Site icon KABARIKA

Iran: AS Balik Haluan dari Menuntut Penyerahan Diri Menjadi Mengupayakan Perundingan Seiring Naiknya Harga Minyak

KABARIKA.ID, TEHERAN — Teheran melontarkan retorika penuh keyakinan di tengah krisis regional yang kian parah, dan perundingan gencatan senjata dengan Washington yang tak mengalami kemajuan.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran telah membuktikan dirinya sebagai kekuatan yang tangguh dan tak terkalahkan dengan melawan AS dan Israel, di saat lumpuhnya lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak.

“Saya telah berulang kali mendengar hal ini dari para menteri luar negeri dan pejabat negara lain: ‘Kalian, rakyat Iran, telah menciptakan keajaiban; kalian mengejutkan seluruh dunia’,” ujar Araghchi dalam konferensi pers yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada hari Rabu (12/08/2026).

Araghchi menambahkan bahwa tidak ada yang menyangka bahwa Iran mampu melawan Amerika seperti ini.

Menurutnya, Washington memasuki perang dengan dukungan dari Israel, negara-negara Barat, dan pihak internasional lainnya.

“Presiden AS menulis dua kata di media sosial pada awal perang: ‘Penyerahan diri tanpa syarat’. Itulah yang mereka inginkan dari kami, namun 20 hari kemudian, musuh yang sama justru memohon untuk berunding,” ungkap Araghchi.

Pernyataan optimis Araghchi itu ditanggapi dengan nada lebih hati-hati oleh Anwar Gargash, penasihat diplomatik Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Ia memperingatkan bahwa Timur Tengah tidak bisa terus terjebak dalam situasi yang bukan perang, namun juga bukan damai.

“Tujuannya adalah beralih menuju stabilitas berkelanjutan yang diatur oleh aturan yang jelas dan disepakati bersama,” tulis Gargash di platform X.

Pejabat senior UEA tersebut menyatakan bahwa tahap selanjutnya dari kesepakatan antara Iran dan AS tidak boleh dibangun di atas fondasi yang rapuh atau pengaturan yang mengabaikan hukum internasional.

Gargash menyerukan penyelesaian masalah kawasan yang didasarkan pada hidup berdampingan secara damai, penghormatan terhadap kedaulatan, dan logika perdamaian, di tengah macetnya perundingan AS-Iran serta peringatan dari kedua belah pihak bahwa konflik bersenjata bisa kembali pecah.

Konflik antara AS dan Iran menyebabkan lumpuhnya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan terpenting di dunia.

Menurut data Kpler seperti yang dikutip Reuters, hanya enam kapal yang melintasi Selat Hormuz pada hari Senin. Angka ini turun dari rata-rata sekitar 11 kapal dalam periode 10 hari sebelumnya.

Sebagai perbandingan, sebelum konflik terjadi, antara 130 hingga 140 kapal melintasi jalur perairan tersebut setiap harinya.

Tokoh bisnis Iran, Majid Reza Hariri, memperingatkan bahwa Teheran tidak bisa begitu saja beradaptasi dengan blokade maritim yang diterapkan AS.

“Baik melalui negosiasi, permintaan, ancaman, ataupun penggunaan kekuatan dan dimulainya kembali perang, blokade maritim ini harus diakhiri,” ujar Hariri.

Ia mengatakan bahwa beralih dari jalur laut ke transportasi darat dapat menambah beban biaya impor Iran hingga 18 miliar dolar AS per tahun.

Menurut Hariri, biaya pengiriman satu kontainer dari Tiongkok melalui jalur laut adalah sekitar 3.000 dolar AS, sedangkan melalui jalur darat biayanya mencapai 12.000 dolar AS.

“Hal terburuk yang bisa terjadi saat ini adalah anggapan bahwa kita bisa menghindari blokade maritim dan tetap menjalankan roda pemerintahan di tengah situasi tersebut. Kita tidak boleh membiarkan ekonomi kita atau pihak musuh menjadi terbiasa dengan adanya blokade maritim ini,” jelas Hariri.

Harga minyak mentah Brent naik hingga mendekati $90 per barel pada hari Selasa, sementara harga minyak mentah AS menembus angka $84.

Sementara itu, pemimpin Minoritas Senat AS, Chuck Schumer, menuduh Trump memulai perang ilegal tanpa strategi untuk keluar dari konflik tersebut.

“Donald Trump menyeret kita ke dalam perang ilegal, sedang kalah dalam perang ilegal itu, dan tidak memiliki jalan keluarnya,” tulis Schumer di platform X.

“Kurangnya strategi, disiplin, dan kemampuan untuk bernegosiasi secara serius membahayakan pasukan kita serta menaikkan harga kebutuhan bagi masyarakat umum Amerika,” lanjut Schumer. (rus)

Exit mobile version