KABARIKA.ID, TEHERAN — Iran telah memperingatkan negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru AS terhadap wilayahnya akan memicu pembalasan yang menyasar infrastruktur energi vital di seluruh kawasan.
Langkah ini diambil saat Teheran berupaya meningkatkan risiko dan biaya dari tindakan militer dengan mengancam sekutu-sekutu regional terdekat Washington.
Peringatan tersebut disampaikan Teheran pada hari Rabu (5/08/2026) melalui serangkaian kontak diplomatik tingkat tinggi, setelah Presiden Donald Trump mengancam pada 28 Juli untuk menyerang jaringan dan infrastruktur energi Iran.
Dua pejabat senior Iran, dua sumber dari Teluk, dan seorang diplomat senior kawasan yang mengetahui diskusi tersebut, mengatakan bahwa Menlu Iran, Abbas Araqchi telah berbicara dengan rekan sejawatnya dari Arab Saudi, Turki, dan Qatar, serta kepala angkatan darat Pakistan.
Mereka semua berbicara dengan syarat anonimitas karena sensitivitas masalah ini.
Araqchi mendesak sekutu Washington di Teluk untuk menggunakan pengaruh mereka terhadap Trump guna mencegahnya melancarkan serangan lanjutan, kata diplomat senior tersebut.
Ia juga memperingatkan bahwa serangan apa pun terhadap Iran akan memicu pembalasan terhadap aset AS dan fasilitas energi di seluruh wilayah Teluk.
Pesan yang disampaikannya konsisten dalam setiap percakapan, ujar diplomat tersebut.
“Kami siap melakukan pembalasan, namun mencari solusi diplomatik adalah cara terbaik untuk menghindari eskalasi yang lebih luas dan kehancuran di seluruh kawasan,” tegas sumber tersebut.
“Peringatan Iran sangat tegas, jika Amerika menargetkan infrastruktur Iran, mereka akan membalas dengan menyerang fasilitas energi di kawasan Teluk serta target-target regional lainnya,” ungkap salah satu sumber dari kawasan Teluk.
Manuver diplomatik ini menyoroti upaya Iran menggunakan ancaman kehancuran regional yang lebih luas sebagai daya tawar untuk mencegah serangan lanjutan AS.
Hal ini menempatkan negara-negara Teluk, yang menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer AS sekaligus bergantung pada ekspor energi, dalam posisi sulit di antara Washington dan Teheran.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman kemudian berbicara dengan Trump, mendesaknya untuk menunda tindakan militer dan kembali ke meja perundingan, mengupayakan gencatan senjata, dan menempuh penyelesaian diplomatik.
Demikian disampaikan oleh diplomat senior dan sumber-sumber dari kawasan Teluk.
Peringatan tersebut ditujukan kepada setiap negara Teluk, kata sumber lain dari kawasan Teluk, namun disampaikan terutama melalui Arab Saudi dan Qatar.
Qatar, Oman, dan Arab Saudi semuanya telah mendesak Washington untuk melanjutkan kembali pembicaraan dengan Teheran dan mencegah konflik baru.
Iran memperingatkan bahwa satu putaran serangan AS lagi dapat mengubah kawasan ini menjadi lautan api, ujar seorang pejabat Iran.
Pada hari Minggu (2/08/2026), Presiden Trump menyatakan kesediaannya untuk membatalkan serangan terhadap Iran dengan syarat tercapai kesepakatan dalam waktu singkat.
“Arab Saudi meyakini bahwa eskalasi lebih lanjut hanya akan membawa kehancuran yang lebih besar. Itulah sebabnya mereka mendesak Trump untuk memberi kesempatan pada upaya diplomasi,” ujar sumber dari kawasan Teluk.
Meski mendesak Washington untuk menempuh jalur diplomasi, Riyadh juga menegaskan akan membela diri jika mendapat ancaman.
Ali Shihabi, seorang analis Saudi yang dekat dengan pihak istana kerajaan mengatakan, penilaian pihak kerajaan bahwa eskalasi lebih lanjut kecil kemungkinannya akan membuahkan hasil yang diharapkan.
“Kerajaan meyakini bahwa kombinasi antara respons militer yang proporsional dan tekanan berkelanjutan terhadap Iran di Selat Hormuz, merupakan jalan terbaik menuju penyelesaian diplomatik yang praktis,” kata Shihabi.
Para pemimpin agama Iran telah berulang kali menuntut penutupan pangkalan militer AS di Teluk dan meminta negara-negara Arab Teluk untuk berhenti berbagi intelijen dengan Washington, yang menurut Teheran telah digunakan untuk memfasilitasi serangan terhadap mereka.
Menurut seorang pejabat Iran, peringatan Teheran menegaskan bahwa setiap serangan baru dari AS akan dibalas dengan serangan terhadap fasilitas energi, kilang minyak, jaringan listrik, infrastruktur air, jaringan transportasi, dan ladang minyak di seluruh wilayah Teluk.
“Musuh terus mengancam infrastruktur Iran. Jika Iran mengalami kerusakan, mereka akan membalas dengan kerusakan yang jauh lebih besar,” kata pejabat tersebut.
Dengan mengancam infrastruktur yang vital bagi perekonomian Teluk, Teheran berupaya meyakinkan Washington maupun mitra-mitra Arabnya bahwa serangan lain terhadap Iran akan membawa konsekuensi ekonomi dan strategis yang tidak dapat diterima.
Langkah ini bertujuan mendorong negara-negara kawasan untuk mendesak Trump agar menghindari aksi militer lanjutan.
Dari sudut pandang Teheran, kata pejabat senior Iran tersebut, Trump kini menghadapi dua pilihan yang sama-sama sulit: meningkatkan konflik yang dapat melanda kawasan Teluk dan mengganggu pasokan energi global, atau menerima hasil negosiasi yang tidak mencapai kemenangan telak sebagaimana yang diinginkan Washington.
Salah satu hambatan utama dalam mencapai kesepakatan, menurut seorang diplomat senior kawasan, adalah keengganan Washington untuk membiarkan Teheran tampil sebagai pihak yang mengklaim kemenangan.
“Amerika Serikat menginginkan sesuatu yang dapat mereka tunjukkan sebagai bukti bahwa mereka telah memenangkan perang,” ujar diplomat tersebut. (rus)

