Site icon KABARIKA

Apa yang Perlu Diketahui tentang Perjanjian Kerangka Kerja AS-Iran untuk Mengakhiri Perang?

KABARIKA.ID, ISLAMABAD — Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan pendahuluan untuk menghentikan permusuhan selama 60 hari dan membuka kembali Selat Hormuz.

Kesepakatan awal ini akan membuka jalan bagi pembicaraan di masa depan yang pada akhirnya dapat mengakhiri perang mereka yang telah berlangsung berbulan-bulan.

Teks lengkap perjanjian tersebut belum dipublikasikan. Namun, detail yang muncul menunjukkan bahwa beberapa isu paling sulit, termasuk nasib program nuklir Iran, telah ditunda ke putaran negosiasi selanjutnya.

Kerangka kerja tersebut mewajibkan AS untuk mulai membongkar blokade angkatan lautnya terhadap Iran, sementara Iran akan membersihkan ranjau di Selat Hormuz dan membuka kembali jalur air vital tersebut untuk pelayaran. Demikian menurut para pejabat yang diberi pengarahan tentang dokumen tersebut.

Pada intinya, hal itu akan mengembalikan situasi ke status quo pada akhir Februari, ketika perang dimulai.

Berikut hal-hal yang perlu diketahui tentang Perjanjian Kerangka Kerja kedua negara.

Siapa yang Mengumumkan Kesepakatan Tersebut?

AS dan Iran, bersama dengan Pakistan yang telah berperan sebagai mediator, semuanya mengatakan pada hari Minggu (15/06/2026) bahwa kesepakatan telah tercapai, meskipun mereka menggunakan bahasa yang berbeda untuk menggambarkannya.

Presiden Trump mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial Truth Social miliknya, “Kesepakatan hebat ini akan membawa perdamaian dan keamanan ke seluruh kawasan.”

Sementara Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai “nota kesepahaman.”

PM Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan bahwa AS dan Iran telah berkomitmen untuk “penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon,” sebuah poin yang juga ditekankan oleh para pejabat Iran.

Sementara kesepakatan AS-Iran telah tercapai, namun pertempuran masih berlanjut di Lebanon antara Israel dan Hizbullah, milisi yang didukung Iran. Serangan Israel terhadap Lebanon juga telah menjadi poin penting dalam pembicaraan AS-Iran.

Baik Israel maupun Hizbullah sebagai pihak yang bertikai di Lebanon, bukanlah pihak dalam perjanjian antara AS dan Iran.

Tidak jelas bagaimana kesepakatan baru ini akan memengaruhi pertempuran di sana, meskipun para pejabat Israel pada hari Senin (15/06/2026) menolak kemungkinan penarikan militer dari Lebanon.

Bagaimana Jadwalnya?

AS dan Iran telah menyepakati kerangka kerja bertahap yang melibatkan negosiasi yang lebih panjang.

Wakil Menlu Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa komitmen Iran berdasarkan perjanjian tersebut, yang tidak ia jelaskan secara lengkap, akan dimulai pada hari Jumat (19/06/2026), ketika kesepakatan tersebut dijadwalkan untuk ditandatangani secara resmi di Jenewa.

Setelah itu, AS dan Iran akan menghentikan permusuhan setidaknya selama 60 hari untuk memungkinkan negosiasi, guna menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan.

PM Sharif mengatakan bahwa para mediator akan “meletakkan dasar untuk pembicaraan teknis” dalam serangkaian diskusi minggu ini.

Gharibabadi mengatakan bahwa program nuklir Iran –masalah penting yang belum terselesaikan– akan menjadi salah satu masalah yang akan dibahas dalam putaran negosiasi berikutnya.

Presiden Trump mengatakan bahwa ia telah memerintahkan penghentian segera blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran. (Foto: dailymail)

Bagaimana dengan Selat Hormuz?

Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, namun jalur tersebut ditutup oleh Iran selama pertempuran, menyebabkan lonjakan harga energi global.

Trump mengatakan di media sosial pada hari Minggu, bahwa selat tersebut akan dibuka kembali untuk pelayaran komersial pada hari Jumat, menunjukkan bahwa Iran akan terlebih dahulu menyingkirkan ranjau dari jalur air yang penting tersebut.

Trump juga mengatakan bahwa ia telah memerintahkan penghentian segera blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran, yang dimulai pada pertengahan April dalam upaya untuk memblokir aliran minyak Iran.

Dalam sebuah wawancara dengan The New York Times, Presiden Trump mengatakan bahwa selat tersebut akan “bebas tol secara permanen” di bawah perjanjian kerangka kerja, mengembalikan status sebelum perang meletus.

Pengumuman Trump tentang Selat Hormuz menyebabkan harga minyak mentah Brent, patokan global untuk minyak, turun hampir 5 persen menjadi sekitar $83 per barel.

Sejauh ini ara pejabat Iran belum mengomentari detail spesifik dari perjanjian tersebut.

Apa yang Terjadi dengan Program Nuklir Iran?

Perjanjian pendahuluan tersebut membiarkan pertanyaan tentang program nuklir Iran belum terselesaikan.

Gharibabadi mengatakan bahwa masalah nuklir akan menjadi salah satu isu yang dibahas selama putaran negosiasi berikutnya.

Menurut komentar sebelumnya dari para pejabat dan diplomat AS, ada empat poin utama negosiasi untuk diskusi tersebut, yakni: berapa lama Iran dapat menangguhkan pengayaan uranium, masa depan persediaan uranium yang diperkaya Iran saat ini, nasib situs nuklir Iran, dan inspeksi program nuklir Iran di masa mendatang.

Presiden Trump telah lama mengatakan bahwa Iran harus menyerahkan persediaan uranium yang sangat diperkaya, yang dikhawatirkan AS dan Israel dapat digunakan untuk membangun senjata nuklir.

Kepemimpinan Iran telah mempertahankan selama bertahun-tahun bahwa mereka tidak berniat untuk membangun senjata atom.

Dalam wawancara dengan The Times, Trump mengakui bahwa belum ada konsensus yang tercapai.

Ia mengatakan AS dan Iran sedang bernegosiasi mengenai jangka waktu komitmen Iran untuk menangguhkan pengayaan uraniumnya.

Berdasarkan kesepakatan yang sedang diupayakan, katanya, Iran akan dibatasi untuk memperkaya uranium untuk tujuan non-militer.

Apa yang akan Terjadi Pada Aset Iran yang Dibekukan?

Nasib miliaran dolar aset Iran yang dibekukan, sekitar $25 miliar di antaranya terkunci di rekening luar negeri karena sanksi internasional yang telah lama berlaku, juga ditunda.

Menurut Wakil Menlu Iran, Gharibabadi pencabutan sanksi akan dibahas dalam negosiasi di masa mendatang.

Dalam wawancara pada hari Minggu, Presiden Trump mengulangi penegasannya bahwa Teheran tidak akan mendapatkan pembebasan asetnya yang dibekukan atau menerima keringanan sanksi apa pun sampai mereka memenuhi komitmennya.

Akankah Kesepakatan itu Mengakhiri Pertempuran di Lebanon?

Iran bersikeras bahwa setiap perjanjian perdamaian harus mencakup Lebanon, sementara PM Israel Benjamin Netanyahu berupaya memisahkan kedua konflik tersebut dan mempertahankan keleluasaan untuk menyerang Hizbullah.

Iran dan Pakistan mengatakan bahwa perjanjian pendahuluan yang diumumkan pada hari Minggu, mencakup komitmen untuk mengakhiri operasi militer di semua lini, termasuk Lebanon.

Namun karena baik Hizbullah maupun Israel bukan pihak dalam perjanjian tersebut, maka penegakan komitmen itu akan bergantung pada kemampuan AS untuk memaksa Israel untuk mengurangi kampanye militernya dan kerja sama Iran dalam menahan Hizbullah.

Sejauh mana Iran dan AS mengharapkan Israel untuk mengurangi operasi militernya juga belum jelas.

Pada hari Senin (15/06/2026), Menhan Israel, Israel Katz, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di wilayah Lebanon yang telah mereka rebut dan duduki sejak perang dimulai.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengatakan “Nota Kesepahaman” yang disusun antara AS-Iran adalah hasil dari dialog selama berbulan-bulan. (Foto: parstoday)

Apa Kata Presiden Iran tentang Kesepakatan AS-Iran?

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menulis di media sosial X bahwa jika semua ketentuan nota kesepahaman Iran dan AS diimplementasikan dengan benar, hal itu dapat dianggap sebagai dokumen yang membanggakan bagi Iran.

Menurut laporan Pars Today yang mengutip Kantor Berita IRIB, Pezeshkian menulis di media sosial X pada Senin malam (15/06/2026): “Setelah dialog intensif, mayoritas besar anggota Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran menyetujui teks nota kesepahaman, sehingga tekad nyata AS untuk menghormati hak-hak bangsa Iran dapat diuji dalam praktiknya.”

Presiden Pezeshkian mencatat: “Nota kesepahaman yang disusun antara As-Iran adalah hasil dari dialog selama berbulan-bulan, dan tindak lanjut berkelanjutan jika semua ketentuannya dijalankan. (rus)

Exit mobile version