KABARIKA.ID, JAKARTA — Osteoporosis membuat tulang menjadi lebih rapuh dan mudah patah. Kondisi ini sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, tetapi risiko patah tulang dapat meningkat, terutama ketika seseorang mengalami benturan atau terjatuh.
Karena itu, penderita osteoporosis perlu lebih berhati-hati dalam memilih aktivitas sehari-hari. Bukan berarti harus berhenti bergerak, tetapi beberapa kegiatan sebaiknya dihindari atau dilakukan dengan modifikasi agar tidak memberikan tekanan berlebihan pada tulang.
Berikut sejumlah aktivitas yang perlu diperhatikan:
1. Mengangkat beban terlalu berat
Mengangkat barang berat, terutama dengan posisi tubuh yang salah, dapat memberikan tekanan besar pada tulang belakang.
Penderita osteoporosis sebaiknya tidak memaksakan diri mengangkat benda berat. Jika harus mengambil atau memindahkan barang, gunakan teknik yang benar dan minta bantuan bila beban terlalu berat.
2. Membungkuk atau memutar tubuh secara tiba-tiba
Gerakan membungkuk dalam atau memutar pinggang secara mendadak dapat meningkatkan tekanan pada tulang belakang.
Aktivitas seperti mengangkat barang dari lantai sambil membungkuk atau memutar badan secara tiba-tiba sebaiknya dihindari.
3. Olahraga dengan risiko benturan tinggi
Olahraga yang melibatkan benturan keras atau risiko terjatuh, seperti sepak bola, basket, ski, atau olahraga bela diri, dapat meningkatkan risiko cedera dan patah tulang.
Jenis olahraga yang aman sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tulang dan kemampuan masing-masing orang.
4. Gerakan melompat berulang kali
Aktivitas seperti lompat tali atau latihan dengan banyak gerakan melompat dapat memberikan tekanan pada tulang dan persendian.
Pada penderita osteoporosis dengan risiko patah tulang tinggi, aktivitas semacam ini sebaiknya tidak dilakukan tanpa arahan tenaga kesehatan.
5. Mengabaikan risiko jatuh
Jatuh merupakan salah satu risiko terbesar bagi penderita osteoporosis. Karena itu, aktivitas yang meningkatkan kemungkinan kehilangan keseimbangan perlu mendapat perhatian.
Berhati-hatilah saat naik turun tangga, berjalan di permukaan licin, atau menggunakan kamar mandi. Pastikan area rumah memiliki pencahayaan yang cukup dan bebas dari benda yang dapat membuat tersandung.
6. Latihan fisik tanpa memperhatikan kondisi tubuh
Olahraga tetap penting bagi penderita osteoporosis. Namun, latihan yang terlalu berat atau dilakukan tanpa teknik yang tepat justru dapat meningkatkan risiko cedera.
Sebaiknya pilih latihan yang sesuai dengan kondisi tulang. Latihan kekuatan, keseimbangan, dan aktivitas fisik yang menopang berat badan dapat menjadi bagian dari program olahraga, tetapi jenis dan intensitasnya perlu disesuaikan.
7. Memaksakan aktivitas ketika tubuh terasa sakit
Rasa nyeri, terutama nyeri punggung yang muncul setelah melakukan aktivitas tertentu, tidak sebaiknya diabaikan.
Jika muncul nyeri yang tidak biasa, sebaiknya hentikan aktivitas dan konsultasikan dengan dokter. Pada penderita osteoporosis, nyeri punggung yang muncul tiba-tiba juga perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan cedera atau patah tulang belakang.
Tetap Aktif, tetapi Harus Aman
Penderita osteoporosis bukan berarti harus banyak berdiam diri. Justru, tetap aktif secara fisik penting untuk membantu menjaga kekuatan otot, keseimbangan, dan fungsi tubuh.
Kuncinya adalah memilih aktivitas yang aman dan menghindari gerakan yang memberikan tekanan berlebihan pada tulang atau meningkatkan risiko jatuh.
Bagi penderita osteoporosis, jenis olahraga dan aktivitas sehari-hari idealnya disesuaikan dengan tingkat kepadatan tulang, usia, kondisi kesehatan, serta riwayat patah tulang. Konsultasi dengan dokter atau fisioterapis dapat membantu menentukan aktivitas yang sesuai. (*)

