Site icon KABARIKA

Ahli Jantung Memperingatkan: Gagal Jantung Bisa Tersembunyi di Balik Hasil Tes Normal

KABARIKA.ID, MAKASSAR — Organisasi-organisasi kardiologi terkemuka di seluruh dunia kini mengubah pandangan mereka.

Hanya berselang lima tahun setelah definisi universal pertama mengenai gagal jantung diterbitkan, mereka mengusulkan pembaruan besar.

Para ahli dari American Heart Association (AHA), World Heart Federation (WHF), American College of Cardiology (ACC), dan European Society of Cardiology (ESC) kini telah mengajukan pemahaman baru tentang gagal jantung kepada komunitas internasional.

Dokumen konsensus mereka, yang diterbitkan dalam jurnal Circulation pada akhir Juni lalu, menyatakan bahwa ukuran kemampuan pemompaan jantung yang ‘normal’ ternyata tidak serta-merta menepis kemungkinan adanya gagal jantung.

Terlebih lagi, mengidentifikasi penyebab dasar yang sebenarnya dapat membuka peluang bagi pencegahan, pengobatan, dan bahkan remisi.

“Menurut saya, definisi-definisi ini sangatlah penting bagi pasien,” ujar ketua bersama penyusun dokumen konsensus tersebut, ahli jantung Mary Norine Walsh, kepada Circulation dalam sebuah siniar.

Dalam tinjauan mereka, dia dan rekan-rekan penulisnya berpendapat bahwa definisi gagal jantung yang telah diperbarui ini menyediakan kerangka kerja yang lebih jelas dan konsisten baik bagi dokter maupun pasien.

Para ahli jantung menjelaskan bahwa gagal jantung bukanlah kondisi yang kaku atau sederhana; kondisinya dapat berubah-ubah dan gejalanya sangat bervariasi pada setiap orang.

Secara teknis, gagal jantung adalah kondisi klinis yang disebabkan oleh kelainan struktural atau fungsional yang mengganggu kemampuan jantung untuk memompa atau menampung darah.

Kondisi ini merupakan penyebab utama rawat inap di seluruh dunia dan berdampak pada lebih dari 55 juta orang.

Namun, terlepas dari beban yang sangat besar ini, cara pendefinisian dan klasifikasi gagal jantung sangat beragam di berbagai negara dan organisasi medis.

“Kurangnya kesadaran mengenai gagal jantung kerap diidentifikasi sebagai hambatan utama bagi pasien… serta keluarga mereka, masyarakat luas, tenaga kesehatan di semua tingkat layanan, dan para pembuat kebijakan,” demikian bunyi pernyataan yang dimuat di situs web WHF.

Konsensus internasional yang baru ini merupakan upaya kedua dalam kurun waktu lima tahun untuk menyamakan pemahaman kita semua.

Konsensus tersebut menyatakan bahwa definisi yang ada saat ini terlalu bergantung pada satu pengukuran saja untuk mendefinisikan gagal jantung.

Pengukuran ini disebut sebagai “fraksi ejeksi” (EF), yang mencatat persentase darah yang dipompa keluar dari jantung pada setiap detak.

Meskipun pengukuran EF dapat membantu mendiagnosis kondisi tersebut, pengukuran ini saja tidak dapat memastikan atau menyingkirkan kemungkinan gagal jantung sepenuhnya.

Pemeriksaan pencitraan, tes darah, atau tes genetik juga perlu dipertimbangkan.

“Kami sangat menyarankan untuk beralih dari pengukuran fraksi ejeksi yang kaku. Hal ini memang agak kontroversial, namun kami merasa bahwa pengukuran yang selama ini terlalu kaku justru membatasi pemahaman mengenai patologi gagal jantung,” ujar Walsh.

Untuk mengetahui tentang pengukuran Fraksi Ejeksi dan Gagal Jantung, tonton di video ini.

Hingga saat ini, sejumlah uji klinis yang meneliti gagal jantung mensyaratkan terpenuhinya rentang pengukuran EF yang sangat spesifik dan terbatas. Biasanya, pengukuran yang dimaksud adalah fraksi ejeksi ventrikel kiri (LVEF).

Namun, nilai LVEF dapat bervariasi tergantung pada usia, jenis kelamin, dan etnis. Jadi, nilai yang dianggap normal dan sehat bagi satu orang belum tentu sama bagi orang lain.

“LVEF telah menjadi kriteria utama yang menentukan kelayakan partisipasi dalam uji klinis gagal jantung selama beberapa dekade. Akan tetapi, ambang batas LVEF yang digunakan dalam Universal Definition of Heart Failure (Definisi Universal Gagal Jantung) yang pertama bersifat arbitrer (tidak didasarkan pada standar baku yang mutlak),” tulis Walsh dan rekan-rekannya dalam dokumen konsensus mereka.

Berbagai organisasi kardiovaskular terkemuka dari Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat kini telah bekerja sama untuk merumuskan definisi yang telah direvisi.

Walsh mengakui bahwa kondisi gagal jantung dapat berubah seiring waktu, terlepas dari nilai fraksi ejeksinya.

Sebagai contoh, sekadar memiliki angka EF di atas ambang batas tertentu tidak berarti kondisi jantung pasien sudah aman.

Fungsi kardiovaskular mereka secara keseluruhan mungkin masih berada dalam kisaran yang tidak sehat, dan mereka mungkin tetap mendapat manfaat dari penggunaan obat-obatan yang dapat mengurangi beban kerja jantung.

Konsensus baru ini juga memperkenalkan daftar lengkap mengenai berbagai kemungkinan penyebab gagal jantung.

Penyempitan arteri atau iskemia, merupakan faktor risiko umum di negara-negara Barat, namun di negara lain, terdapat penyebab-penyebab utama yang selama ini sering terabaikan.

“Sejak masa kuliah kedokteran dulu, klasifikasi yang umum kami gunakan hanyalah jenis non-iskemik dan iskemik. Kita tahu ada begitu banyak penyebab gagal jantung yang berbeda. Oleh karena itu, menurut saya, kami telah menyusun daftar yang cukup komprehensif mengenai kategori penyebab yang sebaiknya kita gunakan sebagai acuan definisi,” papar Walsh.

Konsensus baru ini mengusulkan 18 kategori penyebab. Kategori-kategori ini bukanlah pedoman klinis formal, namun bertujuan memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai beragam manifestasi dan penyebab gagal jantung.

Beberapa penyebab yang tercantum meliputi penyempitan atau penyumbatan arteri, hipertensi, penyakit katup jantung, aritmia, infeksi, peradangan, kelainan genetik, kondisi metabolik atau nutrisi, kehamilan, stres ekstrem, dan pengobatan kanker.

Hasil studi ini telah dimuat di jurnal ilmiah Circulation, yang selengkapnya dapat diakses di sini.

Analisis terbaru menunjukkan bahwa hampir 85 persen individu dengan gagal jantung memiliki setidaknya satu faktor risiko yang dapat diobati atau dimodifikasi, yang tercatat dalam kurun waktu lima tahun sebelum diagnosis mereka.

Jika dokter dapat mengategorikan penyebab gagal jantung dengan lebih baik, mereka mungkin dapat memberikan perawatan yang lebih tepat sasaran kepada pasien, serta lebih dini.

Walsh menyatakan bahwa pedoman di masa mendatang yang didasarkan pada definisi universal baru tersebut, sedang dalam tahap penyusunan. (rus)

Exit mobile version