Site icon KABARIKA

AS dan Iran Gelar Pembicaraan yang Dimediasi di Sela-sela Sidang Umum PBB untuk Mengakhiri Perang dan Membuka Selat Hormuz

KABARIKA.ID, NEW YORK — Amerika Serikat (AS) dan Iran telah melakukan pembicaraan tidak langsung selama berjam-jam melalui mediator di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) di New York, pada Selasa (22/09/2026).

Namun, terdapat perbedaan keterangan mengenai apakah para pejabat dari kedua negara bertemu secara langsung.

Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengatakan bahwa para mediator telah “bergerak bolak-balik” di antara delegasi AS dan Iran sepanjang hari Selasa.

“Hari ini, di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, kami melakukan pembicaraan panjang dengan delegasi Iran melalui para mediator, yang bergerak bolak-balik di antara kedua belah pihak sepanjang hari,” kata Witkoff dalam sebuah unggahan di X.

“Mereka berhasil menyelesaikan satu putaran diskusi yang kami harap akan terbukti konstruktif dan menjanjikan. Para mediator akan melanjutkan tugas mereka,” lanjut Witkoff.

Presiden AS Donald Trump memberikan keterangan yang lebih lugas, dengan mengatakan bahwa Witkoff dan Jared Kushner telah mengadakan pertemuan selama tiga jam dengan para pejabat Iran.

“Mereka menjalani pertemuan yang sangat baik, pertemuan yang sangat produktif,” ujar Trump kepada para wartawan di PBB.

Trump menambahkan bahwa ia meyakini adanya “momentum besar” menuju sebuah kesepakatan.

Menurut Trump, pembicaraan masih terus berlangsung dan ia yakin kesepakatan pada akhirnya akan tercapai.

Menurut laporan Al Jazeera dari Teheran, media pemerintah Iran telah mengonfirmasi adanya pertemuan antara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi dan Witkoff setelah berminggu-minggu tanpa adanya kontak langsung.

“Pertemuan terbaru ini diadakan atas permintaan dan desakan pihak Amerika, serta bertujuan untuk menyampaikan pesan dan persyaratan Iran, khususnya terkait pembukaan kembali Selat Hormuz,” demikian laporan Al Jazeera.

Media pemerintah Iran menyatakan bahwa persyaratan tersebut mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS, pelepasan aset Iran yang dibekukan, serta pengakhiran perang di wilayah yang oleh Teheran disebut sebagai front perlawanan.

Seorang sumber keamanan Iran yang berstatus anonim mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ada kemungkinan untuk melanjutkan upaya diplomatik, jika Washington memenuhi persyaratan dan komitmen Iran.

Kontak-kontak ini terjadi setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa delegasi Teheran di New York memiliki wewenang penuh untuk melakukan diplomasi, dan menyebut pertemuan PBB tersebut sebagai peluang emas bagi Washington untuk kembali ke meja perundingan.

Pejabat tersebut mengatakan bahwa Iran telah menyerahkan proposal terbarunya kepada Washington melalui pihak penengah pada 16 September. Rincian mengenai kemungkinan kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan dapat dibahas di New York.

Pejabat tersebut juga mengatakan bahwa Iran dapat membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika AS melonggarkan tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Presiden AS Donald Trump (tengah) menghadiri pertemuan multilateral Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, pada Selasa (22/09/2026. Dari kiri ke kanan: Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, Raja Abdullah II dari Yordania, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, dan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa. (Foto: al Jazeera)

Kekuatan Regional Mendorong De-eskalasi

Pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran ini dibarengi dengan upaya diplomatik yang lebih luas dengan melibatkan negara-negara Teluk dan negara-negara kawasan lainnya.

Qatar menyatakan sedang bekerja sama dengan Pakistan untuk meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran, menjaga kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz, serta mendorong stabilitas kawasan.

Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, juga bertemu dengan Araghchi di New York pada hari Selasa.

Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan bahwa mereka membahas perkembangan situasi di kawasan, upaya meredakan ketegangan, serta cara-cara menciptakan kondisi yang kondusif bagi dialog.

Oman juga terlibat dalam diplomasi maritim terkait jalur perairan tersebut, setelah sebelumnya membahas pengaturan maritim dengan Teheran yang bertujuan memfasilitasi navigasi melalui Selat Hormuz.

Trump juga bertemu dengan para pemimpin dan pejabat senior dari negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Turki, Yordania, Suriah, dan Irak pada hari Selasa (22/09/2026), untuk membahas masalah Iran dan keamanan kawasan.

Usulan Qatar mengenai kerangka kerja keamanan bersama yang melibatkan Iran dan negara-negara Teluk termasuk dalam isu-isu yang sedang dipertimbangkan.

Satu sumber di kawasan tersebut menyebutkan bahwa Teheran sedang meninjau usulan itu.

Pembicaraan akan Dilanjutkan

Pembicaraan tidak langsung ini berlangsung beberapa jam setelah Trump memanfaatkan pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB untuk mengaitkan kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan peringatan lain mengenai eskalasi militer.

Trump mengatakan ia menghadapi keputusan besar antara mencapai kesepakatan yang memungkinkan Iran untuk bangkit kembali, dan langkah untuk memusnahkan Republik Islam tersebut.

Ia juga menyatakan bahwa Washington sebelumnya telah menawarkan kerja sama ekonomi penuh kepada Teheran sebagai imbalan atas penghentian program nuklirnya serta apa yang disebut AS sebagai dukungan Iran terhadap terorisme.

Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran dan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menanggapi hal ini melalui pernyataan yang dimuat media Iran.

Mereka menyebut ancaman Trump sebagai bukti kelemahan strategis dan menyatakan bahwa Iran siap melancarkan pukulan yang lebih keras, menghancurkan, dan tak terduga sebagai balasan atas serangan lebih lanjut.

Para pejabat AS berulang kali mengisyaratkan adanya kemajuan dalam perundingan setelah gagalnya nota kesepahaman bulan Juni.

Pada awal Agustus, Trump mengatakan kedua belah pihak telah mencapai parameter untuk kemungkinan kesepakatan dan kemudian menggambarkan pembicaraan mengenai Selat Hormuz berjalan dengan baik, meskipun masih terdapat perbedaan pendapat yang signifikan.

Awal bulan ini, ia kembali menyatakan harapannya bahwa perang tersebut mendekati akhir.

Teheran terus mensyaratkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan pelonggaran tekanan militer oleh AS serta pencabutan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sementara itu, Witkoff menyatakan bahwa para mediator akan melanjutkan upaya mereka menyusul pertukaran pesan yang dimediasi pada hari Selasa. (rus)

Exit mobile version