KABARIKA.ID, DUBAI — Iran dan Amerika Serikat (AS) tidak membahas perpanjangan gencatan senjata karena Teheran tidak menganggap kesepakatan tersebut memiliki tanggal mulai yang pasti, ungkap sumber senior Iran pada hari Rabu (12/08/2026).
Hal ini menimbulkan keraguan baru terhadap upaya menghidupkan kembali kesepakatan antara kedua belah pihak.
Komentar tersebut muncul setelah Pakistan pada hari Selasa (11/08/2026) menyatakan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan.
Qatar mengatakan pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz telah mencapai tahap lanjut.
Hal ini mengisyaratkan bahwa upaya diplomatik terus berlanjut meskipun ada laporan mengenai serangan terhadap kapal-kapal di perairan kawasan tersebut.
Komentar pejabat Iran itu menunjukkan bahwa Teheran tidak memandang masalah ini sekadar sebagai perpanjangan gencatan senjata yang dibatasi waktu.
Sebaliknya, Iran terus berfokus pada pelaksanaan komitmen yang menurut mereka telah dibuat dalam kesepakatan bulan Juni.
Dalam wawancara dengan Bloomberg News, Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif mengatakan situasi kembali mengarah pada kesepakatan damai atau sebuah kesepakatan.
“Sinyal-sinyal dalam dua atau tiga hari terakhir menunjukkan bahwa kita hampir mencapai semacam kesepakatan,” kata Asif.
Menteri Dalam Negeri Pakistan sedang mengunjungi Iran untuk membahas keamanan kawasan, stabilitas, dan perkembangan lainnya, ungkap kementerian luar negeri Pakistan, pada hari Rabu (12/08/2026).
“Dia sedang membahas hubungan bilateral, keamanan, stabilitas dan keamanan kawasan, serta keterlibatan konstruktif di antara pihak-pihak di kawasan tersebut dan perkembangan regional,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi kepada para wartawan di Islamabad.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan dalam sebuah taklimat pada hari Selasa, bahwa diskusi terpisah antara Oman dan Iran mengenai pengelolaan Selat Hormuz telah mencapai tahap lanjut.
Pakistan dan Qatar telah menjadi penengah utama dalam konflik yang telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon, sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Iran telah membalas dengan menyerang aset dan infrastruktur AS di berbagai negara, termasuk Oman, Yordania, Kuwait, Israel, UEA, dan Arab Saudi.
Pada hari Minggu, Iran menyatakan sedang mendekati kesepakatan final dengan Oman untuk menetapkan jalur pelayaran baru di Selat Hormuz, namun menegaskan bahwa hal itu saja tidak akan membuka jalur air tersebut kecuali AS memenuhi syarat-syarat tertentu.
Syarat-syarat tersebut sebagian besar sejalan dengan nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang dicapai antara Washington dan Teheran pada bulan Juni, yang mencakup pemberian kompensasi serta penghentian sanksi dan ancaman militer.
Araghchi mengatakan bahwa Teheran dan Washington tidak melakukan pembicaraan langsung, namun pesan-pesan tetap dipertukarkan melalui pihak perantara.
Presiden AS Donald Trump memberikan tanggapan pada Senin malam (10/08/2026) dengan mengajukan tuntutan baru.
Trump menyatakan ingin mendapatkan kompensasi tersendiri dari Teheran, sebuah langkah yang tampaknya membuat kedua belah pihak menemui jalan buntu.
Dua Kapal Diserang
Meskipun terdapat tanda-tanda kemajuan awal dalam diplomasi, muncul laporan mengenai serangan baru terhadap kapal-kapal di Teluk Oman dan Laut Merah, yang menyoroti semakin meluasnya ancaman terhadap perdagangan maritim.
Kementerian Transportasi Yaman menyatakan bahwa empat awak kapal tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh kelompok Houthi Yaman terhadap sebuah kapal kargo kecil di Selat Bab al-Mandab pada hari Selasa.
Korban jiwa di atas kapal Tihamah milik Mesir ini merupakan kematian pertama akibat serangan Houthi terhadap kapal sejak konflik yang melibatkan Iran bermula.
Sebuah kapal kontainer juga dilaporkan terkena rudal di lepas pantai Pakistan saat melintasi Teluk Oman dalam insiden yang diduga sebagai serangan AS, menurut keterangan sejumlah sumber.
The Wall Street Journal mengutip pernyataan seorang pejabat AS yang menyebutkan bahwa kapal tersebut diserang oleh helikopter militer AS setelah awaknya mengabaikan peringatan dari personel yang bertugas menegakkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
AS pertama kali mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal yang hendak menuju pelabuhan Iran pada bulan April dan memberlakukannya kembali pada bulan Juli setelah kesepakatan damai bulan Juni gagal. (rus)

