Site icon KABARIKA

Senin Sore ini, Presiden Mesir El-Sisi dan Trump akan Memimpin KTT Perdamaian Gaza di Mesir

KABARIKA.ID, MESIR — Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Presiden Amerika Serikat (AS) hari Senin sore ini (13/10/2025) akan memimpin pertemuan puncak (KTT) internasional membahas usulan Presiden AS untuk mengakhiri perang Israel di Gaza, bertempat di Sharm el-Sheikh, Mesir.

Pertemuan KTT tersebut akan melibatkan para pemimpin dari lebih dari 20 negara, termasuk Presiden RI Prabowo Subianto yang mendapat undangan khusus.

Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Mesir yang dirilis pada hari Sabtu, KTT tersebut bertujuan untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza, meningkatkan upaya mencapai perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, dan mengawali era baru keamanan dan stabilitas regional.

Sekjen PBB, Antonio Guterres dan PM Inggris Keir Starmer mengatakan mereka akan hadir, bersama dengan Giorgia Meloni dari Italia dan Pedro Sanchez dari Spanyol.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron juga telah mengonfirmasi kehadirannya.

PM Starmer akan memberikan penghormatan atas peran Trump dan upaya diplomatik Mesir, Qatar, dan Turkiye dalam menengahi kesepakatan tersebut.

Seorang pegawai pemerintah kota mengibarkan bendera Mesir di antara bendera negara-negara lain di Sharm el-Sheikh, saat kota resor Laut Merah tersebut bersiap menerima para pemimpin dunia untuk menghadiri KTT Perdamaian Gaza pasca perjanjian gencatan senjata, Sabtu (11/10/2025). (Foto: arabnews)

Menurut keterangan dari kantor PM Starmer, ia diperkirakan akan menyerukan koordinasi internasional yang berkelanjutan untuk melaksanakan fase selanjutnya, yang mencakup pengerahan misi pemantauan gencatan senjata dan pembentukan pemerintahan transisi di Gaza.

Starmer akan menegaskan kembali dukungan teguh Inggris untuk membantu mengamankan gencatan senjata dan menyalurkan bantuan kemanusiaan.

Namun hingga hari Sabtu, belum jelas apakah PM Israel, Benjamin Netanyahu, atau perwakilan kelompok Hamas Palestina lainnya, akan hadir.

Pengumuman ini muncul ketika puluhan ribu warga Palestina mengalir ke utara di sepanjang pantai Gaza, dengan berjalan kaki, mobil, dan kereta, kembali ke rumah-rumah mereka yang terbengkalai dan sebagian besar telah hancur di Jalur Gaza, di tengah gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang baru saja berlaku.

Pasukan Israel sebagian ditarik mundur berdasarkan fase pertama perjanjian yang ditengahi AS yang dicapai minggu ini, untuk mengakhiri perang Israel di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 67.000 orang dan menghancurkan sebagian besar wilayah kantong yang dilanda kelaparan itu.

Perjuangan untuk Hidup Terus Berlanjut

Menurut sumber Al Jazeera, gencatan senjata mengakhiri satu bentuk kekerasan, tetapi perjuangan terus berlanjut.

“Orang-orang menempuh perjalanan yang melelahkan ini kembali ke sini, di utara, karena mereka memang tinggal di sini. Mereka terus mengatakan kepada kami bahwa mereka milik bagian wilayah Palestina di Jalur Gaza ini, dan mereka tidak akan pernah diusir dari sini,” kata Mahmoud, warga Gaza yang kembali dari pengungsian.

“Tetapi bermalam di sini akan sangat sulit. Perjuangan untuk bertahan hidup terus berlangsung dengan cara yang paling agresif, bukan setiap hari, tetapi setiap jam,” tambah Mahmoud.

Kondisi Kota Gaza yang hancur akibat bombardir Israel selama dua tahun. Tidak ada tanda-tanda kehidupan ketika warga Gaza kembali ke rumah-rumah mereka yang telah jadi puing-puing, menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, pada Kamis (9/10/2025). (Foto: arabnews)

Bagi banyak orang di Gaza, tidak ada rumah untuk kembali, karena perang telah menghancurkan lingkungan mereka menjadi debu setelah dua tahun dibombardir hebat oleh Israel.

“Rumah saya, yang saya bangun 40 tahun lalu, lenyap dalam sekejap,” kata Ahmed al-Jabari, sambil berdiri di tengah reruntuhan jalan di Kota Gaza.

“Saya bahagia tidak ada pertumpahan darah, tidak ada pembunuhan, tetapi ke mana kami akan pergi? Akankah kami tinggal 20 tahun di tenda?,” lanjut al-Jabari.

Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa 5.000 operasi publik telah dilakukan setelah gencatan senjata diberlakukan untuk meningkatkan kehidupan warga Palestina di wilayah kantong tersebut.

Di antaranya terdapat lebih dari 850 misi penyelamatan dan bantuan yang dilakukan oleh Pertahanan Sipil Gaza, kepolisian, dan tim kota untuk mengevakuasi jenazah, membersihkan puing-puing, dan mengamankan area yang hancur.

Ratusan Jenazah Ditemukan

Menurut keterangan Pertahanan Sipil Gaza, sekitar 150 jenazah telah ditemukan dari berbagai area di wilayah kantong tersebut sejak Jumat pagi.

Sementara itu, Rumah Sakit Nasser melaporkan bahwa 28 jenazah telah ditemukan dari Khan Younis di Gaza selatan saja.

Pertahanan Sipil menambahkan, lebih dari 900 misi layanan untuk memulihkan saluran air dan pembuangan limbah juga telah dilakukan.

Misi-misi ini dilakukan dengan sumber daya yang sangat minim karena blokade Israel di Gaza masih berlaku, yang membatasi masuknya bahan bakar dan peralatan.

Selama genosida, serangan Israel menghancurkan ambulans, truk pemadam kebakaran, dan pusat pertahanan sipil, yang semakin melumpuhkan upaya darurat dan pemulihan di seluruh wilayah kantong tersebut.

Wali Kota Khan Younis mengatakan bahwa 85 persen wilayah selatan Gaza telah hancur akibat serangan Israel, seraya menambahkan bahwa sekitar 400.000 ton puing harus disingkirkan dari jalan-jalan kota.

Warga Palestina yang mengungsi di dalam negeri berjalan di sepanjang jalan di antara reruntuhan bangunan yang hancur di tengah gencatan senjata antara Israel dan Hamas, di Kota Gaza, Sabtu (11/10/2025). (Foto: arabnews)

Seruan Pembukaan Penyeberangan

Kelompok-kelompok bantuan juga mendesak Israel untuk membuka kembali lebih banyak penyeberangan agar bantuan dapat masuk ke Gaza.

Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan siap memulihkan 145 titik distribusi makanan di seluruh wilayah, setelah Israel mengizinkan perluasan pengiriman.

Sebelum Israel menutup Gaza sepenuhnya pada bulan Maret, badan-badan PBB menyediakan makanan di 400 titik distribusi.

“Yang terpenting bagi kami saat ini untuk mencapai wilayah utara adalah pembukaan penyeberangan,” ujar Antoine Renard, perwakilan WFP dan direktur negara untuk Palestina, seperti dilansir Al Jazeera dari Deir el-Balah.

Ia menjelaskan bahwa dalam gencatan senjata sebelumnya pada bulan Januari, WFP telah memungkinkan hampir sepertiga dari semua barang yang berhasil masuk ke Gaza.

“Kondisinya seharusnya sama sekarang. Kami berharap praktik baik yang kami lakukan pada Januari 2025 akan diterapkan kembali dalam gencatan senjata ini,” kata Renard.

UNICEF akan Pasok Makanan Berenergi Tinggi

Izzat al-Risheq, anggota biro politik Hamas, mengatakan kelompok tersebut bekerja sama dengan negara-negara sahabat untuk memastikan masuknya bantuan ke Gaza, meskipun terjadi kerusakan besar akibat perang.

Sementara itu, juru bicara UNICEF, Tess Ingram, mengatakan pada hari Sabtu (11/10/2025), bahwa badan anak-anak tersebut berharap dapat meningkatkan pasokan makanan berenergi tinggi untuk anak-anak yang kekurangan gizi, perlengkapan kebersihan menstruasi, dan tenda secara signifikan, mulai hari Minggu. (rus)

Exit mobile version