KABARIKA.ID, RIYADH — Data maritim terbaru menyebutkan lebih dari 320 kapal tanker minyak dan gas, termasuk di antara sekitar 2.190 kapal komersial, yang terjebak di Teluk Arab pada hari Rabu (1/04/2026) akibat blokade Iran atas Selat Hormuz.
Hanya lalu lintas terbatas dan terkontrol ketat yang dapat melanjutkan pelayaran melalui jalur laut vital tersebut.
Kapal-kapal yang terdampar termasuk 12 kapal pengangkut gas berukuran sangat besar dan 50 kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar.
Hanya enam kapal yang melintasi selat antara Selasa dan Rabu, kata perusahaan intelijen maritim Kpler, jauh di bawah angka sekitar 120 kapal yang melintas setiap hari di masa damai.
Kapal-kapal yang telah melintasi selat tersebut diarahkan melalui koridor yang disetujui Iran di dekat Pulau Larak di lepas pantainya.
Lloyd’s List memperkirakan setidaknya 48 kapal telah menggunakan jalur tersebut sejak minggu lalu, sebagian besar terkait dengan Iran atau negara-negara yang menjalin hubungan persahabatan dengan Teheran.
Iran telah memberlakukan pembatasan ketat di selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar 20 persen minyak dan gas dunia, sejak diserang oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.
Bayar “Tol” hingga $2 Juta
Pemilik kapal yang diberikan izin melintas menanggung biaya hingga $2 juta, yang disebut “pos tol Teheran.”
Meski demikian, Iran telah mengindikasikan bahwa pihaknya mungkin akan membebaskan biaya tersebut untuk kapal-kapal dari negara-negara sahabat, termasuk dari Malaysia.
Otoritas Malaysia mengatakan beberapa kapal tanker milik perusahaan seperti Petronas, Sapura Energy, dan MISC sedang menunggu izin untuk transit.
Teheran meyakinkan Kuala Lumpur bahwa tidak akan ada biaya tol yang dikenakan pada kapal-kapalnya karena hubungan bilateral yang kuat.
Namun, para pejabat memperingatkan bahwa perjalanan dapat tertunda karena banyaknya kapal yang berlabuh dan menunggu persetujuan.
China mengkonfirmasi bahwa setidaknya tiga kapalnya baru-baru ini telah melewati selat tersebut setelah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait Iran.
Data pelacakan kapal menunjukkan dua kapal kontainer keluar dari Teluk pada upaya kedua, saat berlayar dalam formasi rapat dengan kecepatan tinggi.
Para analis mengatakan bahwa itu adalah kapal kontainer non-Iran pertama yang meninggalkan Teluk sejak konflik dimulai.
Sejumlah kapal lain juga berhasil keluar, termasuk kapal tanker yang dioperasikan Yunani yang membawa minyak mentah Saudi menuju India dan beberapa kapal pengangkut gas cair berbendera India.
Sumber-sumber pada industri pelayaran mengatakan bahwa beberapa awak kapal telah menggunakan tindakan menghindar, seperti berlayar di malam hari atau menonaktifkan transponder pelacak, untuk mengurangi paparan risiko termasuk ranjau, rudal, dan drone.
Terlepas dari pergerakan ini, ekspor energi dari produsen utama seperti Arab Saudi dan Qatar tetap terhenti, dengan ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut masih terdampar di dan sekitar Teluk.
Satu kapal Pakistan yang membawa minyak tiba di kota pelabuhan selatan Karachi pada hari Rabu, setelah melintasi selat. Sementara kapal lain mencapai pelabuhan melalui jalur alternatif.
Para pejabat mengatakan lebih banyak pengiriman diperkirakan akan tiba dalam beberapa minggu mendatang.
Upaya Diplomatik Atasi Krisis
Krisis ini telah mendorong upaya diplomatik internasional yang semakin meningkat. Inggris akan menjadi tuan rumah pembicaraan dengan sekitar 35 negara untuk menjajaki cara-cara memulihkan navigasi.
Sementara China dan Pakistan bersama-sama menyerukan gencatan senjata segera dan mendesak semua pihak untuk memastikan jalur pelayaran komersial yang aman.
Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu, mengulangi tuntutannya agar Teheran mencabut blokade tersebut.
Ia memperingatkan bahwa Washington dapat melancarkan tindakan militer yang keras jika tidak mematuhinya. (arabnews/rus)

