Site icon KABARIKA

Misteri Medis: Ternyata Diabetes Bisa Menjadi Kunci dalam Mengobati Kanker Utama

KABARIKA.ID, MAKASSAR — Sebuah hasil penelitian terbaru mengungkapkan fenomena baru yang merupakan misteri di dunia medis. Para ilmuwan menemukan bahwa diabetes mungkin menyimpan petunjuk untuk mengobati kanker kulit, payudara, dan usus besar.

Kondisi kesehatan kronis tersebut selama ini dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terhadap penyakit lain, termasuk kanker.

Namun, menurut American Association of Immunologists, kadar gula darah tinggi yang merupakan penanda diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, ternyata bisa memberikan efek perlindungan terhadap jenis tumor tertentu.

Mereka menemukan bahwa kadar gula darah tinggi, atau hiperglikemia, memprogram ulang sel-sel kekebalan tubuh untuk membasmi tumor atau menghambat pertumbuhannya.

Meski begitu, ini bukan berarti penderita diabetes tidak perlu lagi berupaya mengendalikan penyakit mereka demi menurunkan risiko kanker.

Sebaliknya, para peneliti menyatakan bahwa temuan mereka, yang telah diterbitkan dalam The Journal of Immunology, dapat membantu pengembangan pengobatan untuk melawan tumor.

Dr. Anamika Bose, asisten profesor di National Institute of Pharmaceutical Education and Research, India. (Foto: niper.gov.in)

Dr. Anamika Bose, asisten profesor di National Institute of Pharmaceutical Education and Research, India, sekaligus penulis senior studi tersebut, mengatakan bahwa temuan mereka membuka berbagai jalur penelitian untuk imunoterapi kanker jenis baru.

“Temuan kami membuka berbagai jalur penelitian untuk imunoterapi kanker jenis baru. Kami dapat menerapkan perubahan yang teramati pada sel T (sejenis sel kekebalan tubuh) milik pasien diabetes tipe 1, lalu meniru perubahan sel tersebut dalam metode pengobatan baru bagi semua pasien,” ujar Dr. Bose.

Diabetes tipe 1 lebih jarang terjadi dibandingkan diabetes tipe 2, meskipun keduanya ditandai dengan kadar gula darah yang terlalu tinggi akibat masalah pada hormon insulin, yang berfungsi untuk mengendalikan kadar gula darah.

Diabetes tipe 1 merupakan kondisi autoimun yang sering didiagnosis pada masa kanak-kanak dan dialami oleh 8 persen penderita diabetes. Kondisi ini terjadi karena tubuh sama sekali tidak dapat memproduksi insulin.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penderita diabetes tipe 1 memiliki risiko lebih rendah terhadap jenis kanker tertentu, namun alasan di balik hal ini masih menjadi misteri.

Data baru dari studi pada tikus kini menunjukkan bahwa fenomena tersebut mungkin disebabkan oleh perubahan pada sel kekebalan tubuh, yang disebut sel T, akibat hiperglikemia (kadar gula darah tinggi).

Diabetes Tipe 1 vs Diabetes Tipe 2

Terdapat dua jenis utama diabetes, suatu kondisi yang menyebabkan kadar gula darah seseorang menjadi terlalu tinggi.

Diabetes tipe 1 adalah kondisi seumur hidup di mana sistem kekebalan tubuh menyerang dan menghancurkan sel-sel yang memproduksi hormon insulin.

Kondisi ini dialami oleh sekitar 344.000 orang di Inggris.

Di sisi lain, diabetes tipe 2 jauh lebih umum terjadi. Jenis ini mencakup lebih dari 90 persen dari 4,4 juta orang dewasa penderita diabetes.

Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak memproduksi cukup insulin, atau sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik.

Tidak ada perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko diabetes tipe 1.

Namun, risiko terkena diabetes tipe 2 bisa lebih tinggi jika Anda kelebihan berat badan atau obesitas, memiliki pola makan yang tidak sehat, memiliki riwayat keluarga dengan kondisi tersebut, mengonsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, memiliki tekanan darah tinggi, atau pernah mengalami diabetes gestasional selama kehamilan.

Orang yang berasal dari latar belakang Asia, Afrika, atau Afrika-Karibia juga memiliki risiko yang lebih tinggi.

Para peneliti mengamati bahwa tumor pada tikus dengan hiperglikemia, kondisi yang dapat terjadi pada diabetes tipe 1 yang tidak diobati, tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan tikus diabetes yang menerima insulin maupun tikus dengan kadar gula darah normal.

Mereka kemudian menemukan bahwa hiperglikemia memprogram ulang sel T agar lebih efektif dalam mengendalikan pertumbuhan tumor.

Tikus dengan hiperglikemia memiliki jumlah sel T yang lebih banyak, yang juga lebih piawai dalam melawan tumor.

Menurut para peneliti, hal ini terjadi karena kadar gula darah yang tinggi memicu peningkatan jumlah sel imun inflamatori di dalam tubuh, yang secara tidak langsung turut membantu melawan kanker.

Namun, ketika tikus diabetes tipe 1 diberi insulin untuk mengendalikan kadar gula darahnya, sel T mereka kehilangan kemampuan yang telah meningkat tersebut dalam melawan kanker.

Tim peneliti kemudian membandingkan sel T dari tikus hiperglikemik dengan sel T dari tikus diabetes yang menerima insulin serta tikus dengan kadar gula darah normal, guna mengidentifikasi perubahan yang membuat sel-sel tersebut mampu melawan tumor.

Mereka menemukan bahwa sel T yang melawan kanker lebih sering menggunakan jalur sinyal seluler tertentu, sebuah mekanisme di mana sel mengirimkan zat kimia sebagai sinyal ke sel lain.

Jalur ini berperan dalam membuat sel T menjadi jauh lebih tangguh dalam menyerang tumor.

Para peneliti menyatakan bahwa jalur ini dapat menjadi kunci dalam pengembangan pengobatan kanker baru yang mampu meniru peningkatan kemampuan tersebut.

Setelah mengamati perbedaan pada tikus, para peneliti juga mencari perubahan serupa pada manusia.

Mereka menemukan bahwa jalur sinyal yang sama juga mengalami peningkatan pada sel-sel imun yang diambil dari darah penderita hiperglikemia.

“Temuan ini sangat menarik, karena kini kita mulai memahami bagaimana diabetes tipe 1 dapat memberikan perlindungan terhadap jenis kanker tertentu,” jelas Dr. Bose.

“Pemahaman baru mengenai keterlibatan jalur sinyal spesifik ini membuka peluang bagi kita untuk mengembangkan imunoterapi berbasis sel T bagi pasien kanker,” tandas Dr. Bose.

Pengobatan ini mungkin serupa dengan terapi sel T CAR (CAR T-cell therapy), yakni sejenis imunoterapi yang memprogram ulang sel darah putih pasien untuk memburu dan menghancurkan sel-sel kanker.

Menderita diabetes tipe 2 dapat meningkatkan risiko Anda terkena jenis kanker tertentu, termasuk kanker kerongkongan, usus, payudara, rahim, dan ginjal.

Hal ini dikarenakan kedua penyakit tersebut memiliki faktor risiko yang serupa, seperti obesitas dan usia lanjut.

Faktanya, diperkirakan satu dari lima pasien kanker mengidap diabetes.

Meskipun hiperglikemia tampaknya dapat memacu sel kekebalan tubuh untuk melawan tumor, diabetes tipe 1 justru dapat meningkatkan kemungkinan Anda terkena jenis kanker lainnya.

Ini mencakup kanker hati, pankreas, ginjal, dan lambung. (rus)

Exit mobile version