KABARIKA.ID, MAKASSAR — Sudah 20 tahun berlalu sejak para peneliti Australia menciptakan vaksin pertama di dunia yang dikembangkan secara khusus untuk mencegah kanker.
Berkat vaksin HPV, Australia kini berada di jalur yang tepat untuk menjadi salah satu negara pertama di dunia yang berhasil mengeliminasi kanker serviks.
Kini, penelitian yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Australia telah mencapai terobosan baru, kali ini untuk kanker kulit.
Vaksin kanker berbasis mRNA yang dipersonalisasi telah berhasil dalam uji klinis fase 3, dengan mengurangi risiko kekambuhan atau kematian akibat melanoma sebesar 42 persen dibandingkan dengan imunoterapi standar saja.
Hasil ini bahkan melampaui ekspektasi para ilmuwan.
Peneliti utama global, pakar onkologi medis Georgina Long dari Melanoma Institute Australia (MIA), memaparkan hasil tersebut dalam Kongres European Society for Medical Oncology, yang berlangsung tanggal 23-27 Oktober 2026 di Madrid, Spanyol.
Hasil penelitian ini dijadwalkan terbit dalam jurnal New England Journal of Medicine dalam waktu dekat.
“Temuan ini menandai perubahan mendasar dalam pendekatan kita terhadap kanker: memanfaatkan sistem kekebalan tubuh dengan cara yang lebih personal untuk mengurangi risiko kekambuhan atau kematian akibat melanoma,” ujar Long.
“Hal ini belum pernah dicapai sebelumnya dalam sejarah pengembangan obat kanker,” tandas Long.
Pakar onkologi medis Robert Vonderheide, presiden terpilih American Association for Cancer Research (tidak terlibat dalam uji coba ini) mengatakan kepada The New York Times bahwa hasil uji coba tersebut termasuk ke dalam kategori terobosan terbesar kita.
Vaksin mRNA ini dikembangkan oleh Moderna dan Merck, serta dirancang untuk mencegah kembalinya melanoma setelah operasi.
Pertama, para peneliti melakukan pengurutan (sekuensing) terhadap tumor dari setiap pasien, lalu menentukan apa yang membedakan ‘sidik jari’ tumor tersebut dari sel-sel sehat lainnya di dalam tubuh.
Vaksin yang dibuat berdasarkan informasi tersebut pada dasarnya menciptakan wanted poster (seperti poster orang dicari) yang dipersonalisasi untuk sistem kekebalan tubuh pasien itu sendiri.
“Vaksin ini diberikan dalam bentuk mRNA, sehingga sel-sel tubuh pasien menampilkan ‘poster’ tersebut pada sistem kekebalan tubuh, yang menunjukkan dengan tepat apa yang harus diwaspadai dan diserang,” papar Long.
Obat ini bekerja bersamaan dengan imunoterapi yang sudah ada, yaitu keytruda (pembrolizumab).
“Kanker dapat mengelabui sistem kekebalan tubuh dengan berpura-pura melakukan ‘jabat tangan yang ramah’, sehingga sistem kekebalan tubuh menganggap sel kanker tersebut sebagai sel normal,” ujar Long.
“Pembrolizumab menghalangi ‘jabat tangan’ tersebut, sehingga sel-sel kekebalan tubuh dapat mengenali kanker dan menyerangnya, namun, obat ini bersifat sama untuk setiap orang,” tambah Long.
Personalisasi pengobatan yang digunakan bersamaan dengan pembrolizumab terbukti meningkatkan hasil terapi.
Uji klinis fase 3 ini melibatkan lebih dari 1.100 pasien dari 157 lokasi di seluruh dunia, dan hasilnya memperkuat temuan mengesankan dari uji klinis fase 2 yang dipublikasikan pada tahun 2024.
Bagi pasien yang tetap bebas kanker enam bulan setelah memulai pengobatan, risiko kekambuhan melanoma atau kematian berkurang sebesar 58 persen dibandingkan dengan penggunaan pembrolizumab saja.
Vaksin mRNA ini belum tersedia bagi pasien di Australia maupun Amerika Serikat, namun hasil penelitian tersebut telah memasuki proses peninjauan oleh pihak regulator.
Hal itu mungkin memakan waktu beberapa tahun, tergantung pada negaranya.
Di Australia, yang memiliki salah satu tingkat melanoma tertinggi di dunia, satu orang meninggal dunia akibat kanker ini setiap 6 jam.
Vaksin yang mampu mencegah kanker muncul kembali dapat menyelamatkan banyak nyawa. Bukan hanya kanker kulit yang bisa mendapatkan manfaat dari teknologi mRNA.
“Dengan keberhasilan pada kasus melanoma, bukti konsep ini dapat menandai awal dari perubahan mendasar dalam cara kita menangani kanker, sehingga membantu pasien untuk tetap bebas kanker dalam waktu yang lebih lama,” ujar Long.
Alex Menzies, seorang onkolog medis di MIA, sependapat. “Harapannya di masa depan, pendekatan ini tidak hanya dapat memperbaiki hasil pengobatan bagi pasien melanoma stadium lanjut, tetapi juga bagi pasien dengan jenis kanker lain yang saat ini kurang merespons imunoterapi,” jelas Menzies.
Gagasan ini memang menarik, namun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Belakangan ini, beberapa uji coba acak yang menguji vaksin mRNA untuk kanker kolorektal serta kanker kepala dan leher gagal dalam mencegah kekambuhan.
Kondisi tersebut membuat hasil-hasil terbaru ini menjadi jauh lebih penting.
“Uji coba INTerpath-001 menunjukkan bahwa pengobatan yang dirancang berdasarkan karakteristik unik tumor pasien, dikombinasikan dengan imunoterapi penghambat pos pemeriksaan (checkpoint inhibitor), dapat mempertajam sistem kekebalan tubuh untuk mendeteksi dan memusnahkan sel-sel kanker yang tersisa,” jelas Long.
“Sama seperti surel (email) yang mengubah cara kita berkomunikasi, terapi neoantigen yang dipersonalisasi memiliki potensi untuk mengubah cara kita menangani kanker,” tandas Long. (rus)

