KABARIKA.ID, YERUSALEM — Blok Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengamankan 53 kursi, sementara blok oposisi “Perubahan” (Change) meraih 48 kursi dan partai-partai Arab memperoleh 19 kursi, setelah 100 persen surat suara reguler dalam pemilihan umum Israel selesai dihitung.
Angka-angka tersebut, yang belum mencakup surat suara dalam amplop khusus (double envelopes), mencerminkan sekitar 86 persen dari total suara yang masuk dalam pemilihan umum 2026.
Pembagian kursi akhir masih bergantung pada penghitungan surat suara yang tersisa.
Blok Netanyahu masih kekurangan kursi untuk mencapai ambang batas 61 kursi yang diperlukan demi meraih mayoritas parlemen di Knesset yang beranggotakan 120 orang.
Dengan demikian, pembentukan pemerintahan berikutnya kini bergantung pada negosiasi koalisi.
Pemilihan umum ini mendapat perhatian luas di tengah ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan sayap kanan Netanyahu, serta lanskap politik yang kerap diwarnai kebuntuan pemilu.
Hasil jajak pendapat (exit poll) sebelumnya menunjukkan tidak adanya pemenang yang jelas, yang mengisyaratkan kemungkinan sulitnya negosiasi dalam pembentukan pemerintahan.
Netanyahu telah menyerukan pembentukan pemerintahan sayap kanan yang kuat dan menutup kemungkinan kerja sama dengan partai-partai Arab, yang ia sebut sebagai kelompok anti-Zionis.
Mantan kepala militer berhaluan tengah, Gadi Eisenkot dari parta Yashar dan meraih 21 kursi, menyatakan keterbukaan bersyarat untuk bekerja sama dengan partai-partai yang dipimpin oleh tokoh Arab, meskipun langkah semacam itu tetap menjadi isu yang sensitif secara politik.
Partai Likud memenangkan 26 kursi, sementara Joint List dan Together masing-masing meraih 12 kursi.
Partai Demokrat memperoleh delapan kursi, sedangkan Yisrael Beiteinu, Ra’am, United Torah Judaism, Otzma Yehudit, dan Shas masing-masing mendapatkan tujuh kursi. Religious Zionism dan Identity memenangkan enam kursi.
Hasil ini membuat Netanyahu dihadapkan pada tantangan untuk menggalang dukungan yang cukup guna membentuk pemerintahan, sementara partai-partai oposisi juga harus mengatasi perbedaan politik di antara mereka untuk menyusun koalisi alternatif. (rus)

