KABARIKA.ID, TEHERAN — Seorang pejabat senior Iran mengatakan pada hari Selasa (3/11/2026) bahwa Iran dan Amerika Serikat (AS) masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri perang, meskipun upaya diplomatik telah ditingkatkan guna mencegah kemungkinan kembalinya konflik aktif pasca-pemilihan paruh waktu AS.
Sementara itu, pihak mediator dari Qatar menyatakan bahwa mereka mengharapkan tanggapan dari AS dan Iran dalam waktu 36 jam terkait usulan baru untuk memajukan perundingan.
Pada hari Selasa, Wakil Menlu Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa Teheran berhak melakukan pembelaan diri menyusul serangan AS di Pulau Qeshm, Selat Hormuz.
“Republik Islam Iran tetap memegang hak untuk melakukan pembelaan diri yang sah sampai agresi militer tersebut diakhiri sepenuhnya dan secara permanen,” ujar Gharibabadi, sebagaimana dikutip oleh kantor berita Iran, ISNA.
AS melancarkan serangan yang disebut sebagai tindakan “defensif” di Pulau Qeshm, Iran, pada malam sebelumnya.
Seorang pejabat AS menyatakan bahwa serangan tersebut menyasar rudal darat-ke-udara yang digunakan untuk melawan aset-aset AS.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengeklaim telah menjatuhkan pesawat nirawak (drone) MQ-9 milik AS di wilayah udara sebelah timur Selat Hormuz pada malam yang sama.
“Para mediator sedang berupaya keras untuk memperkecil kesenjangan antara Teheran dan Washington,” ujar seorang pejabat senior Iran, menyusul kedatangan mediator asal Qatar di Teheran pada Senin malam untuk membahas draf kesepakatan AS-Iran yang telah dinegosiasikan selama delapan hari terakhir.
“Syarat-syarat Teheran harus dipenuhi jika AS ingin Selat Hormuz dibuka kembali. Perundingan nuklir baru bisa dimulai setelah syarat-syarat itu dipenuhi, Teheran tidak akan menerima “tuntutan berlebihan” dari Washington,” tegas pejabat Iran tersebut.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa kini giliran AS untuk mengambil langkah, setelah Teheran memberikan “tanggapan yang tegas dan rasional” kepada Washington.
Pejabat senior Iran itu mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan memberikan respons keras, baik di kawasan tersebut maupun di luar wilayah itu, terhadap serangan apa pun dari AS.
“Musuh berupaya memaksa bangsa Iran untuk tunduk melalui ancaman dan tindakan militer, namun mereka sangat keliru. Iran tidak akan pernah tunduk. Jika AS melakukan kesalahan perhitungan, respons Teheran akan sulit diprediksi dan tidak akan dibatasi oleh batasan geografis,” ujar Qalibaf pada hari Selasa (3/11/2026).
Presiden AS Donald Trump, pada hari Senin (2/11/2026) melontarkan keraguan mengenai apakah ia akan benar-benar melaksanakan ancaman untuk melanjutkan serangan militer terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu pada hari Selasa.
Ia menambahkan keyakinannya bahwa Teheran justru ingin segera mencapai kesepakatan.
Dialog Regional Terus Berlangsung
Bersamaan dengan pertukaran pesan antara AS dan Iran melalui pihak perantara, upaya diplomatik juga terus dilakukan di tingkat regional guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.
Menlu Iran, Abbas Araqchi, menyatakan pada hari Selasa, bahwa pembicaraan antara Iran dan Arab Saudi masih terus berlangsung.
Teheran berupaya mencapai kesepakatan keamanan regional baru bagi negara-negara di kawasan tersebut tanpa melibatkan militer asing.
Pekan lalu, sejumlah pejabat tinggi dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bertemu dengan para pejabat Iran di Teheran.
Pertemuan ini menandai kontak tingkat tinggi pertama antara Iran dan ketiga negara tersebut sejak bulan Agustus.
Perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, dan sejak saat itu, pertempuran telah meluas hingga ke Arab Saudi dan Yaman.
Pihak Riyadh menyatakan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk membuka jalur negosiasi guna “mencegah kembalinya eskalasi militer,” mengingat pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman, yang berafiliasi dengan Iran, telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Serangan Houthi terhadap kerajaan Saudi meningkat seiring dengan pergerakan milisi kuat itu menuju Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur pelayaran vital yang terletak di sisi lain Semenanjung Arab dari Selat Hormuz. (rus)

