KABARIKA.ID, YERUSALEM — Selalu saja ada tindakan tak terpuji dari Israel di wilayah Palestina. Yang terbaru adalah otoritas Israel mengganti nama “Damascus Gate” (Gerbang Damaskus) menjadi “Ancient Gate” (Gerbang Kuno) pada papan penunjuk jalan umum di wilayah pendudukan Yerusalem Timur, Kamis (27/08/2026).
Langkah ini dinilai oleh para kritikus sebagai upaya lanjutan untuk menghapus identitas Palestina di kota tersebut.
“Damascus Gate”, yang terletak di sisi utara Kota Tua Yerusalem, merupakan salah satu pintu masuk paling menonjol yang menembus tembok kuno kota itu.
Gerbang ini juga menjadi jalur utama bagi warga Palestina yang hendak menuju Masjid Al-Aqsa serta menjadi titik pertemuan sosial yang penting.
Awal pekan ini, papan penunjuk jalan yang bertuliskan nama “Damascus Gate” dicopot dan diganti dengan tulisan “Ancient Gate” dalam bahasa Arab, Inggris, dan Ibrani.
Abdullah Marouf, seorang peneliti yang mengkhususkan diri pada masalah Masjid Al-Aqsa, mengatakan bahwa Israel berupaya melakukan Yahudisasi terhadap Yerusalem dengan cara mengganti simbol-simbol Arab dan Islam dalam ruang publik dengan simbol-simbol Yahudi.
Ia mengatakan bahwa kawasan di sekitar Gerbang Damaskus merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari warga Palestina dan bahwa Israel telah lama berupaya mengubah namanya.
“Nama Ibrani ini bertujuan untuk menghilangkan sebutan ‘Gerbang Damaskus’ dari tempat tersebut, mengingat gerbang itu merupakan salah satu gerbang utama dan sentral di Yerusalem,” ujar Marouf.
Menurutnya, upaya Israel untuk mengubah nama berbagai lokasi penting di kawasan tersebut bukanlah hal baru.
Sebelumnya, Israel mengubah nama Gua Salomo, yang terletak di antara Gerbang Damaskus dan Gerbang Herodes, menjadi “Gua Zedekia”.
Nama-nama semacam itu, menurut Marouf, dimaksudkan untuk mengubah karakter dan identitas Yerusalem.
“Israel telah terbukti gagal total dalam mencapai tujuan ini, karena citra, sifat, dan nuansa Arab Yerusalem sangatlah nyata. Sebuah papan penanda di salah satu jalan kota tidak dapat mengubah kenyataan tersebut,” tambah Marouf.
Perubahan terbaru ini terjadi di tengah kampanye yang lebih luas yang menyasar nama-nama jalan, lokasi penting, dan situs bersejarah di seluruh Yerusalem.
Pemerintahan Wilayah Yerusalem (Jerusalem Governorate) menyatakan bahwa otoritas Israel sedang mengganti nama-nama berbahasa Arab yang telah lama digunakan sebagai bagian dari kebijakan untuk mengubah lanskap perkotaan dan budaya kota tersebut.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (26/08/2026), pihak pemerintahan wilayah tersebut menyebutkan bahwa perubahan itu bukan sekadar langkah administratif, melainkan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memutus hubungan generasi mendatang dengan nama-nama bersejarah berbahasa Arab di kota itu.
“Nama-nama gerbang, jalan, dan lokasi penting di Yerusalem merupakan bagian tak terpisahkan dari memori nasional, sejarah, dan budaya kota ini. Menggantinya dengan nama-nama baru mencederai identitas Yerusalem serta warisan Arab, Islam, dan Kristennya,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Pihak gubernuran memperingatkan bahwa langkah-langkah semacam itu tidak akan menghapus sejarah Yerusalem ataupun ingatan nasional dan budayanya.
Pendudukan dan kemudian aneksasi Yerusalem Timur, termasuk Kota Tua, oleh Israel tidak diakui berdasarkan hukum internasional.
Konvensi Jenewa Keempat melarang pihak pendudukan melakukan perubahan permanen terhadap wilayah pendudukan, kecuali jika diperlukan demi alasan militer atau kemanusiaan. (rus)

