Site icon KABARIKA

Puluhan Delegasi Tinggalkan Ruangan Saat PM Netanyahu Berpidato pada Sidang Majelis Umum PBB

KABARIKA.ID, NEW YORK — Puluhan utusan dari berbagai penjuru dunia meninggalkan ruangan saat PM Israel Benjamin Netanyahu berpidato pada Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) ke-81 di New York, pada hari Kamis (24/09/2026) sebagai bentuk protes terhadap pemimpin Israel yang telah membunuh 73 ribu lebih rakyat Gaza sejak Oktober 2023 tersebut.

Para delegasi melontarkan cemoohan dan sorakan tidak setuju, sementara tim Netanyahu sendiri berdiri dan bertepuk tangan, dan pimpinan sidang berteriak meminta ketertiban.

“Jika ada pengecut moral lain yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan lakukan sekarang,” ujar Netanyahu sebelum menyampaikan pidatonya.

Delegasi Palestina, melalui sebuah memo mengajak misi-misi lain untuk turut serta dalam aksi protes mereka.

Pemimpin Israel yang sedang menghadapi tekanan politik berat itu melontarkan pidato yang berapi-api, menyerang baik musuh maupun sekutu.

Aksi puluhan delegasi dari berbagai negara meninggalkan ruangan saat PM Netanyahu berpidato di PBB, dapat dilihat dalam video ini.

Di tengah persaingan ketat untuk mempertahankan kekuasaan dalam pemilihan umum tanggal 27 Oktober, Netanyahu memanfaatkan panggung global tersebut untuk menyerang berbagai pihak, mulai dari para pemimpin Iran hingga wali kota Muslim pertama New York serta mitra-mitranya seperti Inggris, Prancis, dan Turki.

PM Israel Benjamin Netanyahu memegang perangkat penyeranta (pager) saat pidatonya di PBB, perangkat yang digunakan Israel untuk meledakkan anggota Hizbullah di Lebanon. (Foto: arabnews)

Ia melontarkan kecaman keras terhadap Wali Kota New York yang populer dan berhaluan kiri, Zohran Mamdani, dengan menyebutnya “antisemit” dengan mengatakan: “Sejak Anda terpilih sebagai wali kota kota ini, banyak orang Yahudi tidak lagi merasa aman.”

Mamdani sempat mengancam akan melaksanakan surat perintah penangkapan ICC terhadap Netanyahu, sebelum akhirnya mengakui bahwa ia tidak memiliki wewenang untuk itu.

Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang bermarkas di Den Haag menyatakan pada tahun 2024 bahwa mereka memiliki dasar yang kuat untuk meyakini Netanyahu bertanggung jawab atas kejahatan perang dalam operasi militer di Gaza, yang merupakan respons terhadap serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Menambah ketegangan, puluhan pengunjuk rasa, beberapa di antaranya membentangkan spanduk bertuliskan: “hentikan genosida”.

Para demonstran berkumpul di dekat markas PBB di New York. Sejumlah demonstran ditahan, termasuk bintang film Hollywood, Susan Sarandon.

Inggris dan Prancis, mitra lama Israel yang belakangan semakin vokal dalam melontarkan kritik, juga menjadi sasaran kecaman Netanyahu.

Baik Inggris maupun Prancis telah menjatuhkan sanksi terbatas terhadap ekspor Israel yang berasal dari wilayah pendudukan Tepi Barat.

Selain itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron memicu kemarahan Israel karena mengklaim dalam pidatonya di PBB bahwa Hamas tidak aktif di Tepi Barat. Selama ini, Gaza dikenal sebagai basis kekuatan Hamas.

Saat berpidato di podium, Netanyahu menyerang Inggris dan Prancis dengan menyinggung sejarah kekaisaran kolonial mereka di masa lalu.

“Mereka menuduh Israel melakukan kolonialisme. Dan siapa yang menuduh kami? Di antara mereka adalah orang-orang di Inggris dan Prancis. Demi Tuhan, merekalah yang menciptakan istilah itu,” ujar Netanyahu.

Hubungan Netanyahu dengan Macron memang sudah buruk. Macron memimpin upaya negara-negara Barat dalam Sidang Umum PBB tahun lalu untuk mengakui negara Palestina.

Netanyahu melontarkan kecaman keras terhadap Iran, menyebutnya sebagai diktator pembunuh.

Ia menyatakan bahwa perang yang melibatkan serangan pasukan Israel dan AS terhadap Iran selama hampir tujuh bulan terakhir, telah mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.

“Saya bersumpah untuk mencegah diktator pembunuh Iran mengembangkan bom atom, senjata nuklir yang ditujukan untuk menghancurkan Israel, senjata nuklir yang dapat mengancam seluruh dunia,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa kejatuhan kepemimpinan Iran, yang utusannya di PBB memajang foto mendiang komandan Pasukan Quds, Qasem Soleimani, di meja mereka, tidak lama lagi.

Meski terus digempur, pemerintah Iran tetap memegang kendali dan terus menantang Amerika Serikat dengan cara memblokir Selat Hormuz secara efektif.

Dalam pidatonya, Netanyahu memperlihatkan perangkat penyeranta (pager) serupa dengan yang kabarnya telah dipasangi bahan peledak oleh intelijen Israel sebelum dikirimkan kepada para anggota kelompok militan Lebanon yang didukung Iran, Hizbullah.

Pager-pager tersebut kemudian diledakkan, melukai puluhan anggota Hizbullah serta warga sipil yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Netanyahu juga menyerang Turkiye. Ia menuduh Turki mendukung kelompok Islamis Hamas yang didukung Iran, dan bahkan menyebut pemimpin negara itu, Recep Tayyip Erdogan, sebagai seorang tiran.

Kunjungan Netanyahu ke New York ini hanya berlangsung singkat sebelum ia segera kembali ke Israel, tempat kampanye pemilihan umum sedang berlangsung sengit.

Kedatangannya di New York juga tidak disambut oleh wali kota, Zohran Mamdani.

Netanyahu juga tidak dijadwalkan untuk bertemu dengan para pemimpin tinggi AS. (rus)

Exit mobile version