KABARIKA.ID, MAKASSAR — Otak perempuan mengalami perubahan tak terduga saat memasuki masa transisi menuju menopause.
Menyusutnya materi abu-abu (gray matter) di otak secara bertahap seiring bertambahnya usia, merupakan hal yang sangat wajar.
Namun, saat menopause tiba, proses penuaan normal otak tampaknya mengalami perubahan sementara.
Sebuah studi pemindaian otak pertama yang meneliti hal ini menemukan bahwa ketika transisi menopause dimulai, hilangnya volume kortikal secara bertahap, yang biasanya terjadi seiring penuaan, justru melambat secara misterius.
Belum ada yang mengetahui penyebab pastinya.
“Yang mengejutkan, perubahan materi abu-abu di seluruh bagian otak belum pernah diteliti selama masa transisi menopause sebelumnya, jadi kami pun melakukannya,” kata Sophie van ‘t Hof, ahli saraf kognitif dari Amsterdam University Medical Center di Belanda, yang juga penulis utama studi ini.
Van ‘t Hof dan rekan-rekannya melakukan pemindaian otak berulang kali terhadap lebih dari 1.000 partisipan pada berbagai tahapan kehidupan, termasuk mereka yang sedang mengalami pubertas, serta mereka yang berada pada masa sebelum dan sesudah kehamilan maupun menopause.
Setiap fase kehidupan disertai dengan perubahan otak yang khas.
Sebagai contoh, selama masa pubertas dan kehamilan, hilangnya materi abu-abu kortikal justru berlangsung lebih cepat.
Pemindaian otak menunjukkan adanya penurunan volume yang luas selama fase-fase transisi kehidupan yang krusial ini.
Hal itu mungkin terdengar mengkhawatirkan, namun sebenarnya menandakan bahwa otak sedang melakukan reorganisasi terhadap jaringan yang jumlahnya terbatas itu demi menghadapi fase kehidupan yang baru.
Menopause memiliki karakteristik yang berbeda.
Kondisi ini menunjukkan pola perubahan otak yang khas dan justru bertolak belakang dengan apa yang terjadi pada masa pubertas dan kehamilan.
Saat transisi menuju menopause baru dimulai, penurunan alami pada total volume korteks dan materi abu-abu otak secara mengejutkan terhenti.
“Dengan kata lain, menopause tidak didefinisikan oleh apa yang berubah, melainkan oleh apa yang tidak berubah,” tulis van ‘t Hof.
Selama masa pubertas dan kehamilan, tubuh perempuan mengalami perubahan hormonal yang drastis, terutama lonjakan kadar estrogen dan progesteron yang dapat berikatan dengan reseptor di otak.
Pada masa ini, hilangnya materi abu-abu kortikal juga berlangsung lebih cepat.
Namun, ketika menopause dimulai, kadar hormon steroid seks menurun, dan laju hilangnya materi abu-abu pun ikut melambat atau berhenti.
Mungkin kedua perubahan yang terjadi secara bersamaan ini saling berkaitan.
Akan tetapi, untuk saat ini, hal tersebut masih sebatas spekulasi. Pemindaian otak hanya dapat mengungkap adanya hubungan antara volume neurologis dan berbagai tahapan kehidupan.
Pemindaian tersebut tidak dapat menunjukkan apakah perubahan hormonal yang menyebabkan perubahan struktur otak, atau justru sebaliknya.
Dalam penelitian ini, para partisipan melaporkan sendiri tahapan menopause yang mereka alami, dan kadar hormon mereka tidak diukur.
Meski demikian, pemindaian otak dilakukan berulang kali selama beberapa tahun, yang memperkuat hasil penelitian tersebut.
Pada awal penelitian, beberapa partisipan belum memasuki masa menopause, namun pada akhir penelitian, mereka telah mengalaminya.
Dalam hasil pemindaian otak, kelompok transisi ini tidak menunjukkan penurunan materi abu-abu yang sama seperti yang dialami oleh wanita yang berada dalam fase pramenopause sepanjang penelitian, ataupun mereka yang sudah pascamenopause sejak awal hingga akhir penelitian.
Hasil ini tetap konsisten terlepas dari usia seseorang, penggunaan terapi penggantian hormon, maupun jumlah anak yang mereka miliki.
Pola otak mereka sebagian besar tetap sama.
Selama masa transisi menopause, perubahan cenderung terjadi pada bagian-bagian otak yang diketahui dipengaruhi oleh estrogen, meskipun reseptor estrogen tersebar luas di seluruh otak.
Hal tersebut merupakan sebuah petunjuk, namun dalam konferensi pers mengenai hasil penelitian ini, van ‘t Hof menyatakan bahwa implikasi pastinya sangat sulit untuk diuraikan pada tahap ini.
Saat ini, hanya sedikit informasi yang diketahui mengenai bagaimana menopause memengaruhi otak manusia.
Dalam penelitian ilmu saraf (neuroscience), hanya 2 hingga 6 persen studi yang dilakukan secara eksklusif pada subjek perempuan, dan kurang dari 5 persen yang memperlakukan jenis kelamin sebagai variabel analisis.
Hanya ada satu studi pemindaian otak longitudinal lain yang pernah meneliti transisi menopause, dan studi tersebut berfokus secara khusus pada hipokampus, bagian otak yang berperan dalam ingatan dan pembelajaran.
Studi tahun 2018 tersebut menemukan bahwa hilangnya materi abu-abu pada hipokampus terjadi lebih cepat selama masa transisi menuju menopause.
Penelitian saat ini menemukan hasil yang berbeda.
Menurut para peneliti, hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya peredaman terhadap penurunan fungsi terkait usia selama masa transisi menuju menopause.
Meskipun mereka menambahkan bahwa interpretasi ini harus dianggap sebagai temuan awal.
Hasil studi ini telah dimuat dalam jurnal Nature Communications yang terbit pada awal September ini, dengan judul: Puberty, pregnancy, and menopause show shared and distinct structural changes across the lifespan. Artikel selengkapnya dapat diakses di sini.
Untuk saat ini, mereka menyimpulkan bahwa menopause tampaknya menunjukkan tingkat plastisitas otak yang khas.
Apa dampaknya bagi otak wanita seiring bertambahnya usia, masih menjadi misteri. (rus)

