KABARIKA.ID, WASHINGTON — Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz bisa tercapai paling cepat hari Rabu (5/08/2026) (waktu Teluk-Red) seiring berlangsungnya negosiasi antara AS, Iran, dan Oman.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan pada hari Selasa (4/08/2026) bahwa AS terlibat dalam negosiasi antara Oman dan Iran mengenai peningkatan lalu lintas melalui Selat Hormuz.
Media Axios melaporkan pada hari Selasa, bahwa AS, Iran, dan Oman hampir mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali selat tersebut, yang diharapkan Washington dapat diumumkan pada hari Rabu (5/08/2026).
Axios yang mengutip pejabat regional yang tidak disebutkan namanya dan seorang pejabat AS, mengatakan kesepakatan yang sedang dibahas itu merupakan pengaturan selama 60 hari untuk jalur pelayaran yang aman di selat Hormuz antara Iran dan Oman tersebut.
Kesepakatan yang telah dinegosiasikan selama beberapa minggu ini bertujuan untuk melanjutkan kembali gencatan senjata antara AS dan Iran, serta memulai kembali negosiasi mengenai kesepakatan nuklir.
Menlu Rubio mengatakan ada negosiasi sepanjang hari pada hari Selasa dengan Iran, dan menilai pembicaraan tersebut secara positif.
Lalu lintas di jalur perairan Selat Hormuz, yang merupakan saluran utama bagi pasokan minyak dan gas global, telah menjadi poin perdebatan dalam pembicaraan dan memicu kembali pertempuran setelah gencatan senjata bulan April.
Iran telah memperketat cengkeramannya atas Selat Hormuz dan berkeinginan menguasai selat tersebut serta memungut biaya lintas, wewenang yang tidak mereka gunakan sebelum perang pecah pada 28 Februari.
Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Hormuz bisa terjadi besok atau lusa, seraya memberi tahu para wartawan di California bahwa tim negosiator mengalami hari yang sangat baik.
Sebelumnya, ia melontarkan pernyataan yang bernada lebih mengancam.
“Selat itu akan segera dibuka, atau mereka akan dihantam dengan sangat keras, dan kemudian selat itu tetap akan dibuka,” ujar Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News.
“Satu-satunya jalan keluar adalah dengan cara bertempur,” tambahnya.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent sebelumnya mengatakan kepada CNBC bahwa ada kemungkinan kita akan mencapai kesepakatan pada hari Rabu atau Kamis.
Menyoroti situasi yang tidak stabil, seorang awak kapal dilaporkan hilang pada hari Selasa setelah kapal dagang yang ditumpanginya terkena proyektil di Selat Hormuz, sementara sebuah kapal India di Laut Merah tenggelam akibat serangan yang pelakunya belum diketahui.
Dalam pola yang kini menjadi kebiasaan, pekan lalu Trump mengancam akan menghantam Iran dengan sangat keras, yang berpotensi mencakup serangan terhadap infrastruktur sipil, namun kemudian melunakkan sikapnya dengan mengisyaratkan bahwa kesepakatan sudah dekat.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya negosiasi dengan Washington, meskipun Trump bersikeras bahwa perundingan tersebut sedang berlangsung.
Kesepakatan atau Penyerahan Diri
Qatar, yang bertindak sebagai penengah negosiasi, menyatakan bahwa upaya diplomatik masih terus berjalan, namun tidak ada rencana pembicaraan langsung antara Iran dan AS.
Pemimpin Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, berbicara melalui telepon dengan Trump pada hari Selasa. Pejabat di Doha menyatakan bahwa mereka membahas upaya untuk meredakan ketegangan.
Trump sebelumnya mengatakan ia berharap sudah mengetahui perkembangan pembicaraan tersebut pada hari Selasa, bagaimanapun hasilnya, namun menegaskan bahwa masalah ini tidaklah terlalu rumit.
Tujuan diplomatik Washington mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan denuklirisasi Iran, sebuah proses yang menurut Trump mungkin akan memakan waktu cukup lama.
Setelah lebih dari lima bulan berlangsungnya perang yang telah menelan biaya miliaran dolar bagi Washington, Iran masih mampu meluncurkan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang menyasar target-target AS dan sekutunya di kawasan Teluk, serta kapal-kapal komersial.
Pada Selasa dini hari, badan keamanan maritim Inggris (UKMTO), melaporkan bahwa sebuah kapal kargo yang tidak disebutkan namanya terkena hantaman proyektil tak dikenal di Selat Hormuz, di lepas pantai Oman.
Iran terus menerapkan blokade efektif di selat tersebut dan bersikeras agar kapal-kapal berkoordinasi dengan pihaknya saat melintas.
Serangan di Laut Merah
Gangguan di Selat Hormuz semakin meningkatkan arti penting jalur pelayaran melalui Laut Merah, wilayah di mana kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman telah menyatakan blokade maritim terhadap Arab Saudi.
Pelabuhan Yanbu milik Arab Saudi di Laut Merah memungkinkan negara itu untuk tetap melakukan pengiriman ke pasar global dengan menghindari Selat Hormuz sepenuhnya.
Namun, sejak mengumumkan blokade tersebut, kelompok Houthi mengaku telah menyerang sejumlah kapal yang mereka anggap melanggar aturan mereka.
Pada hari Selasa, kapal India MSV Faize Noore Oliya tenggelam di Laut Merah, di lepas pantai Yaman, akibat serangan yang pelakunya tidak diketahui. Seluruh awak kapal berhasil diselamatkan.
Laut Merah merupakan pintu gerbang menuju Terusan Suez, dan rangkaian serangan Houthi sebelumnya terhadap kapal-kapal komersial selama perang Gaza telah memaksa perusahaan pelayaran untuk menempuh rute memutar yang jauh melalui ujung selatan Afrika. (rus)

