasi masyarakat Venezuela. Ia teguh dalam mendukung transisi damai menuju demokrasi.
Maria Corina Machado telah menunjukkan bahwa perangkat demokrasi juga merupakan perangkat perdamaian.
Ia mewujudkan harapan akan masa depan yang berbeda, di mana hak-hak dasar warga negara dilindungi, dan suara mereka didengar.
Di masa depan, rakyat akhirnya akan bebas hidup dalam damai. (rus)

