KABARIKA.ID, DUBAI/TEHERAN — Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan yang menyasar infrastruktur dan target militer pada hari Sabtu (18/07/2026), seiring memanasnya pertempuran memperebutkan Selat Hormuz.
Kawasan tersebut telah mengalami serangan timbal balik selama berhari-hari dalam konflik yang semakin berfokus pada kendali atas selat tersebut.
Runtuhnya gencatan senjata sementara membuat akhir dari perang yang dimulai oleh AS dan Israel lebih dari empat bulan lalu itu tidak terlihat jelas.
Komando Pusat AS menyatakan pada Sabtu dini hari, bahwa serangan malam ketujuh berturut-turut mereka telah menghantam pos pengawasan, infrastruktur logistik militer, gudang senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim.
Serangan udara AS menghantam pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi di provinsi Hormozgan, Iran bagian selatan, demikian dilaporkan televisi pemerintah Iran. Serangan tersebut mengenai Bonji, sebuah desa di pesisir Iran yang terletak di Selat Hormuz.
Serangan yang terjadi pada malam hari merusak dua terowongan dan sebuah jembatan, sehingga mengganggu salah satu jalan raya utama menuju Bandar Abbas, kota yang terletak di dekat bagian tersempit Selat Hormuz, menurut kantor berita pemerintah Iran.
Iran juga melaporkan adanya serangan terhadap Pulau Qeshm yang strategis, yang terletak di dalam selat tersebut.
Sebagai balasannya, Iran menyerang pangkalan militer AS yang ada di negara-negara teluk, yakni Kuwait, Irak, dan Yordania.
Kuwait menyatakan pada hari Sabtu bahwa mereka telah mencegat rudal dan pesawat nirawak (drone) Iran. Sebuah instalasi desalinasi air terkena serangan hingga menyebabkan kebakaran.
Ini merupakan serangan kedua dalam dua hari di negara gurun kecil tersebut, yang bergantung pada desalinasi untuk 90 persen kebutuhan air minumnya.
Menurut Pasukan Pemadam Kebakaran Kuwait, beberapa petugas pemadam kebakaran dan seorang pekerja terluka saat berupaya memadamkan dua kebakaran lain yang dipicu oleh serangan Iran.
Dinas pemadam kebakaran menyatakan melalui platform X bahwa mereka sedang menangani dua kebakaran yang terjadi di dua lokasi berbeda menyusul serangan terbaru dari Iran.
“Insiden tersebut mengakibatkan sejumlah petugas pemadam kebakaran dan seorang pekerja mengalami luka-luka,” kata petugas pemadam kebakaran tersebut.
Otoritas Kuwait menyatakan bahwa beberapa unit pembangkit listrik telah dimatikan sebagai langkah pencegahan.
Kuwait sempat menutup wilayah udaranya pada pagi hari akibat ancaman rudal, dan Kuwait Airways menyatakan sedang menjadwalkan ulang sebagian besar penerbangan dari dan menuju ibu kota.
Angkatan Darat Kuwait melaporkan terdengarnya suara ledakan saat sistem pertahanan udara mereka mencegat target-target musuh. Sejumlah fasilitas militer Kuwait mengalami kerusakan akibat serangan drone dan rudal Iran.
Irak juga menyatakan telah menembak jatuh pesawat nirawak (drone) penyerang di atas kota Irbil.
Kantor berita pemerintah Yordania, Petra, melaporkan bahwa sistem pertahanan udara kerajaan tersebut telah menjatuhkan rudal-rudal Iran. Pemerintah setempat mengatakan sirene peringatan udara berbunyi beberapa kali di Bahrain.
Militer Yordania menyatakan telah mencegat tiga rudal Iran yang diluncurkan ke arah wilayah kerajaan tersebut.
Pejabat Iran menyatakan bahwa serangan AS baru-baru ini telah menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya di Iran.
Di pihak militer AS juga mengakui adanya tambahan personel militer yang terluka.
Pejabat AS mengakui adanya tambahan 13 personel militer AS, terdiri dari 10 tentara Angkatan Darat dan tiga pelaut Angkatan Laut, yang terluka sejak hari Senin, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Sejak perang dimulai, tercatat 14 personel militer AS tewas dan 427 orang terluka.
Menurut televisi pemerintah Iran, Garda Revolusi Islam pada hari Sabtu memperkeras peringatannya bahwa negara-negara yang menampung pasukan AS harus siap menerima balasan yang setimpal.
Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran setelah perang pecah pada 28 Februari.
Tindakan ini memicu lonjakan harga minyak dan memberikan posisi tawar yang kuat bagi Iran dalam perundingan.
Harga minyak naik melampaui US$86 per barel pada hari Jumat (17/07/2026) mendekati level tertinggi dalam sebulan, seiring dengan penurunan volume pelayaran yang melintasi selat tersebut ke titik terendah dalam tiga minggu.
Akibat serangan intensif AS terhadap Iran, Wakil Menlu Iran, Kazem Gharibabadi mengatakan Iran telah menangguhkan komitmennya berdasarkan nota kesepahaman (MoU) setelah menuduh AS melanggar kesepakatan tersebut.
Gharibabadi mengatakan AS telah melanggar dan menangguhkan seluruh komitmennya berdasarkan MoU Islamabad.
Ia menambahkan bahwa Teheran juga telah menghentikan pelaksanaan komitmennya dan berfokus pada upaya mempertahankan negara di tengah berlanjutnya serangan AS.
Langkah ini menandai kali pertama pejabat Iran secara resmi menyatakan bahwa negara tersebut tidak lagi menjalankan klausul apa pun dari MoU itu, menyusul serangan AS yang dinilai oleh Teheran telah melanggar kesepakatan tersebut.
Serangkaian serangan terbaru telah memicu kekhawatiran yang kian meningkat bahwa konflik ini meluas dari sekadar target militer hingga mencakup infrastruktur sipil dan komersial yang vital.
Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi tersebut, khususnya terkait serangan terhadap infrastruktur sipil di Iran dan di seluruh kawasan.
Komandan kedirgantaraan Garda Revolusi Iran, Majid Mousavi, menyatakan bahwa serangan akan terus berlanjut hingga AS menghentikan operasi terhadap fasilitas pesisir Iran dan wilayah di sekitar selat tersebut.
David Khalfa, seorang pakar Timur Tengah dari Jean-Jaures Foundation, mengatakan bahwa semakin banyak infrastruktur strategis yang terseret ke dalam konflik ini.
“Paradoksnya adalah, meskipun konflik terus memanas, tidak ada pihak yang memiliki kepentingan strategis untuk membiarkan dinamika ini berlanjut. Namun, kedua belah pihak memandang kompromi apa pun sebagai bentuk penyerahan diri,” ujarnya. (rus)

