KABARIKA.ID, TEHRAN — Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan dahsyat terhadap Iran pada hari Kamis (30/07/2026), sebagai balasan atas serangan Teheran yang menargetkan pangkalan AS di Yordania.
Serangan pertama setelah jeda pertempuran hampir seminggu terakhir, menghancurkan harapan untuk kembali ke meja negosiasi.
“Serangan-serangan ini merupakan respons yang kuat terhadap serangan Iran kemarin terhadap pasukan AS yang berbasis di Timur Tengah,” kata Komando Pusat AS.
Arab Saudi dan AS juga mengumumkan serangan pada hari Rabu (29/07/2026) terhadap pangkalan-pangkalan militan di Irak, sementara sekutu AS, Israel, menuduh Hizbullah yang didukung Iran melanggar gencatan senjata.
Selama dua hari, eksportir minyak terbesar di dunia, Arab Saudi, melaporkan serangan pesawat tak berawak yang menargetkan fasilitas minyak mentah.
Menurut Arab Saudi, serangan tersebut dilakukan oleh kelompok-kelompok bersenjata Irak yang bersekutu dengan Teheran.
Menanggapi serangan AS itu, Iran meluncurkan rudal ke sekutu AS, Yordania. Media pemerintah Iran melaporkan serangan AS terjadi di dekat perbatasan Iran dengan Irak.
Menjelang serangan terbaru itu, Presiden AS Trump mengatakan kepada Fox News: “Kami akan menghantam mereka dengan keras… Kami akan menghajar mereka habis-habisan.”
Perlawanan Berlanjut
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan AS menghantam wilayah perbatasan Piranshahr. Menurut kantor berita Fars, rudal AS mendarat di wilayah tak berpenghuni sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.
Sebelumnya, militer Yordania menyatakan telah mencegat lima rudal Iran, sementara Garda Revolusi Iran mengatakan mereka telah menargetkan pangkalan-pangkalan AS di sana.
“Selama ancaman terhadap Republik Islam Iran terus berlanjut… perlawanan akan terus berlanjut,” kata pimpinan Garda Revolusi.
Situasi Berbahaya
Pasar saham AS ditutup anjlok akibat lonjakan harga minyak pada hari Rabu, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 30 tahun mencapai tingkat tertinggi sejak 2007.
Di Irak, operasi udara gabungan AS-Saudi dilakukan menyusul serangan terhadap fasilitas minyak Saudi yang dilakukan oleh pihak yang disebut Riyadh sebagai “milisi teroris yang setia kepada Iran.”
Militer AS menyatakan bahwa serangan tersebut menyasar lokasi logistik dan gudang senjata milik kelompok yang berafiliasi dengan Iran.
Aliansi Hashed Al-Shaabi di Irak menyatakan bahwa serangan itu menewaskan sedikitnya 20 anggotanya.
Mereka mengecam tindakan tersebut sebagai eskalasi berbahaya terhadap sebuah institusi keamanan resmi.
Dua pejabat Hashed mengatakan bahwa lima penasihat asal Iran termasuk di antara korban tewas, dan koresponden AFP melihat peti jenazah yang diselimuti bendera Iran.
Aliansi Hashed Al-Shaabi, yang juga dikenal sebagai Pasukan Mobilisasi Populer (Popular Mobilization Forces), dibentuk pada tahun 2014 untuk memerangi kelompok jihadis sebelum akhirnya diintegrasikan ke dalam militer.
Aliansi ini mencakup brigade-brigade milik kelompok yang didukung Iran, yang dikenal kerap bertindak secara sepihak.
Irak mengecam serangan AS-Arab Saudi tersebut dan menyatakan penolakannya terhadap segala bentuk agresi, terlepas dari pihak mana yang bertanggung jawab ataupun alasan yang dikemukakan.
Dewan Menteri Keamanan Nasional menyatakan akan menindak tegas setiap pelanggaran terhadap kedaulatan Irak, serta mencegah pihak mana pun menggunakan wilayah Irak untuk mengancam negara-negara tetangga.
Namun, menurut Fox News, Trump mengatakan bahwa serangan tersebut “dikoordinasikan dengan pemerintah Irak.”
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan AS terhadap Irak untuk melucuti senjata kelompok-kelompok pro-Iran.
Awal bulan ini, Perdana Menteri Ali Al-Zaidi melakukan kunjungan ke AS maupun Iran.
Laut Merah
AS mengatakan bahwa gencatan senjata selama beberapa hari itu bertujuan untuk memulai babak negosiasi baru, termasuk mengenai Selat Hormuz, yang telah diblokade Iran selama sebagian besar perang.
Garda Revolusi Iran mengatakan mereka telah menyerang dan menghentikan tiga kapal tanker di selat Hormuz, dan menegaskan bahwa Iran memiliki kendali penuh atas jalur air yang sebelumnya bebas dilalui.
Teheran bersikeras akan mempertahankan kendali atas jalur penting untuk pengiriman energi tersebut, dan juga telah mengumumkan rencana untuk memungut biaya untuk pelayaran, yang ditentang oleh Washington.
AS juga mengumumkan sanksi baru yang menargetkan entitas yang terkait dengan Garda Revolusi Iran yang dituduh memeras kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.
Penutupan Hormuz telah memberikan signifikansi yang lebih besar pada Laut Merah, jalur ekspor alternatif Riyadh. (rus)

