KABARIKA.ID, WASHINGTON — Pentagon baru saja merilis pernyataan bahwa hampir 100 personel militer Amerika Serikat (AS) terluka selama dua minggu terakhir akibat eskalasi serangan terhadap Iran.
Sementara itu, Teheran melancarkan gelombang serangan terhadap pangkalan militer AS di negara-negara teluk, sebagai balasan atas serangan malam kesepuluh berturut-turut AS terhadap Iran.
Korps Garda Revolusi Iran pada hari Selasa (21/07/2026) menyatakan telah menargetkan situs militer AS, termasuk sistem pertahanan udara dan instalasi radar di Bahrain dan Kuwait.
Dalam peristiwa yang berbeda, sebuah kapal tanker di Selat Hormuz melaporkan terkena proyektil tak dikenal, yang memaksa awaknya meninggalkan kapal dan naik ke sekoci penyelamat.
Negara-negara sekutu AS di Teluk, yakni Kuwait, Bahrain, dan Yordania menyatakan telah mengaktifkan sistem pertahanan untuk menghalau serangan tersebut.
Namun karena banyaknya korban luka di kalangan personel AS di berbagai fasilitas di kawasan itu selama beberapa pekan terakhir, kemungkinan akan memicu sorotan lebih tajam terhadap serangan balasan Iran.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengatakan bahwa sebagian besar korban luka personel militer AS, hanya mengalami “gegar otak ringan” dan 96% di antaranya telah kembali bertugas.
Parnell menanggapi laporan New York Times yang menyebutkan bahwa Pentagon menahan informasi mengenai tentara yang terluka akibat serangan Iran.
Ia membantah tuduhan bahwa Pentagon menyembunyikan data terkait korban luka.
Dalam sepekan terakhir, tiga tentara AS tewas dalam tugas di Yordania dan Irak.
Serangan udara AS selama 10 malam berturut-turut belum mampu memaksa Teheran melonggarkan cengkeramannya atas Selat Hormuz, jalur yang pada masa damai biasanya dilalui sekitar seperlima dari total perdagangan minyak mentah dan gas alam dunia.
Upaya untuk meminimalkan dampak gangguan ini terhadap perdagangan global dan harga minyak semakin rumit pada hari Senin (20/07/2026), setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, mengumumkan pemberlakuan embargo maritim terhadap Arab Saudi.
Rincian mengenai pelaksanaan embargo tersebut masih minim, namun seorang pejabat Houthi menyatakan bahwa Selat Bab al-Mandeb, yang terletak di ujung selatan Laut Merah dan biasanya menjadi jalur bagi sekitar 12% perdagangan dunia, akan ditutup bagi pihak Saudi.
Langkah ini diambil sebagai tanggapan atas “blokade tidak adil” yang dilakukan kerajaan tersebut terhadap rakyat Yaman selama lebih dari 10 tahun.
Kelompok Houthi sebelumnya telah menunjukkan kemampuan mereka dalam mengganggu lalu lintas pelayaran dengan menargetkan berbagai kapal di tengah konflik Israel-Hamas di Gaza.
Militer Arab Saudi menyatakan akan tetap menjaga jalur perairan tersebut agar tetap terbuka, namun ancaman ini akan memberikan tekanan tambahan pada ekspor minyak negara itu, mengingat Saudi telah meningkatkan aktivitas pengiriman melalui pelabuhan-pelabuhan Laut Merah akibat penutupan Selat Hormuz.
Di tengah situasi di mana AS dan Iran kembali mendekati ambang perang terbuka, Menteri Dalam Negeri Iran melakukan perjalanan ke Pakistan sebagai mediator konflik, untuk melakukan pembicaraan.
Kendati demikian, belum jelas kesepakatan baru apa yang mungkin dicapai, menyusul kegagalan kesepakatan sementara yang ditandatangani bulan lalu yang sedianya bertujuan mengakhiri pertempuran.
Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz sebagian besar telah terhenti, seiring dengan meningkatnya intensitas pertempuran. Kedua belah pihak juga menargetkan infrastruktur sipil yang menjadi tumpuan hidup jutaan orang.
Eskalasi konflik ini telah mendorong kenaikan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir. Pada hari Selasa (21/07/2026), harga minyak mentah Brent diperdagangkan di atas $88 per barel.
Sementara harga bensin reguler di AS naik hingga rata-rata $4 per galon, sehingga terus membebani daya beli masyarakat Amerika menjelang pemilihan umum sela pada bulan November mendatang.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyatakan telah menerima sejumlah laporan pada hari Selasa, bahwa sebuah kapal tanker terkena proyektil tak dikenal.
Insiden tersebut dilaporkan terjadi delapan mil laut di sebelah timur Limah, Oman.
Garda Revolusi Iran kemudian mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, serta dua serangan lainnya terhadap kapal-kapal di perairan tersebut pada hari Senin.
UKMTO menyebutkan bahwa petugas keamanan perusahaan kapal tanker tersebut melaporkan bahwa para awak telah meninggalkan kapal dan berada di dalam sekoci, tidak ada laporan mengenai dampak terhadap lingkungan.
Rute di sekitar Oman merupakan jalur yang disarankan oleh militer AS agar dilalui kapal-kapal guna menghindari kendali Iran. (rus)

