Site icon KABARIKA

Jangan Takut Minum Kopi 2-3 Cangkir Sehari, Kafein Terbukti Menurunkan Risiko Demensia

KABARIKA.ID, MAKASSAR — Kopi mungkin lebih sehat bagi Anda daripada yang diperkirakan sebelumnya. Minum 2-3 cangkir kopi setiap hari dapat mengurangi risiko demensia, menurut penelitian observasional terbaru yang diterbitkan di The Journal of the American Medical Association.

Para peneliti Amerika Serikat (AS) menganalisis data selama lebih empat dekade dari 130.000 dokter dan perawat.

Mereka menemukan bahwa mengonsumsi kopi dan teh dengan kafein sedang dapat menurunkan risiko penurunan kognitif, sebagaimana dilaporkan SWNS (South West News Service).

Analisis tersebut mengungkapkan bahwa peserta dengan asupan kopi berkafein tertinggi tidak hanya memiliki risiko demensia yang lebih rendah, tetapi juga tampaknya ada titik optimal di mana kafein paling efektif.

Temuan sebelumnya tentang hubungan antara kopi dan demensia tidak konsisten karena keterbatasan data tindak lanjut.

Dr. Kyle Feldmann, seorang ahli jantung dari Ohio Health saat menjadi narasumber pada jaringan Fox News, Selasa (10/02/2026), menguraikan temuan baru tentang manfaat kesehatan dari minum beberapa cangkir kopi sehari, seperti mencegah jantung berdebar dan melindungi tekanan darah tinggi. (Foto: tangkapan layar FoxNews)

Untuk mengatasi hal tersebut, para peneliti menggunakan informasi dari Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study, yang melacak para profesional perawatan kesehatan dari usia paruh baya hingga usia lanjut.

Selama periode tindak lanjut hingga 43 tahun, tim menganalisis pola diet yang dilaporkan sendiri, yang dikumpulkan melalui kuesioner yang diberikan setiap empat tahun.

Pendekatan jangka panjang ini memungkinkan para ilmuwan untuk memperhitungkan perubahan konsumsi kopi dan teh dari waktu ke waktu, sambil memantau diagnosis demensia klinis dan perubahan halus dalam fungsi kognitif.

Dengan menyesuaikan variabel seperti merokok, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan yang mendasarinya, para peneliti mampu mengisolasi hubungan spesifik antara asupan kafein dan kesehatan otak jangka panjang.

Dari 131.821 peserta yang terlibat dalam analisis jangka panjang, 11.033 mengalami demensia.

Analisis tersebut mengungkapkan bahwa peserta dengan asupan kopi berkafein tertinggi memiliki risiko demensia 18% lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang melaporkan sedikit atau tidak mengonsumsi kopi sama sekali.

Para peserta studi juga menunjukkan kinerja yang lebih baik pada tes fungsi kognitif secara keseluruhan.

Meskipun asupan teh yang lebih tinggi menghasilkan hasil yang serupa, kopi tanpa kafein tidak, menunjukkan bahwa kafein kemungkinan merupakan faktor neuroprotektif utama.

Manfaat kognitif paling menonjol pada mereka yang mengonsumsi 2-3 cangkir kopi berkafein atau 1-2 cangkir teh setiap hari.

Demensia Pengaruhi 55 Juta Orang di Dunia

Demensia memengaruhi lebih dari 6 juta orang Amerika dan 55 juta orang di seluruh dunia, dengan National Institutes of Health melaporkan lebih dari 100.000 kematian di AS setiap tahunnya.

Para ahli menekankan bahwa pencegahan dini sangat penting, karena pengobatan saat ini hanya memberikan manfaat yang terbatas setelah gejala muncul.

Hal ini telah mendorong para ilmuwan untuk menyelidiki peran faktor gaya hidup tertentu dalam penurunan kognitif.

“Saat mencari kemungkinan alat pencegahan demensia, kami berpikir sesuatu yang lazim seperti kopi, mungkin merupakan intervensi diet yang menjanjikan,” kata penulis senior studi Daniel Wang, seorang asisten profesor di Harvard Medical School.

Baik kopi maupun teh mengandung bahan bioaktif seperti polifenol dan kafein, yang dapat mengurangi peradangan dan kerusakan sel sekaligus melindungi dari penurunan kognitif. Para peneliti menyebut sifat-sifat ini sebagai “neuroprotektif.”

Bertentangan dengan beberapa penelitian sebelumnya, asupan kafein yang lebih tinggi tidak menghasilkan efek negatif; sebaliknya, hal itu memberikan manfaat neuroprotektif yang konsisten bahkan bagi mereka yang memiliki kecenderungan genetik tinggi terhadap penyakit tersebut.

Meskipun temuan tersebut menggembirakan, Wang memperingatkan bahwa ukuran efeknya kecil dan harus dilihat sebagai salah satu dari banyak cara untuk melindungi kesehatan kognitif selama penuaan.

Exit mobile version