KABARIKA.ID, MAKASSAR — Saat ini terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa mengonsumsi daging dalam jumlah lebih banyak, terutama daging merah dan daging olahan, meningkatkan risiko terkena kanker.
Namun, tidak semua kumpulan data penelitian menunjukkan adanya hubungan tersebut, sehingga para peneliti berupaya mencari kejelasan lebih lanjut, khususnya terkait jenis kanker tertentu.
Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam International Journal of Cancer dan disusun oleh tim peneliti internasional, mengkaji lebih dalam hubungan antara konsumsi daging dengan kanker lambung (gastric cancer) serta kanker kerongkongan (esophageal cancer) jenis adenokarsinoma, yaitu kanker yang bermula pada sel-sel kelenjar.
Kasus adenokarsinoma kerongkongan (EAC), khususnya, mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, dan kanker kerongkongan secara keseluruhan kini menempati peringkat ke-11 sebagai kanker yang paling umum terjadi di dunia.
Kanker lambung (GC) bahkan lebih umum lagi, menempati peringkat ke-5 dalam daftar tersebut.
Tim peneliti menganalisis data dari 450.112 orang yang berpartisipasi dalam sebuah proyek penelitian kesehatan jangka panjang. Data tersebut mencakup informasi rinci mengenai pola makan dan kasus kanker.
Para partisipan dipantau selama rata-rata 14,1 tahun, dan ditemukan korelasi yang jelas, serta beberapa hasil yang tak terduga.
Mereka yang mengonsumsi daging olahan sebanyak 30 gram per hari, ditemukan 876 kasus kanker lambung (GC), dan 215 kasus kanker adenokarsinoma kerongkongan (EAC).
“Asupan daging olahan yang lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker lambung, terutama kanker lambung tipe intestinal, dan adenokarsinoma esofagus,” tulis para peneliti dalam makalah yang telah diterbitkan.
Studi ini memberikan bukti baru terkait pencegahan kanker lambung dan esofagus yang berhubungan dengan konsumsi daging.
Berdasarkan perhitungan para peneliti, penambahan konsumsi daging olahan sebanyak 30 gram per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker lambung sebesar 9 persen dan peningkatan risiko adenokarsinoma esofagus sebesar 13 persen.
Studi ini juga menganalisis daging merah dan daging putih yang tidak diolah secara terpisah, dan analisis tersebut menghasilkan temuan yang menarik.
Pertama, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara daging merah yang tidak diolah dengan jenis-jenis kanker spesifik tersebut.
Kedua, peningkatan konsumsi daging putih sebanyak 20 gram per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker pada bagian bawah dan tengah lambung sebesar 20 persen pada wanita. Para peneliti tidak menemukan hubungan serupa pada pria.
Para peneliti menduga ada beberapa faktor yang berperan di sini, termasuk efek karsinogenik dari zat kimia yang muncul saat memasak serta produk sampingan dari proses tubuh memecah protein (yang banyak terkandung dalam daging putih).
Namun, studi ini lebih berfokus untuk menemukan adanya kaitan tersebut daripada menjelaskannya secara mendalam.
“Meskipun daging putih sering dianggap lebih sehat dibandingkan daging merah atau daging olahan, potensi peningkatan risiko kanker akibat metabolisme protein, perubahan mikrobiota, dan metode memasak perlu diteliti lebih lanjut,” tulis para peneliti.
Ada banyak jalur potensial lain yang menghubungkan daging olahan dengan kanker yang sudah kita ketahui, sehingga temuan ini tidak terlalu mengejutkan.
Sebagai contoh, zat kimia yang terbentuk saat mengonsumsi daging merah dapat merusak DNA dan meningkatkan stres oksidatif pada sel, yang pada gilirannya meningkatkan kemungkinan berkembangnya kanker.
“Untuk daging olahan, metode pengolahan dan penyimpanan juga merupakan faktor penting yang dapat meningkatkan risiko GC (kanker lambung) dan EAC (adenokarsinoma esofagus),” tulis para peneliti.
“Dalam konteks ini, konsumsi daging olahan berkontribusi pada asupan garam yang lebih tinggi. Garam diketahui dapat mengiritasi mukosa lambung serta memicu kerusakan dan peradangan lambung yang signifikan,” menurut hasil studi tersebut.
Meskipun periode pemantauan yang panjang dan jumlah partisipan yang besar menjadi kekuatan utama studi ini, namun penelitian ini sendiri tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat.
Hasil studi ini telah diterbitkan dalam jurnal International Journal of Cancer, yang selengkapnya dapat diakses di sini.
Kebiasaan mengonsumsi daging hanya diperiksa satu kali di awal penelitian, sehingga pola tersebut mungkin saja berubah selama tahun-tahun berikutnya.
Namun, terlepas dari keterbatasan tersebut, dan jika kita mempertimbangkan pula informasi dari berbagai studi sebelumnya, bukti yang merugikan dari daging olahan semakin kuat.
“Daging olahan dapat meningkatkan risiko GC dan EAC, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperjelas dampak konsumsi daging putih,” tulis para peneliti.
“Studi di masa mendatang sebaiknya mengungkap mekanisme yang mendasarinya dan memberikan informasi bagi pedoman pola makan untuk mengurangi risiko kanker,” kata para peneliti.

