Site icon KABARIKA

Trump Klaim Dewan Perdamaian Capai Kesepakatan Pelucutan Senjata Hamas di Gaza

KABARIKA.ID, WASHINGTON — Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukan presiden AS, Donald Trump menyambut kesepakatan tersebut sebagai langkah krusial. Namun, tanggapan pejabat Israel dan Hamas mengisyaratkan masih adanya perbedaan pendapat

Trump mengatakan bahwa kesepakatan telah dicapai agar Hamas melucuti senjatanya dan Israel menarik pasukannya dari Gaza.

Namun pada sisi lain, keterangan dari kedua belah pihak mengungkap adanya perselisihan mengenai pelaksanaannya yang mungkin sulit untuk diatasi.

“Kesepakatan ini merupakan langkah krusial agar Gaza pada akhirnya dapat dipimpin oleh pemerintahan Palestina baru yang akan bekerja sama erat dengan Dewan Perdamaian demi membantu rakyat Palestina,” ujar Trump dalam sebuah unggahan di media sosial pada Kamis (30/07/2026).

“Pada saat yang sama, Israel akan mendapatkan jaminan keamanan yang layak, di mana Gaza tidak lagi digunakan sebagai basis bagi serangan teror,” tulis Trump.

Sebuah kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi AS telah ditandatangani oleh kedua belah pihak tahun lalu, namun negosiasi antara Israel dan Hamas sebagian besar masih menemui jalan buntu terkait pelaksanaan tahap kedua, termasuk pelucutan senjata Hamas dan rekonstruksi Gaza.

Rencana gencatan senjata 20 poin dari Trump yang diumumkan tahun lalu menyerukan kelompok militan yang didukung Iran tersebut untuk menyerahkan senjata dan menghancurkan jaringan terowongan mereka yang luas.

Rencana itu juga mencakup penarikan pasukan Israel dari Gaza, pembentukan pemerintahan teknokratis Palestina yang baru, pengerahan pasukan keamanan internasional, serta pembangunan kembali wilayah Palestina yang hancur akibat perang yang telah berlangsung lebih dari dua tahun.

Asap membubung setelah serangan militer Israel di Gaza. Hingga saat ini, militer Israel terus memperluas pendudukan militernya di Gaza. (Foto: theguardian)

Para pejabat senior Hamas dilaporkan telah menyetujui rencana tersebut, namun persoalan mengenai apakah kelompok itu akan melucuti senjata sebelum atau sesudah penarikan mundur Israel dari Gaza, telah menjadi titik perdebatan.

“Kami tidak akan mengambil tindakan apa pun terkait pelucutan senjata sebelum Israel menarik diri dari wilayah tersebut,” ujar Ghazi Hamad, anggota tim negosiasi Hamas.

Dalam wawancara dengan kantor berita AFP, Hamad mengatakan bahwa kesepakatan itu menyatakan bahwa Israel harus berkomitmen dan melaksanakan kewajibannya.

“Kesepakatan itu memuat ketentuan yang jelas yang menyatakan bahwa Israel harus berkomitmen dan melaksanakan kewajibannya. Jika Israel tidak melaksanakan kesepakatan tersebut, kami pun tidak akan melakukannya,” tegas Hamad.

Sebelumnya, seorang pejabat Israel mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa ketentuan yang diusulkan itu tidak memuaskan.

“Israel menuntut pelucutan senjata total Hamas, termasuk penyingkiran senjata dari Gaza dan demiliterisasi penuh wilayah tersebut sebagai prasyarat bagi proses apa pun. Rencana yang sedang dibahas tidak memberikan tanggapan yang memuaskan atas tuntutan-tuntutan tersebut dan Israel telah menyampaikan keberatannya,” kata pejabat tersebut.

Dalam sebuah pengarahan kepada wartawan pada Kamis malam (30/07/2026), seorang pejabat AS mengakui masih adanya perbedaan pendapat di antara kedua belah pihak, dengan mengatakan bahwa Israel sangat skeptis bahwa Hamas akan melucuti senjatanya.

Pejabat itu menambahkan bahwa Trump akan sangat, sangat kecewa jika Israel tidak mematuhi kesepakatan itu.

Piagam pendirian Hamas menyerukan perlawanan bersenjata terhadap Israel, dan kelompok itu enggan melepaskan persenjataannya, termasuk roket, rudal anti-tank, dan bahan peledak, yang menjadi inti dari identitas mereka.

Awal bulan ini, kelompok tersebut mengumumkan pembubaran pemerintahannya di Gaza dan sedang bersiap untuk menyerahkan kekuasaan kepada komite teknis yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.

Saat berbicara pada hari Kamis, para pejabat AS dan pihak terkait tidak dapat memberikan jadwal pasti untuk pelucutan senjata Hamas maupun kelompok lain yang beroperasi di Gaza, seperti Jihad Islam Palestina, namun mengisyaratkan bahwa proses tersebut bisa memakan waktu antara 200 hingga 350 hari.

Hamas menginginkan Israel berkomitmen untuk menghentikan serangan terhadap Gaza dan menarik pasukannya.

Para pemimpinnya dilaporkan akan mengadakan pembicaraan dengan para mediator dari Mesir, Qatar, dan Turki mengenai tahap kedua rencana Gaza Trump dalam beberapa hari mendatang.

“Proses ini akan memakan waktu sekitar 14 hari, atau mungkin lebih lama. Kita harus menyepakati setiap detailnya, bagaimana perjanjian itu akan diimplementasikan, kapan akan diimplementasikan, dan mekanisme pelaksanaannya,” papar Hamad.

Sejauh ini, realitas lapangan di Gaza masih jauh dari peta jalan ini.

Serangan Israel menewaskan sedikitnya enam warga Palestina di Gaza pada hari Kamis, termasuk dua anak, kata petugas medis setempat.

Militer Israel terus memperluas pendudukan militernya di Gaza. PM Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Israel bermaksud untuk memperluas wilayah yang dikuasainya hingga 70% dari wilayah Gaza.

Masih belum jelas berapa banyak pasukan yang akan tersedia untuk dikerahkan dengan Pasukan Stabilisasi Internasional yang direncanakan, dan apakah pasukan Israel akan menarik diri dari wilayah tersebut. (rus)

Exit mobile version